HUJAN rain-outside-windows-villa_1321-908 - Terkait Tampilan penuh

HUJAN

Puisi-Puisi Shela Kusumaningtyas dan Ananda Saiful Bahri

 

Tinggal

Oleh: Shela Kusumaningtyas

 

Aku ingin mengais

Dari serak-serak yang terpendam di tanah Jogja

Karena ada yang tanggal dari yang tertinggal

Dekap kota ini membuatku dungu

Melemah di hadapan debur ombak yang memecah

 

 

Dua Manusia yang Kecewa

Oleh: Shela Kusumaningtyas

 

mereka terhimpit di masa sulit

terperangkap dalam penyangkalan yang membelit

hingga mencekat suara yang ingin berkelit

perhitungan semakin sengit

soal untung rugi melawan pelit

 

perasaan memang senjata

kerap bergerilya merekrut anggota

dan membuat orang-orang gagap terbata

menjadikan orang meraba buta

tak semuanya berani bercerita

perasaan menyulap jelata jadi jelita

yang menyekap lebur kosakata

hingga masing-masing memilih terlunta

 

 

Hujan

Oleh: Shela Kusumaningtyas

 

hujan membungkam desir yang hanya tertahan

lalu kami saling menghambur perlahan

berteduh di rindangnya

 

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri saya sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan

jalan-jalan. Menulis menjadi sarana saya untuk mengabadikan berbagai hal. Menulis juga melatih

saya untuk mengerti arti konsistensi dan pantang menyerah. Tulisan saya seperti puisi, opini, dan

feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Detik, Kompas, Suara Merdeka,

Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan

Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah.

 

 

 

dunia seni

Oleh: Ananda Saiful Bahri

 

dunia ini cukup luas. sekitar duaribu juta orang-orang menyakiti dan

membiayai lukanya sendiri. baik dengan cara yang sederhana atau solusi

prostitusi. kalau-kalau online merantau. hukuman dibuat jalan. jauh lebar

tinggi besar malam hari siang ilusi. miris. dari saking luasnya daun kelor

dibawabawa. oh Tuhan, dunia ini luas sekali; luas seninya, luas pula sedih

lukanya: ada seni patah hati. ada seni mencintai. yang menarik adalah seni

lupa diri tersebab seni kawin lagi. itulah dunia seni yang dapat saya sampaikan

hari ini pada waktu. selebihnya silakan anda melukai, tanpa dilukai (sb) ***

 

2018

 

 

puisi bunuh diri

Oleh: Ananda Saiful Bahri

 

pesta dimulai. sehari sebelum puisi bunuh diri, sepi jauh di ubun waktu,

setidaknya ada masa yang terkesan vulgar mania, "mari ngobrol, daun.

mumpung hari masih jomblo," ucap hari membawa luka berlumur dosa

 

kerap sepi tinggal di taman dekat mata perasaan, banyak pohon yang

bertanya daun dekat dengan siapa? sebagai daun lirih kujawab jauh di

masa dirindukan tapi dekat kerinduan. tertanggal puisi sepi bunuh diri.

 

2018

 

 

Antologi Hujan di Sungai

Oleh: Ananda Saiful Bahri

 

srrr. memoar pesta ikan di sungai.

mengulum skenario sajak derita

yang menganga. apapun naskah

hatinya ia pandai mengatur luka

 

kabut dan aku ingin memperingati

hari sepi nasional. dikirimnya alur

cerita. ditujukan mata hujan pada

mulut ikan di sungai. srrr. satu dua

keinginan kabut, barangkali demi

mengatur jalannya pesta kerinduan

dan bebas dari arus masa kesepian.

 

iga waktu tanggal mengantar kabut



rasa yang tertinggal—sebagai hujan

aku reda di musimnya—hingga

musim jadi masa memilih doa jadi kita

 

2018

 

Saiful Bahri, kelahiran Sumenep-Madura, O5 Februari 1995. Ia mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak. Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity) adalah organisasinya yang digeluti saat ini, ada pula Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama) dan pengasuh di grup (Kampus Literasi). Disela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Esai, Resensi Opini, dll. Tulisannya pernah dimuat di koran lokal maupun nasional dan beberapa buku antologi antara lain Antologi HPI Riau Kunanti di Kampar Kiri (2018), Antologi Puisi Masa Lalu (2018), Antologi Puisi Internasional Jejak Hang Tuah (2018), Antologi Banjar Baru Rainy Days (2018). Antologi Puisi untuk Lombok- Apajake (2018) serta Buku Puisi: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

 

Foto: <a href=”https://www.freepik.com/free-photos-vectors/pattern”>Pattern photo created by Kireyonok_Yuliya – www.freepik.com</a>

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.