Topbar widget area empty.
SENJA MERAPUH Senja Merapuh Tampilan penuh

SENJA MERAPUH

Oleh: Triana Rahayu

 

 

SEJAK pertamakali kusesatkan diriku di tempat ini, langit sudah sehitam jelaga. Tak kutemukan bias senja merona jingga di ujung cakrawala, walau hanya setitik siluet mempesona netra. Cericau camar-camar putih yang biasa menyesaki angkasa juga tak terdengar gaungnya. Yang ada, hanya debur ombak menampar-nampar karang, serta lambaian nyiur yang tak seramah biasa.

 

Sempat kutemukan sepasang kelomang keluar dari balik karang, berlari mendekat seperti ingin menyapa. Namun, gulungan ombak dengan cepat menyeretnya kembali ke lautan,  sebelum sempat meninggalkan kesan.

 

Kelam!  Hanya sketsa itu yang tersisa di tubir pantai ini. Namun, takkan kutinggalkan senja muram ini sendirian. Telah kubenamkan kakiku pada bekapan pasir-pasir basah dengan satu keputusan.  Akan kulewatkan sisa hariku berdua. Hanya aku dan senja. Saling menatap, saling menghibur, sebelum malam membenamkan kami.

 

 

SETARIK nafasku kini hanya tinggal sisa sengal yang tertahan. Menyeretku pada sepotong kisah. Seperti ombak menyeret pasir-pasir basah.

 

Andai tak kubiarkan diriku hanyut pada tumpukan pekerjaan hingga larut, malam itu. Andai aku tak berdiri sendirian di halte yang  gelap itu. Andai saja malam itu tidak turun hujan. Kukatup mataku kuat-kuat geram. Andai saja malam itu tidak pernah ada!

 

Ribuan sesal yang mendera batinku, berhenti pada satu kesadaran total, tentang adanya takdir. Tak mungkin kuubah semua detak yang telah bergulir dan mengukir sebuah kisah. Sekuat apapun kucoba menyingkir, detik takkan pernah bergerak mundur.

 

Redup lampu jalan yang menerangi malam itu masih berpendar terang diingatanku. Dingin rintik hujan yang membasahi bumi masih tercerap kuat dalam pori-pori kulitku. Bahkan, harum aspal basah masih tercium segar dalam tarikan nafasku. Sedetikpun jejak-jejak kehancuran itu tak pernah sirna dari lokus pikiranku. Mengikuti kemana, dan dimanapun aku berada, seperti bayangan.

 

Betapa ingin kucincang semua bayangan itu seperti sepotong daging dalam caseroole sarapan pagiku. Menyeruput tanpa sisa berharap ia hanya bayangan hitam dalam secangkir kopi di meja kerja. Atau…, membuangnya  ke dalam tong sampah, seperti setangkai mawar putih yang selalu mampir di meja kerjaku, setiap pagi, dari seorang sahabat yang cintanya tak pernah kuanggap. Namun, aku tak berdaya. Tak mampu berbuat apa-apa.

 

Semua terjadi begitu cepat. Sekelebat tanpa sinyal yang bisa kutangkap. Bahkan desir angin yang berembus kencang malam itu tak sempat memberi tanda. Hidup yang tak ramah akan menyentuhku  malam itu. Baru kusadari aku tak sendiri di halte sepi dan gelap itu, saat sebuah tangan kokoh dan dingin mendekap tubuhku dari belakang. Begitu cepat, sangat kuat, hingga aku sulit bernafas. Aku diserang sekumpulan rasa. Dalam satu geliat rasa kurasakan tubuhku diseret paksa, melewati perdu-perdu kecil.

 

Tangisan tak mampu berbuat banyak. Teriakkan tak berarti apa-apa. Sekuat apapun kucoba melepaskan diri dari kerangkeng tubuhnya, berharap satu keajaiban menyelamatkanku dari kegelapan yang membutakan, sekuat itu pula dia melumpuhkanku hingga kehilangan daya. Aku tersungkur di antara rumput-rumput basah. Tersudut di antara kedua kakinya.

 

Aku terdampar di satu waktu yang paling menyiksa. Tak berdaya. Tak ingin aku ada. Saat bibir beraroma alkohol yang menyengat itu mulai melumat tubuhku dengan paksa, hingga kancing baju terakhirku terlepas, terampas juga apa yang selama ini selalu kujaga rapat. Jiwaku terhempas tanpa tepi. Hancur berkeping-keping. Tamat!!!

 

 

GULUNGAN ombak menyapu ujung gaunku. Menarikku dari lamunan. Setelah beberapa saat kubiarkan tubuh ini terpaku pada ketidakpastian, tarian ombak seperti mengingatkanku kembali pada sebuah janji.

 

“Inilah saatnya.” lirihku. Waktu yang tepat untuk memulai rencana. Telah kupakai gaun terindah yang kupunya. Dengan renda-renda kecil di bagian dada. Gaun yang hanya kukenakan di saat-saat terpenting dalam hidupku. Seistimewa senja ini.

 

Perlahan kakiku merapat ke bibir pantai, bersama hujan yang tiba-tiba  meluruh. Ada peri-peri putih di helaian keperakan itu menyapaku seperti sahabat lama. Mungkin, dulu sekali, saat jiwa ini masih berupa sebongkah darah dalam rahim surgawi, kami pernah bercengkerama bersama.

 

Teruslah melangkah! Kudengar bisikan itu menggema, menggetarkan sukma. Jalanmu benar! Toh, tak akan ada yang menangisi kepergianmu, selain seekor anjing Rottweiler tua yang selama ini menjadi tempatmu bercerita dan selalu setia menemanimu menangis di pinggir jendela. Keluargamu, yang sangat mengagungkan nama baik dan kehormatan itu, paling hanya akan menangisi kepergianmu sesaat, setelah mereka mengetahui alasanmu mengambil keputusan ini dari selembar surat yang kau selipkan di bawah tumpukan buku di meja kerja, justru akan bernafas lega, karena aib yang hampir mencoreng wajah mereka lenyap tanpa perlu diminta.

 

Sayapku kini tumbuh sudah. Bersama keyakinan yang semakin menyala, kularung tubuhku dalam dekap pasang laut yang menerjang. Lebih dalam, dan sayap-sayap keinginan yang bersarang di dadaku semakin kuat. Tak surut sedikitpun. Untuk sepotong jiwa yang telah lebih dahulu mati, inilah jalan hidup terbaik yang harus kejejaki. Melebur pada debur ombak, layaknya sperma yang melebur paksa dalam sel telurku, menjadikannya sebongkah darah. Kiamatku!

 

“Kenapa harus aku yang mengalami cobaan ini?” teriakku. Susah payah kurekatkan kembali remah-remah ketegaran yang tersisa, dari sepiring takdir yang harus kulahap dengan paksa di malam itu. Walau nafasku sering sesak setiap mengingatnya. Kucoba untuk tetap tersenyum sesakit apapun hati ini, menyambut mentari yang terbit menyapaku setiap pagi. Cahaya yang membantuku untuk terus bertahan.

 

Tapi, kali ini ketegaranku lumpuh total. Tsunami ini menghempas begitu kuat. Menghisap habis semua ketegaranku hingga tetes darah yang terakhir. Saat pagi tadi aku terbangun dengan rasa mual yang tak tertahankan. Aku muntah. Seluruh isi perutku  terkuras tanpa sisa. Dalam kesakitan yang menderaku pagi tadi, sebuah kesadaraan yang menghentak membuatku menyadari sesuatu. Ketakutanku akhirnya menjadi nyata.

 

Ini tak adil! Ini tak layak untuknya! Kenapa dia harus hadir dimuka bumi ini tanpa sepotongpun cinta. Terbentuk dari sperma lelaki yang tak pernah kuketahui wajahnya. Lelaki yang telah memperkosa wanita yang akan dipanggil ibu, olehnya. Aku tak sanggup!!! Aku bukan ingin melenyapkannya. Hanya ingin membawanya serta. Kami akan menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan. Biar kuakhiri deritanya sebelum waktu menderanya dengan kumpulan cerita yang tak layak untuk didengar. Akan kututup matanya sebelum sempat melihat buram hitam masa lalunya. Akan kubungkam mulutnya sebelum sempat bertanya, bagaimana ia ada? Dan kenapa ia bisa ada?

 

Perlahan air laut membenamkan tubuhku sampai ke bagian dada. Kurasakan hempasan ombak kian ganas menerjang tubuhku. Belitan dingin yang mengigilkan tulang. Tapi aku malah suka  ini. Keinginan ini akhirnya hanya akan menunggu waktu sisa-sisa. Bersama redup malam yang mulai menjelang. Derai hujan dan gelegar halilintar yang kian meradang. Kulepas semua kekuatan yang ada. Ragaku melayang, persis seperti kapal yang siap karam. Terombang-ambing amukan gelombang. Larut dan kehilangan daya.

 

Kubiarkan asin air laut menelusup menyesaki rongga tubuhku. Melebur dalam setiap detak nadiku. Kunikmati sesak ini. Kunikmati permainan gelombang ini. Tak sedikitpun terbersit keinginan untuk melawan. Aku ingin lebur di samudera luasnya. Tanpa jejak atau apapun yang bisa dikenang. Aku ingin tenggelam!

 

Perlahan…,semua detik yang bergerak menjadi begitu berkontur. Merenggang dan mengendur seperti tarikan nafasku yang kadang hilang dan lebur. Menunggu sang malaikat maut menjamahku dari kefanaan dunia, menuju kekekalan yang…

 

Entah darimana datangnya. mendadak sesuatu yang kokoh tiba-tiba melingkupiku. Dekapan yang rasanya tak asing. Pernah kurasakan di satu malam yang begitu menyiksa dan tak mungkin bisa kulupa. Darahku seketika bergolak. Aku meronta. Tak ingin ia ada. Batinku berteriak, berharap kali ini dapat terlepas dan menemukan wajahnya di sisa-sisa waktuku, untuk kuludahi tanpa ampun. Namun, dekapannya begitu kuat, begitu dalam mengikatku. Menarikku tubuhku dengan cepat, keluar dari gulungan ombak,untuk bertemu sesaat dengan oksigen yang melimpah ruah. Aku tersedak. Nafasku sesak. tersengal hingga lemas. Semakin kuat kucoba melawan, semakin kuat tubuhku terbawa. Menjauh dari  gelombang yang kian menyusut. Terhempas di antara pasir-pasir basah.

 

 

SETITIK airmata jatuh menghangat di wajahku. Merambat dan membuat mataku perlahan terbuka. Samar-samar kutemukan sebuah wajah. Di senja temaram, seorang sahabat yang setiap pagi selalu meletakkan setangkai mawar putih di meja kerjaku, yang cintanya selalu kuacuhkan, menangis. Sedetik kemudian tersungkur dan terisak panjang di kakiku.



 

“Senja…, maafkan aku!” Isak pilunya menyeruak  di kesunyian pantai.

***

Triana Rahayu. Lahir di Langsa dan kini menetap di Bogor. Lulusan dari Institut Pertanian Bogor. Sejumlah cerpennya pernah dimuat di media massa seperti: Majalah Femina, Majalah Kartini dan Tabloid Nova, Email: ayutria_77@yahoo.com Blog: trianarahayufiksi.wordpress.com

 

Photo by luizclas from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.