Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • GURU: SANG PEMBANGUN (Refleksi Hari Guru)
GURU: SANG PEMBANGUN (Refleksi Hari Guru) Hari guru Tampilan penuh

GURU: SANG PEMBANGUN (Refleksi Hari Guru)

Oleh: Tjahjono Widarmanto

 

Hanja goeroe jang benar-benar Rasoel Kebangoeanan dapat membawa anak ke dalam alam kebangoenan. Hanja goeroe jang dadanja penoeh dengan djiwa kebangoenan dapat ‘menoeroenkan’ kebangoenan ke dalam djiwa anak

 

 

Dalam sebuah memoarnya yang legendaris Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menuliskan larik-larik yang menggetarkan siapa saja yang membaca larik-larik tersebut: “Hanja goeroe jang benar-benar Rasoel Kebangoeanan dapat membawa anak ke dalam alam kebangoenan. Hanja goeroe jang dadanja penoeh dengan djiwa kebangoenan dapat ‘menoeroenkan’ kebangoenan ke dalam djiwa anak”. Bung Karno menuliskan larik-larik tersebut saat berada dalam suatu masa ketika bangsa Indonesia belum menjadi  dan masih berada dalam pergulatan dan dialektika pemikiran saat mencari formula yang paling tepat dari berbagai tesis tentang cita-cita kebangsaan, impian masa datang, dan  imajinasi baru tentang bangsa.

 

Mengapa Bung Karno justru menulis tentang guru dalam situasi dialektika berbagai impian negara bangsa? Hal itu, karena tak lain disebabkan kepercayaan dan keyakinan Bung Karno yang tinggi terhadap peran penting guru sebagai pengubah zaman. Keyakinannya itu dengan tegas dinyatakan dalam simbolisasi guru sebagai ‘Rasul kebangunan’. Rasul adalah pencerah zaman. Rasul adalah pelita dalam kegelapan. Rasul adalah pemberi katarsis pada masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Guru seperti rasul  yang bertugas mencerahkan kehidupan suatu bangsa.

 

Kata ’kebangunan’ digunakan Bung karno untuk mempertegas bahwa sosok guru adalah sosok yang berjaga, yang selalu terjaga dan siap membangunkan saat masyarakat terlena. Yang seperti kata Chairil: berjaga di antara kenyataan dan harapan! Menjadi parajanana atau penjaga kehidupan nalar dan jiwa yang sehat.

 

Guru diletakkan oleh Bung Karno pada posisi sosial paling terhormat, paling bermartabat dan paling bermarwah. Bung Karno tak menggunakan istilah ‘pahlawan’ apalagi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, namun larik-larik tulisannya tersebut secara tersirat dan tersurat menempatkan sosok guru justru jauh di atas pahlawan.

 

Lalu bagaimanakah sosok guru sekarang? Bisakah guru era sekarang ini menjadi ‘Rasul Kebangunan’? Bukankah abad ini jauh berbeda sehingga guru tak lagi jadi otoritas tunggal kebenaran, panutan, dan keilmuan?

 

Tantangan guru di era ini sungguhlah besar, bahkan teramat besar. Guru memiliki dua tugas berat yang abadi yaitu mengembangkan pengetahuan atau nalar dan memperteguh nilai-niali moralitas dan nilai kemanusiaan. Tugas besar ini menjadi makin berat saat kondisi zaman yang berubah.

 

Zaman ini adalah era digital yang memiliki karakteristik mengejar bahkan adu cepat dengan percepatan, perluasan, dan pemerolehan pengetahuan, sehingga diperlukan guru yang berspektif digital yang tak hanya mengandalkan komunikasi analog saja, yang tak hanya berada dalam jalur linier, namun jalur general yang penuh lompatan dan ketakterdugaan. Era digital inilah yang mengubah paradigma instruksi yang hanya mengandalkan pola komunikasi monomedia menjadi paradigma konstruksi dengan pola komunikasi multimedia. Perubahan ini berkonsekuensi pada tergerusnya kehangangatan humanitas antara guru dan siswa karena berbagai alat komunikasi multimedia mendominasi praksis pendidikan.

 

Pendidikan dan sistem pendidikan pun tergerus oleh kendali kapitalistik, yang oleh Greene dalam bukunya Education Myth (2005) menjadikan pendidikan terjebak dalam mitos-mitos menyesatkan. Mitos-mitos tersebut antara lain mitos kompetensi yang hanya melahirkan kemampuan pragmatis, mitos standar yang hanya melihat pada hasil, tidak pada proses, mitos out comes yang mengukur keberhasilan lulusan pada ukuran mampu bekerja sehingga terjebak pada hitungan kapitalistik belaka.

 

Lantas di mana sosok guru sebagai rasul kebangunan seperti yang diimpikan Bung Karno? Tentu naif kalau dikatakan tak ada lagi sosok guru yang ideal seperti rasul krbangunan. Namun pertanyaannya, seberapa banyak? Andaikata masih banyak, mengapa ada indikasi krisis-krisis, baik krisis mutu, krisis karakter siswa, krisis etika, dan krisis solidaritas?

 

Era yang berubah menjadi era digital dan sistem pendidikan yang tergerus kendali kapitalistik membuat guru tak lagi mempunyai peran optimal mendidik, tetapi hanya sebatas mengajar. Setiap hari guru harus kalang kabut dan tunggang langgang memenuhi kewajiban mengajar 24 jam bahkan ada yang sampai 36 jam, belum lagi tugas administrasi dan tugas-ugas lain, akibatnya guru kehilangan momentum dan kesempatan untuk menyentuh siswanya secara emosi dan humanitas. Ajaibnya, di tengah ketungganglanggangannya dan kekalangkabutannya, guru masih diwajibkan memiliki berbagai kompetensi, seperti kompetensi akademik, kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Bagaimana mereka memiliki waktu untuk meraih semuanya itu? Akhirnya menghilanglah guru sang rasul kebangunan yang dulu diidambakan oleh Bung Karno yang semestinya juga harus dipunyai oleh guru abad ini. Kalau ingin mengharapkan kembalinya guru sang rasul kebangunan haruslah tidak perlu lagi ada beban-beban berat bagi guru. Cukuplah guru mengajar 18 jam saja sedang sisanya bisa digunakan guru untuk lebih megembangkan diri, lebih mengoptimalkan pendekataan emosi dan humanitas pada siswanya sehingga nalar dan jiwa siswa lebih terjaga.

Semoga!



 

Tjahjono Widarmanto, penyair dan guru yang tinggal di Ngawi. Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa. Buku puisi terbarunya PERCAKAPAN TAN dan RIWAYAT KULDI PARA PEMUJA SAJAK (2016) menerima anugerah buku hari puisi Indonesia tahun 2016. Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA.  E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id,  

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*