Topbar widget area empty.
Mamak dan Para Tetangga Cover Ibu dan Tetangga Tampilan penuh

Mamak dan Para Tetangga

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

 

Dari pintu ke pintu. Begitulah kegiatan yang dilakukan mamak setiap menjelang makan siang. Perempuan yang seluruh rambutnya berwarna putih itu rajin membagikan makanan ke para tetangga. Tidak pilih kasih, pukul rata dibuatnya semua. Mamak tidak takut kekurangan makanan, walau hanya menyisahkan sedikit masakan di rumah. Sejak Rini – anak perempuanya bekerja di Kalimantan, mamak merasa kesepian. Dia hanya tinggal berdua bersama keponakannya yang janda. Sebab itulah dia membakar kesepianya dengan berbagi makanan pada tetangga. Dan tak jarang juga, setiap akhir pekan, mamak mengundang para tetangga makan bersama di rumahnya.

 

“Ya harus dibatasi dong, Mak. Aku kan kirim uang buat belanja mamak, bukan untuk dapur tetangga,” omel Rini pada mamaknya, ditelpon. Mamak hanya mendengarkan. Dia tau, anak perempuannya itu yang bekerja keras, semenjak ayahnya meninggal. Bahkan perempuan itu rela menunda pernikahannya hanya karena ingin membahagiakan mamaknya.

 

“Lagi pula, kalau nanti mamak kelelahan dan jatuh sakit bagaimana?”

 

Mamak menghelana napas, menelan ludah. Dimatanya, terlihat sebaris adegan silam. Hanya saja dia menunda untuk mengulangnya.

 

“Apa mereka mau menanggung makan mamak setiap hari?”

 

Mamak mengatur napasnya, dia siap berbicara.

 

“Siapa lagi yang akan memakan masakanku, selain para tetangga?” mamak mengatakannya dengan terbata-bata. Dia menaruh dengan cepat gagang telepon itu. Kemudian merundukan wajah. Ada rindu yang telah menggupal menjadi air mata. Sedang ribuan kilometer di sana, Rini hanya menelan ludah. Merindui mamaknya.

 

 

Hari ini rumah mamak sangat ramai kedatangan para tetangga. Sepertia biasa, mereka akan dijamu makanan yang enak-enak oleh mamak. Di dapur, mamak dengan sigap menyelesaikan masakanya. Walau sudah renta, pantang bagi mamak dibantui orang lain dalam urusan memasak.

 

“Nanti rasanya tidak enak, karena tangannya berbeda.”

 

Kalimat itu yang selalu dikatakan mamak. Sabtu ini mamak memasak sebaskom sayur daun ubi tumbuk, lengkap dengan sambal teri kacang tanah dan sambal ikan tongkol. Semangkuk besar soto, lengkap dengan perkedel kentang dan tauge. Serta aneka minuman dari pepaya dan nenas yang dibelender jadi satu.

 

“Es poligami,” kata para tetangga serentak. Entah kenapa nama es situ menjadi sebegitu dinamisnya.  Mereka kumpul di ruang tamu yang sudah digelari tikar pandan. Ada yang datang seorang diri, ada pula yang datang satu keluarga besar, bahkan ada yang datang serombongan keluarga besar. Tapi mamak tidak peduli, dia senang rumahnya didatangi banyak orang. Dengan dibantu keponakannya, mamak menghidang semua makanan itu. Sambil sesekali mendengar para tetangga yang sedang bergosip ria.

“Setiap hari mamak bagi makanan, setiap sabtu pula diundang makan. Hemat uang belanja kami mak,” kata salah seorang tetangga. Mamak hanya tersenyum, sambil membawa dua bakul nasi.

“Heleh, bilang aja kau lagi pengiritan, Sri. Mau nambah emas lagi.” Sahut tetangga yang lain, memancing suara tertawa yang lain.

“Makan siang sudah dijamin, belanjaan pun berkurang. Tapi uang belanja tetap sekian,” beritahu tetangga yang satu. “Kubilang aja sama suamiku, bahan sembako lagi naik-naiknya, uang belanja jangan dikurangi ya.” Dia tertawa. Yang lain juga ikut tertawa, sembari mengejek.

“Aku senang rumahku ramai, makananku dimakan, dan sepiku hilang. Apa pun alasan kalian kerumahku, aku tidak ambil pusing,” kata mamak pula. Mereka hanya masem-masem.

 

Rumah mulai sepi, satu persatu tetangga sudah pada pulang. Selepas makan tadi, mereka bergegas mencuci piring, ikut merapikan rumah mamak. Dan kini, tinggalah mamak berdua dengan keponakannya yang sedang menonton tipi. Kali ini dibukanya sepotong adegan yang disimpannya dari kemarin. Tentang Rini. Anaknya itu sudah lama tidak pulang. Terakhir pulang ketika menghadiri pesta pernikahan mantan kekasihnya yang menikahi anak desa sebelah. Rini terlihat patah hati, mamak dapat melihat kekecewaan dari wajah anaknya. Sudah lama sekali Rini tak pulang, ingin sekali dia memeluk anaknya. Membalas pelukan Rini dua puluh tahun lalu. Ketika ayahnya meninggal. Rini tidak menangis, dia hanya bersedih. Bahkan perempuan itu berulang kali memeluk mamaknya, menyabarkan hati.

 

Rindu itu semakin menggumpal. Mamak mengangkat gagang telepon. Menekan angka-angka yang akan menghubungkan ke anaknya. Terdnegar nada penghubung. Rini segera menjawabnya. Mamak langsung mendesak agar Rini pulang, meninggalkan pekerjaannya. Hidup berdua lagi dengan mamak. Atau paling tidak berlibur untuk membahagiakan diri.

 

“Tiket pesawat melonjak naik, mak. Mahal. Rini belom bisa pulang dalam waktu dekat.”

***

 

 

Hampir pukul dua belas siang. Dengan tergopoh-gopoh, mamak membagikan makanan ke para tetangga. Tak henti-hentinya bibir tipis itu menyebuti nama tetangganya. Meneriaki mereka agar kelaur rumah. Bahkan ada yang sudah menunggu kedatangan mamak di depan pintu rumahnya. Ramai mulut mereka mengucapkan terimakasih, sambil mengintip-intip menu masakan mamak hari ini. Mamak sudah seperti pengantar catering yang sering berkeliaran di desa sebelah. Hanya saja mamak tidak dibayar dan tak ada pula gajinya. Hanya keikhlasan dan tak berpamrih, dilakukan semuanya dengan sangat menyenangkan.

 

“Terimakasih loh, Mak. Semoga rezeki mamak lancar terus ya.”

Ada juga yang mengatakan

“Sehat terus ya mak. Biar kami gak kesepian.”

Bahkan ada pula yang mengatakan

“Semoga Gusti Allah membalas kebaikan mamak. Menyelamatkan dapur kami.”

 

Demikianlah adanya yang selalu mereka katakan pada mamak setiap hari. Manisan bibir yang kebanyakan gula. Terkadang terkesan seperti dibuat-buat dan membosankan.

 

Setelah semua tetangga sudah mendapatkan makanan, mamak kembali pulang. Sejak pagi tadi kepalanya terasa sangat pusing. Keponakanya sudah melarang mamak untuk memasak, hanya saja mamak menolak. Beralasan, kasihan mereka jika mamak tidak masak. Sesampai di rumah, mamak segera masuk ke dalam kamar. Dia ingin berbaring. Matanya sudah berat, sulit untuk dibuka lama. Dia memejamkan matanya dan semuanya terlihat hitam. Lama mamak tertidur, bahkan keponakannya saja tidak berani membangunkannya. Karena belakangan ini jarang sekali mamak istirahat, dia lebih banyak menghabisi waktu dengan segala kegiatan yang menguras tenaga. Bahkan sesekali dia ikut tetangga ke sawah, menanam jagung, atau menjaga padi dari santapan burung-burung.

 

Tengah malam, mamak terbangun. Sepi, suara jangkrik pun tidak ada. Mamak meraskan mual yang begitu kuat, dia segera ke kamar mandi. Muntah-muntah. Mungkin mamak masuk angin atau terkena asam lambung. Semua isi makanan dalam perutnya keluar, dia sangat lelah mengeluarkan isi muntahannya. Mamak merasa lemas, perlahan dia menyirami sisa muntah di lantai kamar mandi. Dari luar, keponakannya menanggil-manggil, tapi mamak tidak menyahutinya.

***

 

Di bandara, Rini menangis sejadinya. Pesawat yang akan mebawanya pulang terkena delay. Tidak tau sampai kapan, belum ada kepastian dari maskapainya. Airmata becucuran deras, ponselnya berulangkali berdering. Sibuk dia menjawab panggilan telepon itu. Banyak hal yang dibatalkannya saat itu. Pagi tadi, keponakan mamak menelpon dengan nada suara bergetar dan menangis hebat. Mamak meninggal, terjatuh di kamar mandi dan kepalanya terbentur. Rini nelangsa, dia ketakutan dan sangat terejam kesedihan. Wajah mamak bermain-main dalam ingatannya, padahal kemarin lusa mamak menelpon. Memintanya pulang. Namun Rini menolak, karena harga tiket pesawat yang melonjak mahal. Hari ini, dengan harga berapapun dibayarnya, tapi sayang pesawatnya belum bisa terbang.

 

Satu persatu pelayat mulai datang ke rumah. Para tetangga yang sering dibagi makanan oleh mamak tak hentinya menangis. Mereka kehilangan orang yang dengan tulus membagi kebahagiaan. Mamak terbaring kaku di ruang tamu, diatas tilam kapuk yang dilapisi kain batik panjang. Diluar, orang-orang ramai mendirikan teratak, membuat tempat memandikan jenazah. Rini belum juga datang.

 

Pesawat itu akhirnya terbang pukul dua belas siang. Dengan berharap pada Tuhan memberi keajaiban pada pesawat yang dianikinya untuk segera sampai di bandara kotanya. Dia sudah tak sabar melihat wajah mamak untuk terakhir kalinya. Wajah yang dulu dilihatnya setiap hari. Rini begitu merasa bersalah, menghakimi dirinya sendiri yang meninggalkan mamak seorang diri.

 

Rini meraung-raung di depan jenazah mamaknya. Orang-orang ikut bersedih sambil menenangkan perempuan itu. Mamak sudah tidak mungkin hidup lagi, membelai kepalanya dan mencium pipinya seperti waktu kecil dulu. Rini berteriak histeris. Terlebih ketika jenazah akan dimakamkan sore itu juga. Dia kehilangan mamaknya. Mamak yang disayangnya.

 

Selepas pulang dari pemakaman, Rini mulai tenang. Di dapur, dilihatnya banyak belasan goni beras, minyak goreng, gula, sayur mayur, sampai ikan dan daging. Rini heran melihat barang-barang itu. Apa mungkin mamak belanja sebanyak itu sebelum meninggal? Rini bertanya pada budenya.

 

“Ini semua dari para tetangga mamak. Mereka teringat akan kebaikan mamak yang sering membagikan makanan, membalas budi” ucap budenya, memberi tahu. Tertegun Rini mendengarnya. Dia kembali teringat perkataan mamaknya ditelpon tempo hari.

“Kenapa sih mamak suka berbagi makanan dengan tetangga yang terkadang pelit ke mamak?”

“Berbagi makanan pada tetangga itu berpahala. Mereka melihat, mencium aroma dapur dari masakan mamak. Berdosa rasanya kalau menyantapnya seorang diri, sedang tetangga, mungkin saja ada yang tidak masak. Jadi tak ada salahnya berbagi.”

 



Rini kembali menangis dan dia salah menilai keborosan mamak selama ini. Allah telah menajwab di akhir hayat mamaknya.

 

Gg. Mangga — Akhir Mei 2019

 

Sawaluddin Sembiring, lahir dan besar di kota Medan. Dipercaya menjadi redaktur puisi di media online. Beberapa karyanya pernah dimuat diharian lokal dan nasional, juga dibeberapa antology bersama. Aktif di instagram @sam_sembiring.

 

Photo by zhang kaiyv from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.