Topbar widget area empty.
PENCARI UANG pencari uang cover Tampilan penuh

PENCARI UANG

Oleh:  Erwin Setia

 

 

Ketika Rewin mengatakan “Aku mau cari uang”, maka ia sungguh-sungguh akan mencari uang. Seharfiah itu. Bukan metafora kerja keras dari jam delapan pagi hingga lima sore di suatu kantor atau berjualan suatu apa di suatu tempat. Rewin betul-betul mencari uang. Memburu koin-koin dan lembaran-lembaran dengan gambar beraneka rupa serta digit-digit angka.

 

Kelakuan uniknya itu bermula tiga bulan silam. Pekerjaannya sebagai buruh bangunan sudah selesai dan ia belum mendapat pekerjaan baru. Tak ingin dianggap malas dan dicibir mertua, ia memilih berkeliling ke luar dengan motor bebeknya yang sebentar-sebentar mogok. Saat suaminya keluar pada pagi buta itu, istri Rewin mendiamkan saja. Ia sedang menyusui anaknya yang belum genap setahun. Rewin tak pamit, dan istrinya pun tak merasa perlu untuk sekadar menyeduhkan teh atau mencium tangan Rewin sebelum keberangkatannya.

 

Kala sepeda motornya melenggang di jalan yang ramai, seorang perempuan muda berseragam kerja memberhentikannya.

 

“Ojek, Bang?”

 

Rewin tak berniat mengojek. Tapi ia juga tak menampik ketika perempuan itu sudah naik di boncengan. Rewin selalu membawa dua helm—kebiasaan ini ia lakukan karena temannya sering menumpang kepadanya. Ia memberikan helm merah yang agak retak kacanya pada perempuan itu. Si perempuan menyebut sebuah alamat. Tak sampai lima belas menit, mereka sampai. Selembar dua puluhan perempuan itu angsurkan kepada Rewin. Rewin hendak mengembalikan lima ribu. Namun perempuan itu berujar, “Ambil saja kembaliannya, Bang.”

 

Rewin menyalakan motornya kembali dan memutar arah. Di suatu pertigaan jalan yang sepi, mesin motornya mati. Kebiasaan buruk motor bebeknya itu begitu menjengkelkan. Sebab ia tak mengenal tempat dan waktu. Tak terlihat bengkel sejauh jangkauan mata. Di cakrawala, matahari masih serupa gadis pemalu mengintip dari balik jendela.

 

Lelaki itu menggerutu, Menendang-nendang pelan mesin motornya yang tak bisa diajak kompromi. Orang-orang belum banyak tampak. Hanya ada beberapa ibu menenteng plastik penuh sayur dan anak sekolah—bukan spesies manusia yang dapat diandalkan untuk memberesi urusan kendaraan mogok.

 

Ketika Rewin menjongkok dan akan memeriksa keadaan mesin motor, matanya tertumbuk pada setitik warna biru persis di balik ban belakang motor. Selembar uang lima puluh ribuan. Ia senang bukan main. Ia menganggapnya keajaiban dan kemujuran. Selayaknya keajaiban dan kemujuran, biasanya datang berturut-turut. Motornya mendadak bisa menyala—keajaiban kedua. Rewin pulang dengan hati bungah. Ia melaporkan kejadian sepanjang pagi itu kepada istrinya. Setelah menerima uang darinya, istrinya menyeduhkan teh dan menyajikan makanan.

 

Keesokan hari dan seterusnya Rewin terbiasa bangun pagi buta dan berkeliling dengan sepeda motornya. Sebelum berangkat, ia bilang pada sang istri, “Aku mau cari uang.” Begitu pula kepada orang-orang yang bertanya kepadanya mau apa ia sepagi itu, ia senantiasa menjawab, “Aku mau cari uang.” Mendengar jawaban Rewin, orang-orang hanya menatap aneh dan tak terlalu ambil pusing—barangkali mereka anggap Rewin bercanda belaka.

 

Ia biasanya akan berkeliling dari pagi hingga bosan. Karena bosan tak mengenal waktu tertentu, ia bisa saja sudah pulang saat hari masih pagi, siang, sore, bahkan malam.

 

Rewin tak pernah merasa sia-sia melakukan hal itu—berkeliling ke mana-mana dengan sepeda motor. Selalu ada saja hal yang ia peroleh. Kadang ia mengantarkan seseorang ke suatu tempat seperti tukang ojek dan mendapat upah; kadang ia menemukan barang berharga—semisal jam tangan atau mainan anak-anak yang masih bagus—seperti seorang pemulung beruntung; tapi lebih sering ia menemukan uang. Uang dalam berbagai pecahan.

 

Ia menemukan uang di berbagai tempat—tepatnya ia sengaja mencari lalu berkat petunjuk Tuhan dan kejelian mata ia menemukannya. Sesekali di pinggir jalan, di dekat para pedagang kaki lima, di seberang gedung sekolahan atau perkantoran, di mana-mana. Semenjak menahbiskan diri sebagai pencari uang, ia tak pernah tak mendapatkan uang.  Ia selalu mendapatkan uang meski nominalnya tak menentu. Jika sedang sial, ia cuma memperoleh recehan yang menyebabkan istrinya tak menyeduhkan teh dan tak memberinya senyum. Sebaliknya jika mujur, ia bisa mendapat segepok uang yang cukup untuk makan enak seminggu penuh. Namun kesialan dan kemujuran hanya datang kadang-kadang. ‘Pendapatan’ Rewin umumnya berkisar pada jumlah yang kira-kira cukup untuk biaya makan satu hari keluarga kecilnya.

 

Suatu waktu, Rewin memikirkan dari mana uang-uang temuannya berasal. Dari saku anak-anak sekolah? Dompet ibu-ibu yang hendak belanja sayuran? Kantong celana para pegawai? Genggaman tangan seorang yang sedang terburu-buru? Atau tiba-tiba saja jatuh dari langit? Ia menyingkirkan kemungkinan terakhir dan menaruhnya di kotak imajinatif berlabel: mustahil.

 

Kadang ia merasa berdosa dan bersedih jika memikirkan kemungkinan uang temuannya milik orang-orang miskin dan sangat membutuhkan. Tapi itu perasaan sekilas saja. Rewin akan segera menghibur diri dan membayangkan uang-uang yang ditemukannya adalah milik para koruptor atau pencuri atau perampok atau semacamnya yang memang pantas untuk direbut. Dengan memikirkan kemungkinan itu, perasaan berdosa dan bersedihnya hilang menjadi bangga dan merasa bak pahlawan.

 

Dengan penghasilan rutin itu, istri dan mertuanya tak lagi menuntut Rewin agar cepat-cepat mencari kerja. Mereka pikir Rewin sudah memperoleh pekerjaan. Mereka tak peduli apakah Rewin mengojek, kerja serabutan, berjualan, atau apa pun. Yang penting ia pulang membawa uang sehingga anak-istrinya tak terlantar. Tiap kali Rewin mengaku “Aku pencari uang”, istri dan mertuanya mengartikan bahwa Rewin bekerja. Mereka tak pernah kepikiran bahwa kata-kata Rewin itu berarti mencari pecahan-pecahan uang di sudut-sudut jalan seperti seorang pemulung memburu sampah.

 

Anggapan istri dan mertua Rewin masih bertahan hingga pagi itu tiba. Pada genap bulan ketiga, Rewin berangkat pagi-pagi sekali. Lebih pagi dari kokok ayam dan sinar mentari. Ia menyusuri jalan-jalan nan sunyi. Pagi menguarkan kesejukan, subuh belum lama beranjak, orang-orang masih mendekam dalam rumah.

 

Di perempatan menuju jalan besar, Rewin berhenti. Seorang lelaki bersetelan rapi—kemeja putih lengan panjang dan celana hitam—tampak bergegas. Tak jauh dari tubuh lelaki yang kian menjauh itu, Rewin menemukan amplop cokelat besar tergeletak. Ia turun dari motornya. Memungut amplop dan nyaris menangis manakala mendapati amplop itu penuh dengan lembaran uang seratus ribu. Ia telah bersiap menyalakan motor dan bergegas pulang, sebelum pintu nuraninya serasa diketuk. Barangkali amplop berisi uang ini milik lelaki yang kelihatan terburu-buru itu, batinnya.

 

Rewin cepat-cepat menghampiri lelaki itu dan memanggilnya. Lelaki itu berdiri di tepi jalan dengan gelisah—sedikit-sedikit memantau jam tangan. Tampak menunggu bus atau angkot lewat. Sebuah bus kota datang saat kepala lelaki itu menengok. Rewin sudah selangkah di belakang lelaki itu.

 

“Apakah amplop ini milik anda? Saya tadi menemukannya tergeletak di jalan.”

 

Lelaki itu tampak tak nyaman dengan pertanyaan Rewin. Ia mengamati Rewin dan sebuah amplop di genggamannya. Namun tak mengutarakan secuil pun tanggapan. Kemudian, dengan tergesa lelaki itu menaiki bus dan berkata pada Rewin, “Ambil saja amplop itu. Buat anda.”

 

Dipersilakan begitu, Rewin senang bukan kepalang. Ia lekas menuju rumah, ingin memberitahukan kabar gembira pada istrinya.

 

Ibu mertua dan istrinya sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Bayinya masih pulas tertidur di kamar. Televisi menyiarkan berita pagi dalam volume besar. Tanpa basa-basi Rewin mempertunjukkan amplop temuannya dan mengeluarkan lembaran-lembaran uang merah yang terlihat sangat indah di mata.

 

“Lihat ini, Bu, Ma, saya dapat rezeki nomplok. Sepanjang karir saya sebagai pencari uang, baru kali ini saya mendapat uang sebanyak ini. Dengan uang ini, kita bisa bangun rumah, Ma,” kata Rewin terharu.

 

Istri dan mertua Rewin memandang lembar-lembar uang itu dengan nafsu. Keduanya mulai memercayai Rewin betul-betul pencari uang dalam arti seharfiah-harfiahnya. Serupa Rewin, keduanya ikut terharu dan tak menyangka mendapat uang semelimpah itu tiba-tiba.

 

Sementara ketiga orang itu masih hanyut dalam haru, penyiar perempuan di televisi memberitakan tentang sindikat pembuat uang palsu yang tengah menjadi buronan polisi. Rewin terhenyak ketika mendengar penyiar menyebut nama daerah yang dekat tempat tinggalnya.

 

Rewin buru-buru memeriksa amplop, mengambil beberapa lembar uang secara acak, dan menerawangnya. Tak ada bayangan khas uang asli pada lelembaran itu.

 

Rewin muntab. Ia berlari keluar rumah, menyalakan motornya, dan bertekat menghabisi sampai mampus lelaki bersetelan rapi tadi jika ia menemuinya. (*)



 

Bekasi, Agustus-Oktober 2018

 

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.  Akun Facebook: Erwin Setia

 

Photo by Skitterphoto from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.