Topbar widget area empty.

Satu Hari di Bulan Juni

Oleh: Elisabeth Bengan

 

Mereka benar. Manusia sok pintar dan pengertian itu. Mereka benar tentang depresi dan kenikmatan menyakiti diri sendiri.

 

Untuk pertama kalinya sejak masuk bulan Juni aku merasa ingin tertawa pada satu lelucuan yang menyakitkan. Pergelangan tangan kurusku memerah oleh dinding bambu dari loteng di gubuk tengah ladang. Aku memaksanya keluar lewat celah kecil demi rinai hujan yang jatuh. Rinai basah yang damai.

 

Hujan, satu hadiah cinta Tuhan untuk Bumi yang mulai meranggas. Ingin kunikmati di hari paling spesial ini tetapi hanya garis merah antara telapak dan lengan yang kudapat. Perih sekali. Tetapi menggelikan, aku tertawa. Merasa lucu yang tidak dapat dijelaskan.

 

Seperti kemarinnya kemarin ketika telunjuk kananku tersengat kalajengking, aku juga tertawa. Bedanya bukan karena lucu tetapi karena sakitnya masih kalah dengan sakit di hati yang membuatku tertawa juga menangis di tengah hutan kelapa. Tidak akan ada yang tahu juga tidak akan ada yang mendengar, aku menangis semakin kencang. Pikirku, andaikan ada yang tahu dan bertanya mengapa, akan kukatakan,

 

“Telunjukku tersengat seekor kalajengking ganas, itulah sebabnya aku menangis.”

 

Tetapi hingga aku berhenti menangis dan tertawa lagi tak ada seorang pun yang mendengar juga melihat dan bertanya. Miris sekali. Itu sudah terjadi di hari entah hari apa. Yang aku ingat kemarinnya kemarin lagi.

 

Satu hari di kemarinnya kemarin pula tetapi jelas berbeda dengan insiden kalajengking itu aku terluka juga dan aku pun tertawa dengan air mata yang terurai. Hari itu benar-benar hari yang berat, tetapi sial aku lupa hari apa itu. Satu yang aku ingat, amarah dan sakit hatiku sudah sampai di ubun-ubun. Leherku tegang sekali. Aku pikir akan terkena stroke, tetapi tidak. Aku menusuk sepuluh ujung jari tanganku dengan peniti. Sepuluh titik darah segar kukorbankan hari itu. Lega sekali. Ini bukan karena kurang waras. Aku hanya tidak mau mati muda mengikuti saran kedokteran, mencegah stroke. Entah di mana aku pernah membaca ini.

 

Darah dari sepuluh jari itu mengering, luka telah tertutup. Toh bukan luka juga hanya bekas tusukan.

 

Setelah masa itu, hari ini di lembah yang menjadi ceruk hujan, air-air dari surga jatuh tetes demi tetes. Dari loteng gubuk aku bermain nada seirama suara hujan di atap juga nada yang menerpa dinding bambu. Ketukan-ketukan lembut oleh ujung-ujung jari yang telah sembuh dari trauma pada peniti.

 

Tik … tik … tik …

Ces … ces … ces …

Pelan saja seirama detik waktu lalu semakin cepat,

Tik . tik . tik .

Ces . ces . ces .

 

Semakin cepat dan tak berirama lagi. Saat itulah dengan pintarnya aku menguji teori manusia sok pintar itu. Mereka yang berbicara soal depresi dan tekanan. Kata mereka, orang yang depresi cenderung melukai diri sendiri dan menikmati setiap luka yang dibuat di atas tubuh mereka. Aku hanya ingin menguji teori itu.

 

Dan sialan, mereka benar. Manusia sok pintar dan sok pengertian itu. Mereka benar soal depresi juga kenikmatan. Semakin sakit luka di tubuhku semakin nikmat luka itu kutertawakan.

 

Jika kemarin dari kemarinnya kemarin hanya ada nikmat maka hari ini ada nikmat juga lelucuan yang memuaskan. Demi lebih memuaskan lagi kugoreskan satu garis di pergelangan tangan dengan bilah bambu yang kulepas paksa. Nikmat dan lelucuan bertambah.

 

Kuhirup aroma kenikmatan yang jatuh tetes demi tetes dan memerah di atas kain sarung, basah dan membekas. Demi semakin nikmat, kugores semakin dalam, merah dan lebar.

 

Tetes-tetes merah menjelma aliran merah tak terputus, tumpah di atas paha. Aku merasa seperti melayang bagai mabuk sebutir ekstasi atau sabu-sabu. Ringan dan damai. Dunia menjadi milikku, menyoraki kemerdekaan jiwa yang terlepas dan melayang. Ah, pintar sekali aku ini.

 

Baik ekstasi maupun sabu-sabu itu belum pernah kulihat, kuraba dan dan kuhirup. Aku hanya membayangkan seperti apa benda pembebas tekanan yang menjebak manusia-manusia depresi.

 

Sedang memikirkan benda-benda sialan itu, jiwa bebasku terus melayang siap menabrak atap seng gajah mada. Kututup kepalaku dan sedikit menunduk agar tidak terketuk. Tetapi sayang, aku terus naik, menembusi seng yang tua termakan waktu, keluar menyongsong hujan. Aku tidak basah, rinainya tak menyakiti diriku.

 

Kulirik dunia yang mengelilingi gubuk itu, dedaunan layu dan kotor telah bersih, segar dan hijau. Debu yang menempel jatuh dalam kubangan lumpur. Andai saja sempat, pasti dapat kunikmati genangan itu, berlari mengelilingi kandang ayam, menjejaki kaki pada tanah berlumpur.

 

Sayang sekali, aku terlambat. Kulihat lagi loteng yang memerah darah. Terkulai tubuh tak bernyawa, pucat dan masih hangat di balik kelabu biru. Tangan kurusnya terulur dengan luka yang menganga di pergelangan tangan. Darah menggenang di atas tikar upin ipin, mengental dan pasti amis.

 

“Tubuh itu, seorang wanita yang mati mengenaskan dalam depresinya. Ia mati lantaran ditinggal kawin suami yang tergoda sahabatnya.” Begitulah akan terdengar rumor yang beredar di seluruh sudut kampung dalam satu minggu yang akan datang.

 

Ah, masa bodoh. Hari ini, satu hari dalam bulan Juni, untuk pertama kalinya aku membunuh salah satu tokoh aku dari aku-aku lain yang selalu datang dengan depresinya. Iya, aku terpaksa membunuhnya. Aku-aku itu, mereka terlalu kurang ajar.

 



Lembata, 4 Juni 2019.

 

Elisabeth Bengan. Lahir di Lembata, 4 Agustus 1991. Pernah menerbitkan sebuah antologi cerpen bersama teman-teman komunitas menulis yang berjudul Happiness in the Difference. Cerpennya yang berjudul Sepasang Sandal Ayah menjadi cerpen terpilih dalam event bertema Usang yang diadakan penerbit Harasi. email: Soromakingelisabeth@gmail.com Fb : Elbengan

 

Photo by Akshar Dave from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.