Topbar widget area empty.
Mengejar Impian (Tanpa) Ayah Cover Resensi Abdi Tampilan penuh

Mengejar Impian (Tanpa) Ayah

Oleh: Winarti

 

 

Judul buku      : Mengejar Impian Ayah

Penulis             : Abdi Siregar

Penerbit           : JWriting Soul Publishing

Cetakan           : I, Februari  2019

Tebal               :181 halaman

ISBN               : 978-602-5775-27-7

 

 

Berapa banyak sudah penulis novel di Sumatera Utara ini? Anda bisa menjawabnya sendiri. Dengan munculnya nama Abdi Siregar ini menambah jari kita untuk memamerkan deretan nama novelis di Sumatera Utara. Abdi Siregar lahir di Pematang Siantar, 2 Desember. Ia seorang pengajar di pesantren Al-Khoir Padang Lawas. Penulis jebolan Forum Lingkar Pena Sumatera Utara dan pembina Win’s Sharing Club ini sedang enerjik membidani lahirnya komunitas penulis Forum Literasi Santri Padang Lawas. Menebarkan ilmu yang ia miliki kepada para generasi Robbani.

 

Mengejar Impian Ayah, demikian judul novel ini. Gara-gara novel ini, sang penulis bak ketiban durian runtuh, dia bukan hanya rajin diundang publik untuk ngobrol tentang dunia literasi tapi juga dicari publik untuk menjadi pembicara materi parenting, padahal usianya terbilang masih sangat muda untuk menjadi orangtua. Namun dari novel ini khalayak seperti ingin menimba pengetahuan padanya mengenai cara mendidik buah cinta yang dititipkan Allah pada kita semua. Ini terbaca pada sosok Rusli Siregar –tokoh utama dari novel ini- yang menjadi ayah bagi Mara Siregar, yang kisah hidup Mara menjadi sorotan tajam pasca ayahnya meninggal dunia.

 

Sebelum Rusli meninggal, ia bagi Mara dan masyarakat sekitar adalah sosok ayah terbaik sedunia yang sangat bertanggungjawab dan berpegang teguh pada agama. Meski dihantam badai kemiskinan, ujian berganti-ganti, ia tetap berdiri. Ia hanya seorang pedagang kerupuk, tapi impian untuk anaknya tak pernah melempem. Rusli tak memiliki pendidikan tinggi, tapi tak boleh demikian kepada anaknya. Impian besar Rusli adalah Mara harus sekolah agama, Universitas Islam Madinah. Bagi Rusli agama adalah nomor wahid dalam berkehidupan di dunia dan akhirat.

 

Selanjutnya yang terjadi pada Maya –ibu Mara- adalah hari-hari yang ngilu. Menjadi orangtua tunggal dengan dua buah hati tentulah sukar. Fitnah mampir di teras kehidupannya, jauh dari cukup menjadi santapannya, hingga Mara terpaksa harus diam-diam tak bersekolah dan menjadi buruh kecil ikan asin di sebuah pajak demi tak ingin melihat airmata ibunya, padahal Maya menginginkan agar Mara tetap bersekolah demi impian ayahnya: sekolah agama yang tinggi. Di sinilah konflik dalam novel ini hadir bertubi-tubi dan tentu saja menguras airmata pembaca.

 

Latar tempat di novel ini adalah Kampung Tempel, Pematang Siantar. Begitulah penulis, selalu menulis yang terdekat dengan kehidupannya. Abdi Siregar bisa jadi sedang mendokumentasikan “tanah airnya sendiri”, cara ia berterima kasih pada pijakan tanah yang telah mendewasakannya.

 

Pun menulis adalah cara bertahan dari kegelisahan. Jika Anda gelisah, sedang sakit, atau patah, maka menulislah. Itu cara, itu benteng bertahan untuk sebuah kekokohan. Banyak sudah terapi menulis yang dijadikan obat bagi pasien yang terkena stres, struk, dan patah hati. Abdi Siregar setidaknya telah berhasil keluar dari kegelisahan perasaan dan pikirannya tentang apa yang ingin ia lakukan selama ini, klimaks dari impiannya bisa jadi ada di buku ini. Tentang bagaimana seorang Abdi gelisah mengenai banyaknya orangtua yang gagal dalam mendidik anak-anak mereka, tentang impian yang sebenarnya harus dibela mati-matian, tentang perempuan yang menjadi korban zina mata dan hati para laki-laki, tentang para anak-anak yang harus dirawat masa depannya, tentang adab bertetangga yang baik, bahkan tentang wajah murung anak yang mungkin tak bergairah pergi ke sekolah karena tak kenyang perutnya, tak senang hatinya, dan tak tenang pikirannya.

 

Bagi orangtua yang membaca buku ini akan melek bahwa anak-anak kita bukan hidup di zaman yang sama dengan kita. Kita harus mendidik anak kita sesuai zamannya, begitu pesan Ali bin Abi Thalib jauh berabad-abad yang lalu.



 

Winarti. Penulis adalah dosen program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU, memiliki nama pena Win RG.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*