Topbar widget area empty.

Seperti Angin

Oleh: Edy Firmansyah

 

PERISTIWA YANG TAK BIASA

 

Akhirnya segalanya akan tiba pada hari yang tak biasa

pada suatu masa yang tak akan pernah kita ketahui

apakah kau masih memimpikan peristiwa ini:

 

Kau tersenyum dan merebahkan tubuhmu di rerumputan

sambil membenarkan rambutmu yang tergerai

menungguku dengan sepenuh kerinduan

 

Matahari suram

angin dingin turun dari bukit-bukit yang temaram

menuju lembah, di belakang sebuah sekolah

dimana kita pertama bertemu

dan saling memandang

dengan jantung berdebar

 

Kemudian kau duduk

memandang matahari tenggelam

meresapi hari yang perlahan

memercikkan bintang-bintang

 

Apakah kau masih tenggelam dalam mimpi-mimpimu?

saat aku dating hari itu, peluklah aku lebih mesra

lebih dalam

agar kurasakan detak jantungmu

lalu berbisik di telingamu:

 

“Setelah hari ini, segalanya tak akan pernah lagi sama

kecuali luka dan kekosongan”

 

Sebab aku akan datang

tanpa jejak kaki di rerumputan

 

Madura,2019

 

 

 

 

SAAT AKU BERANGKAT KERJA

 

 

Saat aku berangkat kerja

kusaksikan:

kota melahirkan manusia gegas

dari lorong-lorong gelap

dan traffic light yang padat

wajah-wajah tak dikenal

wajah-wajah yang mungkin dikenal

saling bertemu

tapi waktu

terlanjur menciptakan

rasa asing perjumpaan

 

Separuh hidupku

dihabiskan di jalanan

aku binatang tergesa

dari kumpulan tanda tangan

dan honor beban kerja

seperti apakah kau menghabiskan

hidupmu?

 

Saat aku berangkat kerja

kota-kota membentangkan aspal

manusia-manusia sekarat tumbuh di atasnya

lalu berjalan tergesa, terhuyung

hingga menghilang di tikungan

bersama krodit laju motor, bising klakson

 

Lalu bergemerincing kepedihanmu

mata yang sayu, menatap kosong

kerling lampu-lampu motor

 

Aku menatapmu

sepasang mata tak dikenal

bertemu.

dari matamu

nyala mesin absensi menunggu

dan manusia berlari, tapi

tak bias memutar kembali waktu

 

2017-2019

 

 

 

SEPERTI ANGIN

 

Untuk memiliki cinta kau harus member cinta

 

Udara bergema pada segala yang berongga

yang memerangkap kita, angin itu

amis laut yang setia, sayangku

ia ikuti jalur pasir kesedihanmu

jejaknya memanjang mengikuti gigil pantai air matamu

ombak menghapusnya, tapi ia membagi desir

seperti pelukan, seperti mimpi

seperti suara segala baying yang telah mati

yang menemani segala sendiri

 

Lalu ia berakhir di pepohonan, melenyap



tanpa pernah ingin menjadi mercu suar atau perahu

wahai kekasih, aku ingin menjadi angin itu

memberikan segala, segala-galanya

maka berhentilah menjadi peragu

sebab cinta adalah keberanian member dan keberanian

tak memiliki apa-apa

 

Madura,2018-2019

 

Edy Firmansyah adalah penyair. Buku antologi puisi tunggalnya yang pernah terbit, antaralain: Derap Sepatu Hujan (Indie Book Corner, 2011) dan Ciuman Pertama (Penerbit Gardu, 2012). Beberapa Puisinya juga berserakan dalam antologi bersama, diantaranya: Dian Sastro For President! Endof Trilogy (AKY & Insist Book, 2005) Tuah Tara No Ate: Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, 2011), 100 Puisi terpilih Gelombang Maritim (Dewan Kesenian Banten dan SNBook, 2016), MENAPAK KE ARAH SENJA: Sepilihan Puisi Sastra Digital 2011-2014 (Buku Sastra Digital, 2017), Bima Membara (Halaman Moeka Publishing, 2012), Agonia: antologi penyair Jember-Jogya (IBC&Tikungan, 2012), juga tersebar di media cetak dan online seperti: Harian SURYA, Radar Madura, Radar Surabaya, Pojokpim.com. Bisa dihubungi via twitter: @semut_nungging

 

Photo by VisionPic .net from Pexels
Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.