Topbar widget area empty.
Perang Gagasan dalam Sastra Indonesia Cover Idea Tampilan penuh

Perang Gagasan dalam Sastra Indonesia

Oleh M. Muckhlisin

 

Sehebat apapun ide dan gagasan dalam pikiran Anda, jika Anda tak punya kecakapan dan kejeniusan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, maka ide-ide besar itu akan hilang dan lenyap, seiring dengan batas-batas usia Anda.

 

Pada zaman pendudukan Jepang, para jurnalis dan sastrawan berkarya sesuai dengan koteks zamannya. Pemberontakan terhadap pendudukan Jepang sangat dominan dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang fenomenal. Fasisme Jepang marah besar, hingga memutuskan pembentukan kantor propaganda untuk menjegal karya seniman yang dianggap membangkang. Kita bisa memahami jika pada fase ini Sutan Takdir Alisjahbana (STA) absen dan tidak menulis satu karya pun dalam bentuk sastra. Memang karya-karya STA lebih bercorak pro-Barat, serta minim nuansa perjuangan kerakyatan. Meskipun STA memiliki kecakapan yang luar biasa untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk karya sastra.

 

Di era tahun 1960-an, tarik-menarik antara kubu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifesto Kebudayaan (Manikebu) sangat mencolok. Lekra lebih mengutamakan pendidikan kerakyatan sesuai dengan garis politik partai, sedangkan Manikebu mengacu pada perjalanan kesusastraan dunia yang sedang berkembang. Dari sisi kepentingan nasionalisme Lekra lebih menonjol, karena sesuai dengan amanat bapak bangsa bahwa kemerdekaan tahun 1945 hanyalah jembatan emas. Bangsa Indonesia harus mencapai kemerdekaan dalam pengertian yang lebih imanen dan mendalam.

 

Baik kubu Lekra maupun Manikebu, sama-sama membangun benteng pertahanan, bersikukuh pada pendiriannya masing-masing. Agitasi dan propaganda di bidang kesenian terus disemarakkan, seiring dengan munculnya gerakan separatisme yang merongrong kemerdekaan RI (DI/TII, PRRI Semesta dan lain-lain). Hingga tak urung, Pramoedya Ananta Toer menyatakan bahwa di negeri yang subur dan makmur ini, bom waktu kolonialisme kapan saja bisa meletus.

 

Meletusnya peristiwa 30 September 1965 tak lepas dari pesan-pesan yang disampaikan sastrawan yang beberapa kali masuk nominasi nobel tersebut. Sampai di kemudian hari terhimpun data-data akurat bahwa kepentingan negeri-negeri imperialisme, melalui bantuan-bantuan dana kepada kekuatan militerisme Indonesia (Angkatan Darat) tak bisa disangsikan lagi. Dalam buku “Kekerasan Budaya Pasca-1965” (Wijaya Herlambang) disampaikan dengan cermat, bagaimana propaganda dan oligarki di bidang perbukuan, terlebih karya sastra, telah membuat banyak pihak kebakaran jenggot. Terutama para sastrawan sepuh yang selama ini berkarya untuk mengabdi sebagai anak-anak emas dewa kemenangan.

 

Pemikiran-pemikiran kaum liberal terus diproduksi dan disebarluaskan melalui media massa kapitalis. Hal demikian, untuk memisahkan kesenian yang berbasis kerakyatan dengan cita-cita kebudayaan imperialisme yang digalakkan oleh negeri-negeri kapitalis. Rendra dan Goenawan Mohamad di usia senjanya mengakui dengan legowo, bahwa kala itu mereka terhanyut dalam iklim dan suasana politik yang belum dimengerti. Dengan mendirikan Komunitas Utan Kayu (KUT) dan merekrut angkatan muda yang peduli pada kebenaran penulisan sejarah tentang peristiwa 1965, Goenawan rela mengabdikan dirinya di tengah-tengah mereka. Penulis novel “Pikiran Orang Indonesia” mengakui pertemuan para peneliti historical memories di Gedung Kebudayaan Jogjakarta beberapa tahun lalu, di mana Goenawan Mohamad, John McGlynn, Mary Zurbuchen, Hersri Setiawan dan Asvi Warman Adam bertindak selaku pembicara utama.

 

Terkait dengan itu, Pramoedya tidak hanya bicara dan menulis opini, tapi juga menuangkan gagasan besarnya dalam karya sastra yang menakjubkan. Baginya, rakyat Indonesia yang terkungkung penjajahan selama berabad-abad, harus berupaya keras untuk merebut kemerdekaannya. Bukan hanya kemerdekaan fisik dan badan, tapi juga merdeka secara kejiwaan, merdeka dari mental-mental inlander, bahkan merdeka dari kemungkinan munculnya bom waktu kolonialisme. Artinya, rakyat Indonesia harus mampu membebaskan diri dari kemungkinan munculnya penjajah-penjajah kesiangan, musang-musang berbulu domba. Dari orang-orang sakit hati dan pendendam, yang bangkit dari mental keterjajahan, kemudian tampil menjadi penjajah baru. Dulunya menjadi budak, setelah tampil sebagai penguasa dia gemar memperbudak dan memperalat rakyat yang dipimpinnya.

 

Karena itu pergerakan sastra sebagai alat perjuangan adalah keniscayaan, tak peduli apakah ia diterima publik atau tidak. Terlepas apakah ia dilayani penerbit kapitalis ataupun ditolak. Sampai pada akhirnya, oleh perjalanan waktu (terkadang berpuluh tahun) kaum resisten itu terpaksa mengakui kebenarannya. Seperti halnya pengakuan Jacob Oetama (Kompas dan Gramedia) yang di usia senjanya menyadari, “Pada prinsipnya kita harus mengakui semua pihak yang berjuang bersama-sama untuk mengajak di jalan kebaikan.”

 

Sastra sebagai alat perjuangan pada akhirnya bertemu dalam harmoni dan kesenyawaan untuk mengajak kebaikan bersama. Para penulis muda yang berpijak pada estetika sastra sebagai alat perjuangan semakin bermunculan. Termasuk jenis-jenis yang belakangan lebih bertumpu pada corak sastra Islam sebagai media perjuangan. Apakah hal tersebut menjadi suatu garis aliran atau partai? Apakah hal tersebut semacam pembelotan atau pengingkaran? Saya kira tidak. Sebagai negeri yang penduduk muslimnya terbanyak, alangkah wajar jika sastra yang bercorak Islam mendapat kesuksesan secara komersial. Di samping ia mengandung nilai estetika tersendiri, juga di dalamnya terkandung ketulusan untuk ikut berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Tapi melalui tulisan ini saya ingin menegaskan tentang adanya pola yang berulang dalam pertarungan dunia sastra, seperti dua pertarungan dalam cabang-cabang seni sebagai media dakwah, baik di bidang tulisan, musik hingga perfilman dunia. Dua kubu itu besandar pada corak pemikiran filsafat sebagai inti dari semua cabang ilmu kesenian, yakni antara idealisme dan eksistensialisme. Dakwah yang disampaikan sastrawan maupun seniman yang bertumpu pada filsafat eksistensialime, memandang kehidupan manusia dalam siklus kelahiran dan kematian sebagai mata rantai kebetulan belaka. Bagaikan benang-benang kusut yang merupakan kodrat dan takdir hidup yang diterima manusia apa adanya. Karena sejak lahir manusia tak pernah diberi kemerdekaan untuk memilih keluar dari perut siapa, di mana, kapan, bagaimana, dan mengapa harus menjadi manusia. Perspektif sastrawan yang bertumpu pada filsafat eksistensialisme ini nampak pada karya-karya Albert Camus, Sartre, Lorca, dan lain-lain.

 

Penderitaan dan kegetiran hidup sebagai tema sentral dari sastrawan beraliran eksistensialime, nampak pula pada beberapa karya sastrawan Indonesia seperti Iwan Simatupang, Putu Wijaya hingga Rendra. Meskipun akhir-akhir ini tidak sedikit para penerusnya yang memilih alternatif baru dengan mengambil corak sastra Islam, dengan keterampilan menulis yang sudah terbina dari upaya menikmati sastra Indonesia terdahulu.

 

Sedangkan dalam sastra beraliran idealisme, lebih terilhami pada kepercayaan dan iman kristiani sebagai pegangan religiusitas yang memengaruhi dunia sastra Eropa hingga Amerika, dan terus merambah bersamaan dengan maraknya politik etik di negeri-negeri jajahan mereka.

 

Di Indonesia, sejak zaman Balai Pustaka, kalangan sastrawan tak bisa melepaskan diri dari semangat untuk mendidik, terutama setelah ikrar Sumpah Pemuda hingga era kelahiran Indonesia sebagai suatu nasion. Setelah negara baru ini lahir, segala bidang kehidupan, tak terkecuali kalangan seniman dan jurnalis memiliki semangat bergelora untuk saling membangkitkan. Rakyat dididik agar pintar, dan gerak perubahan ke arah sana mesti dipercepat. Dengan demikian hingga hari ini, seniman dan jurnalis tak bisa melepaskan diri dari kodrat manusia yang harus bangkit dalam keterpanggilan dakwah, syiar, untuk mengajak orang-orang menuju jalan kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

 

Seniman dan sastrawan tidak boleh berlari menjauhi rakyat, dan mereka harus menyadari bahwa keterpanggilan itu bukan berarti mengisolasi diri dalam biara, atau beritikaf di tempat-tempat ibadah. Mereka tidak boleh bergerombol dalam komunitas sastrawan yang eksklusif, menyuarakan kebenaran dengan gaya bahasanya sendiri yang sulit dimengerti orang, dan karenanya sulit mencapai legitimasi semua pihak.

 

Wilayah tulisan, literasi dan sastra, yang kemudian diakui dan dilegitimasi oleh banyak pihak, merupakan dunia tersendiri bagi orang-orang jenius yang aktif menekuni bahasa. Mereka bereksperimentasi dengan bahasa, serta keberanian mengorbankan ruang dan waktu untuk masuk dalam kegilaan menekuni bahasa. Sangat jarang orang yang diharapkan mampu memiliki ketekunan menggeluti bahasa, seperti halnya tidak semua orang memiliki ketabahan berhadapan dengan rumus-rumus matematika, ekonomi atau angka-angka dalam fisika kuantum.

 

Para penulis opini, jurnalis maupun sastrawan, adalah mereka yang berkarya dengan pemahaman dan filosofi hidupnya, tentang apa yang berguna bagi kemaslahatan umat. Semua itu tak lepas dari nilai-nilai esensial bagi kebaikan manusia agar dilajani. Mereka mempelajari tips-tips maupun teknik yang bagus untuk mempersembahkannya kepada Anda. Karena mereka meyakini, sehebat apapun ide dan gagasan dalam pikiran Anda, jika Anda tak punya kecakapan dan kejeniusan untuk menuangkannya dalam tulisan yang baik, maka ide-ide besar itu akan hilang dan menguap, seiring dengan batas-batas usia Anda. ***

 

Muckhlisin adalah kritikus sastra kontemporer, pemenang pertama lomba cerpen nasional (2017).

 
Foto oleh Engin Akyurt from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: