Topbar widget area empty.
Sehabis Menangis, Matanya Selalu Tampak Lebih Cantik mata cover Tampilan penuh

Sehabis Menangis, Matanya Selalu Tampak Lebih Cantik

Oleh: Anec Fadia

 

 

Sebagai orang yang dipercaya untuk mengurusi masjid desa, aku tentu tahu siapa yang biasa keluar-masuk masjid. Mengisi bak air kamar mandi, membersihkan debu-debu yang mungkin mengganggu jamaah, mengumpulkan daun-daun yang jatuh dan berserakan di halaman merupakan rutinitas yang tidak memerlukan tenaga yang begitu ekstra. Rasa bosan yang mendera sesekali ada, seperti hari-hari buruk yang tetap datang tanpa diminta.

 

Hingga pada suatu subuh yang lumayan gerah, sepertinya aku memiliki alasan untuk menghilangkan rasa bosan itu. Pada subuh yang kumaksud, sebagian jamaah memutuskan pulang, sebagian lainnya akrab bercengkerama seputar ternak atau hasil panen di serambi masjid. Di bawah temaram lampu yang menua, seorang perempuan menangkupkan tangannya menutupi wajah di lantai dua, tempat salat jamaah putri. Niatku yang semula hendak mematikan lampu, kuurungkan. Sayup-sayup kudengar perempuan itu tersedu, pilu. Lalu kuputuskan menunggu di halaman masjid untuk memastikan wajah di balik tangan tertangkup itu.

***

 

Di desa ini, namanya selalu dibicarakan. Pipinya yang rona, alisnya yang serupa sabit dan keindahan-keindahan lain yang tidak perlu aku katakan dalam dirinya menjadikan dia sebagai buah bibir warga. Kepada seseorang yang disebut sebagai kembang desa, aku tidak pernah mau menaruh simpati. Memperhatikannya sama saja dengan menanam biji harapan yang setiap harinya akan tumbuh dan membesar.

 

Dahlia, kembang desa. Subuh yang gerah itu ternyata mengantarkanku pada simpati yang tidak biasa. Kecantikan, aku tahu, dimiliki wajahnya. Tetapi pada subuh itu, aku yang penasaran menantinya di muka gerbang masjid tertegun lama. Matanya menyimpan bening telaga, ketenangan samudera, dan cahaya purnama. Aku masih bisa menangkap air yang enggan turun dari bulu matanya.

 

Setelah kejadian itu, aku memiliki kebiasaan baru, menunggunya di muka gerbang sehabis salat Isya dan Subuh, untuk memperhatikan matanya. Sebuah perasaan suka atau obsesi? Aku tiada pernah bisa membedakannya.

***

 

Selang sebulan, kebiasaanku itu makin menggila. Aku merasakan perbedaan kesan saat menatap mata Dahlia ketika isya dan subuh. Hanya pada subuh, aku dapat melihat bening telaga, ketenangan samudera, dan cahaya purnama dalam matanya. Sementara tidak pada isya. Apa karena setiap subuh Dahlia menangis, seperti dilakukannya saat pertama aku “memergokinya”? Ya, memang, setelah salat subuh Dahlia tidak akan langsung pulang. Dia memanjatkan doa yang sangat panjang sambil lalu tersedu. `

 

Apa yang ia minta, yang ia adukan pada Tuhan hingga harus tersedu begitu di waktu subuh? Pertanyaan itu mengusikku untuk mencari tahu.

 

“Dahlia memang cantik, Mad. Jangan sampai melotot begitu lihatnya!” Pak Marwan, takmir masjid, menegurku. Aku cengengesan.

“Pak, Dahlia itu kenapa sih?”

“Maksudmu, Mad?”

“Kenapa dia menangis kalau subuh?”

“Oh itu. Masa kamu tidak tahu?”

“Tidak, Pak.”

“Ya, sudah. Tidak usah tahu!”

 

Pak Marwan berlalu.

 

“Memangnya kenapa, Pak?”

 

Pak Marwan tidak menghiraukanku. Aku tetap penasaran. Jadilah aku bertanya pada orang-orang di warung, di pasar, di jalan, atau bahkan di masjid. Tidak ada seorangpun yang mau menanggapinya serius.

 

“Mamad, Mamad. Ya dia kepingin nangis aja!”

“Kamu suka Dahlia, Mad?” atau jawaban-jawaban yang sengaja meledekku. Warga desa menyebutku terobsesi pada Dahlia. Kabar itu menyebar hingga sampailah di telinganya. Saat di masjid, Ibu-ibu sengaja menggoda Dahlia saat aku berada di dekat mereka. Tetapi Dahlia seperti patung kokoh yang tidak tersentuh apapun. Godaan ibu-ibu tidak mengubah sikapnya, termasuk kepadaku.

 

Dari sekian banyak jawaban yang kuperoleh, jawaban Pak Marwan yang selalu mengganggu pikiranku.

 

“Karena dia khusyu’ berdoa, makanya dia menangis!”

 

Doa dan tangis?

 

Karena tangis dalam keheningan antara hamba dan Tuhan menunjukkan kesungguhan akan sesuatu yang ia minta, ujarnya.

 

Tetapi pertanyaanku belum terjawab. Mengapa Dahlia menangis saat subuh?

 

Aku mencegat Pak Marwan di suatu senja, ia tengah bersiap untuk adzan maghrib, aku mengatakan padanya bahwa aku sungguh ingin tahu. Melihatku mengiba begitu, Pak Marwan akhirnya mau bercerita dengan syarat ia tidak akan membuka mulut kepada siapapun setelahnya. Ia setuju, dan mengalirlah cerita itu dari mulut Pak Marwan.

 

Itu adalah ketidaksengajaan di masa lalu, katanya. Kenakalan, keusilan, dan keawaman anak-anak berumur 4 tahun. Dahlia kecil saat itu ingin membangunkan Ibunya yang pulas di ruang  tengah rumah karena semalaman mempersiapkan acara seribu hari kakeknya. Sebab tak kunjung bangun, Dahlia yang melihat pisau tergeletak di dekat Ibu menggunakannya untuk membangunkan Ibu. Dahlia menirukan Ibu saat hendak memotong sayuran tepat di nadi sang Ibu.

 

Dahlia belum memahami apa-apa. Oleh ayahnya dia didekap, di kedua pipinya air mata tak hentinya mengalir. Dalam diri laki-laki itu kemarahan dan ketidaktahuan menyatu membentuk pemaafan yang getir. Mulai saat itu, warga desa seperti sengaja ingin menghapus “kesalahan” Dahlia dari pembicaraan, dari sejarah. Menghapus luka ayah dan memaafkan keawaman sang anak.

 

“Cukup, Pak. Saya mafhum.” ucapku akhirnya.

“Kamu suka Dahlia, Mad?”

***

 

Aku tetap suka memperhatikan mata Dahlia setiap subuh. Tidak ada yang berubah dengan kebiasaan Dahlia, atau dengan kebiasaanku. Dahlia yang tidak peduli pada apapun kecuali pada doanya, dan aku yang tetap menyukai matanya yang menyimpan bening telaga, ketenangan samudera, dan cahaya purnama.

 

Beberapa hari setelah aku mendengar cerita dari Pak Marwan, aku memberanikan diri menyapa Dahlia. Dia melintasi halaman dan hampir mencapai gerbang ketika kusebut namanya.

 

“Dahlia…”

 

Langkahnya terhenti. Matanya menatapku keheranan. Di bening telaganya, aku melihat diriku lumpur yang mencemarinya.

 

“Kenapa, Mad?” ia masih menatapku. Matanya seperti habis dibasuh dari dosa-dosa.

 

Annuqayah, November 2019.

 

Anec Fadia, nama pena dari Nur Fadiah Anisah. Saat ini sedang bergiat di Forum Literasi Santri (Frasa) PP. Annuqayah Lubangsa Putri.

 

Foto Oleh Jonathan Borba from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.

%d blogger menyukai ini: