Topbar widget area empty.
Tuhan Aku Terluka Cover Luka Tampilan penuh

Tuhan Aku Terluka

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

 

Ramai. Berisik. Sibuk. Terluka.

 

Kata-kata yang harus aku telan sebagai ketergantungan hidup pada situasi. Telingaku ingin rehat, mataku ingin teduh, mulutku ingin bungkam. Pikiranku ingin tidur. Barang kali sejenak, atau biarkan ia bebas. Napasku kacau, segala hal ingin dihela. Lelah, aku ingin rehat.

 

Sedari tadi kepala pusing, dahi mengkerut. Ingin muntah, ingin lari, ingin berteriak. Biar semesta yang memeluk. Aku bosan, ingin pergi. Tapi terlalu takut, mungkin kedua kaki ini yang masih ragu.

 

“Mampu kah?”

 

Irama ironi hidup tak ada habisnya. Tangga nada seperti tidak berhenti di angka 7. Mungkin pada nada lain, yang ingin dimengerti. Sekelilingku sibuk. Berbicara tak ada habisnya, memamerkan pacar atau habis bersetubuh.

 

Mata-mata saling paut, menyusahkan. Meninggalkan ampas berahi. Berfoto ria, dengan gaya ke kinian. Berulang kali, merasa tak puas, atau bosan dengan itu itu saja? Sedang aku terpaku pada layar ponsel. Malam ini, sudah beberapa grup ditinggalkan. Kebanyakan mereka berbica kebahagian dusta. Aku penat dengan kalimat-kalimat yang tak hentinya membuat ponselku berteriak-riak. Aku resah, mereka seolah tak peduli.

 

Tak pernah ada tanya “kau baik-baik saja?” Yang ada hanya tanya “kafe mana lagi akan disinggahi?”

Seperti yang aku lakukan saat ini, sendiri di dalam kafe yang hingar-bingar.

 

“Kau egois,” ragaku ikut menghakimi.

 

Aku tidak peduli.

 

Malam semakin pekat. Kafe semakin ramai, jengah, aku pamit. Membiarkan sisa kopi tadi membicarakan kecemasanku pada sendok, vas bunga, kursi, meja, atau pramusaji yang akan mengangkat cangkir kotor itu.

 

Ah, aku rasa di tak akan paham.

 

Lampu kota berpendar-pendar, terlihat memblur. Di trotoar, kaki ini loncat-loncat. Tanganku menari-nari, mulutku bernyanyi sumbang. Hal yang tak lagi dilakukan sejak belasan tahun, seolah percaya diri akan kedewasaan yang hambar. Aku terjebak pada kerumitan yang membuat ruang hampa di antara jiwa dan logika.

 

Semua dalam tubuh ingin berteriak, namun terbungkam. Mereka tidak suka.

 

“Kau terlalu idealis,” kata mereka, culas.

 

Aku malas pulang. Mulut ibu penuh bisa. Dari lisannya, melempar duri-duri ikan yang mengenai hati dan jantung. Ia menyumpah serapah, seoalah aku bukan anaknya. Rumahku istanaku, cemohan halus untuk memadamkan kobaran api dalam rumah yang mirip neraka.

 

Aku ingin dimengerti, ibu!

 

Tapi dia tidak paham. Menurutnya, dia adalah korban. Bukan pelaku. Sementara akau? Pelaku di atas pelaku.

 

“Kau terluka,” kata jiwaku, kali ini ia menaruh simpati. Sedang raga, bungkam. Aku keras kepala, katanya.

 

Aku semakin pusing. Hanya ingin memberi kebebasan pada seluruh bagian tubuh untuk menikmati penciptaan. Aku hanya menuntun mereka untuk kebebasan.

 

“Luka seperti apa?” tanyaku, ragu. Kali ini raga ikut tertawa. Aku seperti dipermainkan.

 

Dia bilang, aku terjebak pada krisis kepercayaan. Tidak bebas seutuhnya dalam menikmati penciptaan. Seolah aku adalah barang rongsokan, yang selalu ingin dimengerti. Aku terluka, hanya karena tidak mencintai diri sendiri.

 

Jiwa, aku ingin tenggelam dalam tenang. Berenang-renang di antara kepingan bahagia. Atau berlari-lari di atas jembatan waktu yang ujungnya terlihat suram.

 

Masihkah kau bilang aku terluka?

 

“Jiwa raga kami milikmu seutuhnya.”

 

Jangan racuni aku, atau kubiarkan raga dan jiwa ini mati. Beri aku kesempatan untuk datang ke lalu. Hanya unyuk bilang, “Tuhan, aku terluka.”



 

Cerita ini terinspirasi dari lagunya Kunto Aji – Rehat

Gg. Mangga 00.14 wib

November 2019

 

Foto oleh Marcelo Issa from Pexels

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.