Topbar widget area empty.
Saberhala cover saberhala Tampilan penuh

Saberhala

Oleh: Mhd. Ikhsan Ritonga

 

 

Saberhala

 

Matamu menikam sukma yang bergelut dengan cerita

Menyanyat purnama bagai celurit di dada senja

Hanya seorang petani di tanah Angkola

Mencinta puteri raja di bumi Gordang Sambilan

Tinggallah sehelai kain dalam pelarian

Menerobos waktu menerjang pilu

Saberhala sebab jelata dipandang lemah

Tuhor menjadi tahta dan memikat mata raja

Menjadi satu dalam ikatan asmarandana

 

Saberhala : Istilah kawin lari untuk masyarakat Angkola dan Mandailing

Tuhor   : Sebutan mahar dalam bahasa angkola

 

 

 

Harapan di tanah kelahiran

 

jatuhlah di kedalaman airmata

saat kupu-kupu merindu  malam

jalan menjadi kenang diantara sebongkah harapan

tentang waktu yang mendewasakan kita

taburan bunga pertanda kematian

pada jejak kaki di tanah kelahiran

sirene mengejar waktu dan kita terpaku tentang kesunyian

terperangkap sebab harapan tak kunjung datang

singgahsana masih enggan dengan tanah kelahiran

 

menabur harap, mata merindu sebab terkarap

ketika harga melonjak, sukma melemah sebab tersirat

gugur bunga kesekian kalinya, harapan bagai kesunyian

udara hari ini berbau mesra

tabir tersingkap dan langit berwarna senja

silih berganti menabur kenangan

di antara kesepian mereka membawa harapan

mata merah dan tubuh kumal tersingkap

mereka datang membawa harapan merdeka

tangan menadah di atas harapan, berdoa kepada tuhannya

tentang kemerdekaan di tanah kelahiran

harapan di tanah kelahiran untuk bayi-bayi tak berdosa

 

 

 

Selepas senja

 

yang kita hadirkan dalam setiap pertemuan adalah tangisan

sebab teringiang akan jarak yang akan membentang

di etalase kesepian dan jantung kota kamuflase kehidupan

menegur senja dikala kau beranjak saat itu



selepas senja kita menjadi titah

bersama malam yang bertengker dengan nelaksa

 

 

Mhd Ikhsan Ritonga lahir dan besar di Roncitan, 30 Juli 1998. Beberapa karyanya pernah di muat di media cetak dan media elektronik. Bergiat di Forum Lingkar Pena (Medan). Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Setapak Jalan (guepedia, 2019).

 

Foto oleh Jan Koetsier from Pexels
Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.