Topbar widget area empty.
Balada Api yang Lapar cover cerpen Anju Lubis Tampilan penuh

Balada Api yang Lapar

Cerpen Anju Lubis

 

 

Api itu melahap rumah serupa seorang bocah melahap kue tanpa menyisakan seberkas krim di jemarinya. Angin sore mencoba menyadarkan tetapi rasa lapar barangkali lebih menakutkan ketimbang amarah. Warga berlarian saling oper seember air. Sebagian menutup mulut yang ternganga dengan telapak tangan seraya merapal doa-doa. Aku hanya bisa mematung, mengerutkan dahi, memicingkan mata, api juga melahap sesuatu dalam diriku.

 

Tangis dan pekikan kian menggema di udara yang penuh asap keabuan, lirih dan lantang, sebagiannya berasal dari janda pemilik rumah itu. Kedua anaknya yang masih kecil takut melihat rumah yang kian rontok lantas memalingkan wajah dan berusaha menenangkan sang ibu. Di tanah yang sedikit basah, akibat hujan kemarin malam, mereka bertiga terduduk dengan lutut telanjang. Janda itu menjerit lagi, anak sulungnya menepuk punggungnya pelan kemudian. Sepertinya api mendidihkan sesuatu dalam hati mereka, sampai-sampai air mata begitu kencang merembes keluar.

 

Pemadam tidak ada di desa yang kecil seperti ini. Aku kurang mengerti mengapa bisa begitu. Yang aku mengerti cuma satu; Kalaupun pemadam datang, mereka tak mungkin bisa menghapus rasa lapar api sebelum rumah itu rata. Sebab separuh desa bekerja, baik pria atau wanita, untuk menghapus rasa lapar itu kendati semua sia-sia. Jika separuh desa tak bisa, apa yang bisa dilakukan sekumpulan orang berseragam? Barangkali tak perlu aku jawab. Aku hanya melihat dengan mata, tidak dengan angan-angan dan harapan palsu.

 

Aku mengenal janda itu pada hari kedua berada di desa ini. Waktu itu aku sedang ke warung, hendak membeli rokok usai menyusun segala barang di rumah baru. Aku dan istriku memilih menetap di sini, barangkali karena desakan kedua orangtuanya yang lanjut usia dan tak ingin jauh-jauh dari putri mereka. “Oh Tuhan, harga sayur makin hari makin mahal saja!” Janda itu sedang memilih sayuran sebelum ia menoleh ke arahku. “Ah, kau suaminya si Minar, kan? Datanglah ke rumahku sesekali, Minar dulu juga sering mampir.” Ia memberi senyuman yang ramah dan rendah hati. Ada kelembutan sejati seorang wanita yang ditampilkan dari raut wajahnya, dan keramahan yang menyentuh hati.

 

Bicara tentang umur, barangkali ia lima tahun lebih tua dariku. Suaminya meninggal tujuh tahun lalu karena kanker, meninggalkannya dengan sepasang momongan yang masih kecil. Tatkala aku dan Minar singgah di rumahnya pertama kali, kami dijamu, diangkat-angkat selayaknya raja. Mereka bercerita banyak hal, tentang Minar yang belajar menjahit darinya, tentang sambal lezat buatan Minar yang menjadi salah satu alasanku menyukainya.

 

Tapi ada tatapan lain yang ada di mata Minar. Di perjalanan pulang, ia tidak berbicara denganku. Hanya diam, lalu menatap nanar ke aspal yang abstrak. “Kau kenapa?” tanyaku kemudian.

 

“Tidak ada. Cuma kepikiran saja.”

“Kepikiran apa?”

“Tahu kau, ada yang bilang Kak Ani itu suka mengganggu suami orang. Biarpun aku sendiri kurang yakin karena sudah lama kenal dia. Kau tahu, dia itu cantiknya bukan main.” Aku diam, tak ingin melanjutkan pembicaraan lagi karena sadar apa yang ada di ujung pembicaraan ini. Raut wajah Minar, caranya berbicara yang berbeda. Wanita yang cemburu adalah makhluk hidup paling menakutkan. Aku percaya itu.

 

Selanjutnya aku bertemu Ani waktu aku sedang merokok di pinggir sungai. Sungai menggambarkan keheningan secara konkret, dan aku suka itu. Biarpun tidak banyak penduduk di desa ini, keributan selalu terdengar. Di sudut desa ada sebuah kilang kayu. Di sudut lainnya ada bengkel las yang baru dibuka. Barangkali karena penghuni desa yang sedikit, juga perkembangan zaman yang membuat para petani tak mendapat kecukupan nafkah. Suara-suara dari tempat yang remeh itu boleh terdengar ke segala penjuru. Satu-satunya tempat hening, sungai yang berada jauh di belakang permukiman melewati jalan setapak di sebelah kuburan. Aku kadang kemari untuk menonton anak-anak yang berusaha menangkap ikan. Kadang hanya merokok seperti saat ini  jika tidak ada anak-anak di sini.

 

“Ah,” Ani terkejut melihatku duduk seperti penunggu sungai. “Aku mencari Romi. Dia tak ada di sini?”

 

Aku menggeleng. Ia kemudian menoleh beberapa kali, mencari-cari sampai ke ujung sungai. Romi, anaknya, memang sering kemari. Tapi hari ini aku belum melihatnya. Mungkin dia ke tempat lain hari ini. Aku mendengar mereka cerita tentang kolam ikan baru yang dibuat Pak Sukir di belakang rumahnya waktu terakhir kali mereka bermain di sungai ini. Aku menyampaikannya pada Ani, lalu ia berterima kasih. Tapi aku melihat ada perubahan di matanya begitu mendengar nama Sukir.

 

“Ada apa?”

“Tidak, aku cuma ada masalah dengan Pak Sukir.”

 

Aku mendesaknya. Sebab aku kenal baik Pak Sukir. Ia orang yang baik, dan baru beberapa hari yang lalu ia membantuku memperbaiki genteng rumahku. Kami biasa bertemu usai maghrib, minum kopi bersama bapak-bapak lainnya. Setelah beberapa kali bertemu dengannya, aku yakin dia memiliki kepribadian yang baik. Tidak terlalu buruk, menurutku.

 

Jadi Ani duduk di batu besar lainnya, agak jauh dariku. “Kau pasti pernah dengar gosip tentangku,” katanya pelan sambil tersenyum lirih. “Dulu Pak Kusir sering menggangguku, sebelum cerita itu tersebar. Tapi aku sebenarnya tidak pernah mengganggu Pak Kusir. Tidak akan! Kau tahulah, bagaimana istri Pak Sukir itu. Dia lebih-lebihkan semuanya. Um … mungkin Minar tahu cerita itu juga.” Kalimatnya berserakan, barangkali perasaannya juga begitu waktu menceritakan semuanya. Dan beberapa kali aku melihat Ani menelan ludah sebelum bicara.

 

Aku rasa Ani memang tidak bersalah. Ia wanita yang baik, punya harga diri tinggi, terlebih dengan sosok elok serupa artis-artis dari kota. Kulitnya putih bening, ditemani rambut hitam legam yang panjang, dan wajah lembut laksana memelas. Yang paling menarik dari wanita ini barangkali adalah ketidak-sungkanannya untuk berbicara pada orang lain. Mirip anak-anak. Tak mungkin ada pria di desa ini yang menganggapnya tidak menarik.

 

Beberapa kali aku bertemu dengannya setelah kejadian di sungai itu, aku semakin jauh tenggelam dalam ketertarikan. Ia akan berbinar berbicara tentang Risna, putri bungsunya. Lalu kembali berbicara tentang bagaimana Romi sebenarnya bijak meski lebih suka bermain ketimbang belajar. Beberapa kali aku mencoba memancing Ani untuk berbicara tentang suaminya, air mukanya langsung berubah. Melihat seorang wanita berwajah seperti itu, tak ada lagi kata lain kalau bukan cinta jadi maksudnya.

 

Sekarang rumah Ani terbakar, tak ada yang tersisa. Seraya sambung-menyambung menimba air, sebenarnya beberapa warga ingin tertawa, menumpahkan gelak tawa yang besar tapi tertahan oleh rasa ngeri dari api yang meluap-luap. Istri Pak Sukir hanya melongo, tidak ikut membantu. Ada garis yang berkilauan di ujung bibirnya, sedikit terangkat, berkilauan diterpa bara api. Minar duduk di sebelah janda itu, menawarkan dadanya untuk merapal tangis.

 

Api kian tipis, hari kian sepi. Yang tersisa hanya beberapa puing-puing yang menjelma arang. Warga pergi meninggalkan Ani yang menangis dalam pelukan Minar. Sisanya ada yang menatap saja, ada yang mengorek sisa-sisa kebakaran, ada yang mulai membentuk konferensi pers khusus ibu-ibu, membicarakan segala macam hal.

 

Ani tidak punya keluarga di desa ini. Tidak juga di desa tetangga atau di mana-mana. Orang tuanya telah lama pergi. Ia anak semata wayang yang mandiri. Dari seluruh warga desa, yang boleh dikatakan dekat dengannya cuma keluarga Minar. Aku dengar dari Minar. Bahkan tetangganya biasa mencibir setiap kali lewat dari depan rumah. Rumah Ayah Minar tak mungkin lagi ditempati karena ada adik Minar yang baru menikah tinggal di sana juga sebelum memiliki uang untuk menyewa rumah. Aku dapat membaca gerakan bibir Minar yang sedang memeluk Ani. Ia pasti ingin Ani tinggal di rumah kami untuk sementara waktu.

 

Nasib buruk terlebih dahulu menghampiri orang-orang baik. Iblis lebih senang menggoda orang-orang baik. Dan nasib baik selalu datang cepat-cepat bagi orang berhati jahat. Ya, aku ingat ketika Ani menjauh karena aku tak sengaja menggenggam tangannya sewaktu kami berbincang berdua di rumahnya. Tanganku bergerak begitu saja, aku pribadi tak sadar melakukannya. Sejak itu ia selalu menghindariku. Di pasar, di warung, bahkan ia enggan bertandang ke rumah kalau dilihatnya aku di sana. Aku pernah mendapatinya berbincang dengan Minar di dapur sepulang kerja. Detik kemudian ia langsung pulang. Tetapi sekarang, detik ini juga, ia tak bisa lari dariku. Api sudah melahap pelariannya.

 

Anju Lubis, penikmat sastra dan filsafat. Barangkali sekarang sedang dilahap api yang lapar. Berdomisili di Jl. Tangguk Bongkar, Kel. Tegal Sari Mandala, Kec. Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara. Beberapa karya sastra telah terbit di Media Lokal Sumatera Utara, seperti Harian Analisa dan Waspada. Ig: julius_anju; Fb: Julius Simangunsong.

 

Photo by icon0.com from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*