Topbar widget area empty.
Dendam Dendam cover Tampilan penuh

Dendam

Cerpen Ulfade

 

 

Sepasang suami istri yang sudah cukup tua itu terlihat gusar, sebentar-sebentar menengok ke ujung jalan, lalu duduk di kursi kayu kusam yang catnya sudah pudar. Kedua tangan si suami bersidekap, wajahnya menyiratkan raut muka yang cemas luar biasa. Bayangkan, anak perempuan mereka satu-satunya, Nur belum pulang. Padahal hari sudah petang.

 

“Bagaimana ini ka’? Apa sebaiknya kita cari Nur sekarang?” Tanya Suwarni pada Rakib, suaminya.

“Sebenarnya Nur pergi kemana le’?”

“Aku juga tidak tahu jelas ka’, dia pamit pergi ketika aku masih di jeding

“Ah!, benar-benar itu anak”. Umpat Rakib dengan sekali lagi menengok ke ujung jalan.

“Aku khawatir ka’, Nur tidak pernah pulang selarut ini”.

 

Rakib terdiam, kedua rahangnya mengatup rapat, dahinya berkerut dan sorot matanya tajam. Tak lama kemudian suara azan terdengar mengalun dari masjid yang tak jauh dari rumah Nur, waktu maghrib telah tiba, dan Nur belum juga menampakkan batang hidungnya. Tiba-tiba Rakib masuk ke dalam bilik lalu keluar dengan peci di kepala dan baju lengan pendek.

 

“Aku mau mencari Nur”. Ucapnya singkat sambil lalu turun dari undakan tangga rumah, belum genap sepuluh langkah, nampak bayangan berkelebat berlari-lari memenuhi halaman.

Slamlekum pa’ ma’…”. Napas Nur terdengar ngos-ngosan, ia menunduk dalam-dalam, menatap halaman yng ditumbuhi rerumputan kecil. Ia tidak berani menatap wajah Eppaknya yang berdiri garang di depannya.

“Keluyuran kemana saja kamu?” Sentak Rakib, Nur tidak menjawab.

“Jawab!!! Dari mana saja sampai petang begini baru pulang?” Bentaknya lagi, Nur masih terdiam. Kesepuluh jemarinya bertaut, gemetar, takut.

“Sudah ka’ tak perlu ribut, yang penting Nur pulang dengan selamat, malu kalau didengar tetangga ribut-ribut petang begini”. Ucap Suwarni berusaha meredakan amarah suaminya.

“Bagus!!! Bela terus dia, biar keluyuran terus, tidak peduli orang tuanya khawatir di rumah menunggu.” Usai  berkata demikian, Rakib melangkah masuk ke dalam rumah, membanting pintu dengan keras.

“Maafkan Nur ma’, Nur terlambat pulang karena asyik menonton kanaval bersama Imah”. Sawarni mengangguk lalu merangkulnya, membawa masuk ke rumah.

***

 

Nur gelisah. Malam semakin tua dan ia tidak sedikit pun memicingkan mata. Yang ada dalam benaknya hanyalah takut, ia takut Emmak Eppaknya tahu dengan sesuatu yang ia sembunyikan. Sebentar-sebentar ia mengubah posisi tidurnya yang dirasa tidak nyaman, setelah beberapa saat ia bertahan pada posisi berbaringnya, ia pun membenahi selimut dan berudaha memejamkan mata.

***

 

Panas terik matahari siang ini begitu menyengat kulit. Suwarni beberapa kali terlihat mengusap peluh yang bercucuran di keningnya. Namun, kendati demikian ia tetap melanjutkan pekerjaan menyiangi rumput di sekitar tanaman cabainya, demi mengharap hasil yang baik bila tiba panen nanti. Di tengah aktivitasnya menyiangi rumput, Suwarni dikagetkan kemunculan suaminya yang nampak tergopoh-gopoh dari ujung jalan, dan wajah suaminya menyiratkan telah terjadi sesuatu yang ia tidak senangi.

 

:”Le’, mana ,Nur?” Tanya Rakib gusar pada istrnya.

“ Nur di rumah Imah ka’, katanya ada belajar kelompok, ada apa?”

“Akan ku seret dia pulang”. Ucap Rakib tanpa menjawab pertanyaan dari isterinya seraya berlalu lagi dari hadapan Suwarni yang masih berusaha menerka-nerka apa yang terjadi, namun otaknya segera memerintahkan dirinya untuk segera menyusul suaminya.

 

Dari kejauhan, nampak rumah Imah sepi tak ada orang dan pintunya tertutup rapat.

 

“Imah…..Imah….Nur…”Suara Rakib menggema ke seantaro rumah Imah, senyap, tak ada jawaban.

“Nuurr….Imah….”panggilnya sekali lagi, tetap tidak ada sahutan. Suwarni yang baru tiba terheran-heran melihat sikap suaminya yang menurutnya aneh dan janggal.

 

Belum selesai keterkejutan Suwarni, ia lalu di kejutkan dengan munculnya Nur, Imah, dan Hasan dari belakang rumah. Hasan??? Suwarni membelalakkan matanya tak percaya melihat kemunculan lelaki yang seumuran dengan Nur itu, bagaimana mungkin Nur bersama anak lelaki itu. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Sementara Rakib menatap mereka dengan pandangan tajam dan kemarahan luar biasa.

 

“Ternyata benar kata orang-orang, Nur sudah berani berdua-duaan dengan lelaki di rumah Imah.” Suara Rakib terdengar sangat marah.

 

Nur, Imah, dan Hasan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Plak…. tiba-tiba Rakib menampar Hasan dengan keras.

 

“Berani kau mendekati anakku, hah..?” bentak Rakib. Wajah Hasan pias, pipi kanannya memerah namun sorot matanya tetap terlihat tenang.

 

Melihat hal itu, Nur mendekati eppaknya meraih tangan dan bersimpuh didepannya.

“Sudah cukup pa’, jangan sakiti Hasan, aku men…”

“Diam kau!!!!” Rakib memotong perkataan Nur dan menepis tangannya kasar, lalu tangan kiri Rakib munuding lurus ke manik mata Hasan yang sama menatap matanya.

“Jangan dekati Nur lagi, dia tidak pantas bersama kau! dan kamu Nur, ayo pulang sekarang!” Rakib menyeret tangan Nur kasar.

 

Nur tidak kuasa berontak, ia terpontang-panting mengikuti langkah eppak-nya. Suwarni menatap kepergian Nur dan anaknya dengan pandangan kosong, ia masih kaget melihat kejadian ini, Suwarni terpaku di tempatnya.

 

“Maafkan saya, mak, saya yang salah. Saya sudah lancang mengajak Nur bertemu di rumah Imah.” Ucap Hasan penuh penyesalan.

“Justru aku yang minta maaf nak, maafkan eppak-nya Nur yang sudah kasar kepadamu, aku pamit mau menyusul Nur.” Selesai berkata demikian, Suwarni melangkahkan kakinya pulang.

***

 

Sejak peristiwa di halaman rumah Imah, Nur tidak lagi dibolehkan kemana-mana, seharian penuh ia selalu dirumah.

 

“Kenapa kau sampai menampar Hasan waktu itu, ka’?” Tanya Suwarni di suatu pagi, sambil meletakkan secangkir kopi di meja Rakib. Lalu ia menduduki kursi tepat di depan suaminya.

“Aku marah le’ aku tidak bisa mengontrol emosiku saat itu, sebagai orang tua, aku merasa dilecehkan dan dihina.”

“Entah kenapa aku was-was ka’. eppak-nya Hasan, Matrahem sepertinya tidak akan tinggal diam, kau tidak ingat apa yang menimpa eppak dulu?”

“Semoga saja tidak lagi le’. Kau tenang sajalah, pikirkan saja Nur, pastikan dia tidak bertemu Hasan lagi.”

***

 

 

Hampir seluruh penduduk kampung mendengar kejadian bahwa Rakib menempeleng Hasan. Dimana-mana orang mulai kisruh menduga apa yang akan terjadi setelah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Matrahem bukan orang baik-baik. Namun setelah beberapa bulan berlalu, kasak-kusuk tetangga para Rakib mereda dengan sendirinya.

 

Suwarni kembali berkutat dengan tanaman cabainya yang hampir panen, sementara Rakib mengurusi padi yang sudah menguning di sawahnya. Meskipun demikian, Suwarni masih cemas memikirkan Matrahem, khawatir akan tindak-tanduknya yang mungkin akan membahayakan keluarganya.

 

Malam ini cahaya bulan terang benderang, mengambang dipermukaan langit. Suwarni mondar-mandir di teras rumah sendirian. Ia sibuk membenahi perkakas suaminya yang akan dibawa besok ke sawah, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang mendekat.

“Dadaku tiba-tiba sakit le’ keluh Rakib sambil memegangi dadanya.

“Sakit bagaimana ka’?” raut wajah Suwarni menyiratkan kecemasan .

“Sesak, perutku juga nyeri sekali”

“Istirahat sajalah dulu, kalau besok belum mendingan, aku akan memanggil Ke Satnawi untuk mengurut kau”

Pagi harinya, Suwarni mendapati Rakib tidak kunjung keluar dari biliknya,

Ka’…..ka’….”. Tak ada jawaban, Suwarni lalu membuka pintu dan memeriksa keadaan Rakib yang ternyata masih tidur bergelung sarung.

Ka’ bangun, sudah siang.” Suwarni mengguncang-guncang tubuh Rakib.

“Dadaku sakit le’ Rakib menyahut dengan suara lemah tanpa mengubah posisiya.

“Biar ku panggil Ke Satnawi untuk memeriksa sakitmu ka’. Tunggu sebentar.”

 

Suwarni bergegas menuju rumah Ke Satnawi yang memang dikenal sebagai tukang urut di kampungnya. Beruntung, Ke Satnawi ada di rumah, ia langsung mengiyakan begitu Suwarni mengutarakan maksud kedatangannya. Kemudian mereka bersama-sama menuju rumah Sunarwi.

 

Sementara itu, Rakib mengerang kesakitan, suara rintihannya sampai terdengar ke luar rumah. Suwarni tiba tepat waktu disaat sakit di dada Rakib semakin menjadi. Ke Satnawi langsung memeriksa dada Rakib, dahinya Nampak berkerut.

 

“Aku tidak menemukan penyebab sakitnya, Ni” ujarnya pada  Suwarni

“Lalu kenapa ia mengerang seperti itu, Ke?” Suwarni lagi-lagi cemas.

 

Ke Satnawi menggelengkan kepalanya, ia hanya memandangi Rakib yang terus mengerang kesakitan, tanpa tahu harus melakukan apa.

***

 

Sementara itu, disebuah rumah yang cukup jauh jaraknya dari rumah Rakib, seorang pemuda dan seorang lelaki nampak bersitegang.

“Saya tidak suka eppak  melakukan hal itu lagi, apalagi kali ini korbannya berkaitan dengan orang yang ku kasihi.” Ucap pemuda itu dengan kata penuh penekanan.

Eppak melakukan itu  demi harga dirimu cong” jawab lelaki tua dengan senyum sinis di akhir kalimatnya. Pemuda itu mendengus. Hening lalu tercipta, diantara keduanya.

“Juga untuk menuntaskan sakitnya sejak dulu. Yang kulakukan tidak seberapa, Rakib pantas merasakannya.” Lanjut lelaki tua itu, sambil sesekali menyerap rokok di tangannya.

“Sampai kapan dendam akan terus mengeruti hati eppak?” lelaki tua itu hanya menjawab dengan seringai di bibir  hitamnya.

***

 

Sudah satu minggu berlalu, sakit di dada Rakib tak kunjung mereda. Bahkan, saat ini Rakib tidak mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan Suwarni atau Nur. Ia seolah kembali menjadi bayi yang baru menginjak usia bulanan. Untuk makan dan minum pun Rakib kesulitan, setiap kali menelan sesuatu, dadanya seketika nyeri.

 

Di sore yang semilir angin, Nur menyusuri jalan setapak menuju rumah, sekembalinya dari rumah Imah. Ketika melewati sebuah rumah, ia tak sengaja mendengar percakapan dua orang yang menyebut-nyebut keluarganya, Nur menghentikan langkah menajamkan kedua telinganya.

 

“Aku menduga sakit Rakib kali ini ada sangkut pautnya dengan Matrahem, ia pasti sedang melakukan aksinya menggunakan sehernya lagi untuk membalas dendam”

“Aku juga berpikir seperti itu Li, sepertinya dendam Matrahem semakin berlipat setelah kejadian Rakib menempeleng Hasan kemarin.”

“Padahal Matrahem sudah membunuh eppak-nya Rakib, dan sekarang beralih ke Rakib sendiri.”

“Matrahem itu orangnya keras, dia tidak terima ketika lamarannya dulu di tolak Suwarni. Matrahem membuat seluruh orang  yang menghadiri acara menjadi mules, bolak balik ke kamar mandi. Dan kabarnya sekarang, Nur dan Hasan burleburan.” Suara kekehan kemudian terdengar dari kedua lelaki tersebut.

 

Nur terpaku di tempatnya berdiri, dadanya naik turun, sesak, ternyata banyak hal yang ia tidak ketahui dari keluarganya. Masa lalu yang menyimpan dendam tak berkesudahan. Nur menghela napas dan menghembuskannya pelan, kemudian dengan setengah berlari ia kembali meneruskan langkahnya, pulang.

 

Annuqayah, 2019

 

Maria Ulfa lahir di sumenep, 19 september 2001, santri PP. Annuqayah Lubangsa Putri, merupakan mahasiswi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA). Aktif di Kompas PASRA, PMII angkatan GARUDA, LPM Dinamika, dan sedang belajar di lembaga kepenulisan (FRASA). Bisa di temui di Ulfachocolate3@gmail.com dan Ulfade (facebook).

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: