Topbar widget area empty.
Jalan Berliku jalan berliku cover Tampilan penuh

Jalan Berliku

Cerpen Andika Widaswara

 

 

 

“Apa Haji Sobirin mau?” gunjing Bejo pada pengunjung warung kopi Mak Ijem.

“Saya yakin Haji Sobirin tak akan tergoda,”

“Kau benar-benar yakin?”

“Beliau orang yang tulus. Tanpa kepentingan.”

“Bagaimana jika Haji Sobirin tergoda?” Bejo memburu kejelasan. “Bukankah dia juga manusia?”

“Beliau wali.”

 

Haji Sobirin, begitulah penduduk kampung biasa memanggil. Satu-satunya orang bergelar haji di kampung ini. Seorang imam musala, pengajar mengaji anak-anak di kala sore, pengisi khotbah salat jumat. Wibawanya tersohor di seluruh penjuru kampung. Dari anak kecil, remaja, hingga tetua pun sungkan. Seorang haji yang disegani masyarakat.

 

“Jika dia mau, ini sudah kelewatan. Kurang apa dia di kampung ini? Semua orang menaruh hormat, penghasilan lebih dari cukup. Apalagi yang dia cari?” Bejo masih sibuk menggali petunjuk.

 

Bayangkan, sepuluh tahun yang lalu kampung ini terkenal dengan kampung maksiat. Tiap hari judi merajalela. Kelahiran bayi, judi. Slametan membangun rumah, judi. Pertunjukan film layar tancap, judi. Pentas tari-tarian, judi. Main bilyard dibuat judi, main karambol judi, ronda malam judi, tebak skor bola judi, sampai tebak anak yang akan lahir dijadikan ajang perjudian. Judi mengakar di semua kalangan dan semua kegiatan. Mulai dari judi kartu, dadu, adu ayam, sampai tebak gambar uang receh yang disentil jari. Begitupun kehidupan para pemuda kampung. Siang malam tanpa acara selain mabuk. Acara gelar seni, mabuk. Pentas karawitan ibu-ibu PKK, mabuk. Gambyong mabuk, dangdut mabuk, bergerombol mabuk, bengong sendirian pun mabuk. Tiap malam cangkruk di tepi perempatan jalan kampung. Dengan bermodal gitar usang alih-alih menyanyi yang terdengar justru teriakan-teriakan tanpa nada. Lebih tepat disebut umpatan.

 

Tiap sore, selepas memimpin jamaah ashar beliau mengajari anak-anak mengaji hingga maghrib. Sebelumnya, musala kampung ini nyaris tanpa ada kegiatan. Sebagian besar penduduk menganggap kehadiran musala hanya sebagai pelengkap kampung. Sekadar menjadi lambang bahwa penduduk kampung ini memeluk agama. Bahkan, musala nyaris ambruk. Daun pintu, jendela, juga usuk-usuknya lapuk, kayu penyangga rapuh. Adalah Haji Sobirin, dengan sifat kedermawanannya beliau tak segan mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk renovasi musala. Dia tak ragu menyumbangkan berkubik-kubik kayu untuk membangun musala.

 

“Jangan-jangan Haji Sobirin memang menanam sebuah kepentingan di kampung ini. Begitu penduduk kampung banyak berutang budi padanya, baru dia menjalankan misinya.” tuduh Bejo dengan mata melotot.

“Hussh, jangan ngawur. Nanti kuwalat. Beliau adalah orang yang telah dipilih Tuhan untuk kampung kita. Calon penghuni surga.”

 

Perjuangan beliau bukan tanpa halangan dan rintangan. Banyak cela, cerca, serta fitnah yang beliau dapatkan, terutama dari orang yang berseberangan dengan perjuangannya. Masyarakat yang sudah nyaman dalam kubangan kemaksiatan merasa terusik. Rumah dinas beliau dilempar batu hingga kaca depan pecah. Dicegat rombongan pemuda di jalanan, ban motornya digembos. Ia dipaksa berjalan kaki. Pun banyak pula orang yang mencela dan memfitnah. Dari pemecah belah kerukunan kampung sampai penggoda para janda. Tuduhan yang tak beralasan. Bukan Haji Sobirin namanya kalau kebakaran jenggot menghadapi semua hujatan itu. Beliau tetap sabar dan tak punya dendam. Beliau tambah bersemangat mengajar ngaji dan menolong masyarakat.

 

“Tapi, benarkah berita itu?” selidik si Bejo masih tak percaya. “Bukannya kau menyebut Haji Sobirin itu wali?”

 

Tentang sebutan wali, semua berasal kejadian ini:

 

Benjolan di perut Mak Ijah (janda miskin penjual nasi tiwul di pasar yang sudah lima tahun menderita tumor ganas) semakin membesar. Sebentuk dua genggaman tangan lelaki dewasa. Awalnya biasa saja, lama kelamaan Mak Ijah merasa kesakitan. Sebulan kemudian terbaring di tempat tidur tak mampu bangun. Lemas dan terkulai. Menjadi abdi tempat tidur. Penduduk yang peduli mengantarkan Mak Ijah berobat ke puskesmas. Puskesmas angkat tangan, kemudian Mak Ijah dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Karena alasan biaya surat rujukan dibiarkan menjamur di almari kamar. Dipanggillah Haji Sobirin. Tergopoh-gopoh beliau datang. Mak Ijah diminta memejamkan mata. Haji Sobirin mengambil air, dibasahilah tangannya. Lalu diusapkan di perut Mak Ijah. Gerakan tangan Haji Sobirin naik turun, teratur. Ajaib, benjolan perut Mak Ijah mengecil, semakin kecil. Pada akhirnya tumor ganas itu menghilang, benar-benar raib tanpa bekas. Esoknya Mak Ijah sudah bisa berjalan. Seminggu kemudian sudah beredar lagi di pasar.

 

“Itu sangat tidak masuk akal. Haji Sobirin pasti dikaruniai karomah. Bisa menyembuhkan segala penyakit.”

“Sudah dermawan, rendah hati pula. Bahkan, konon katanya beliau pergi haji ke Mekah dengan berjalan di atas air.”

“Seperti wali?”

“Ya, beliau memang seorang wali.”

 

Maka, penduduk kampung mulai menganggap Haji Sobirin adalah wali. Haji Sobirin sering diminta mengisi ceramah. Berkhotbah saat salat jumat. Memimpin pengajian. Segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Lihatlah kini, dalam setiap kegiatan penduduk di kampung, Haji Sobirin selalu ada. Ketika satu keluarga menggelar acara akikah bayi yang baru lahir, Haji Sobirin dipanggil untuk memimpin doa. Di saat penduduk kampung meyelenggarakan pernikahan, Haji Sobirin pun ketiban sampur untuk menyampaikan khotbah nikah. Ketika terjadi musibah kematian di kampung, para ahli waris mengundang beliau untuk memimpin pembacaan tahlil di rumah mereka. Kehadirannya di tengah masyarakat kampung sangatlah penting. Pernah suatu ketika ada acara khitanan seorang anak, beliau berhalangan hadir karena sakit. Maka, acara khitanan pun ditunda. Mantri sunat harus kembali lagi setelah Haji Sobirin sembuh. Begitulah, Haji Sobirin  menjadi panutan kerena keluhurannya.

***

 

Penduduk kampung gaduh. Berita tentang Haji Sobirin menyebar tanpa diperintah. Sampai di penjuru kampung dengan cepat. Secepat angin puting beliung merobohkan warung kopi Mak Ijem. Kabar yang membuat orang kampung tertegun, seakan tak percaya. Sibuk menerka-nerka. Mengagungkan segala prasangka. Beberapa dari mereka pun sepakat untuk memberanikan diri bertanya pada Haji Sobirin.

 

“Jadi, apa benar menurut warga kampung bahwa Pak Haji …?”

“Ada yang salah?” Haji Sobirin tersenyum, seperti sudah paham apa yang ingin disampaikan warga. Orang-orang saling berpandangan, lalu menunduk.

“Ti … Tidak Pak Haji.”

“Jadi?” Bengong. Saling melempar pandang. “Jangan alergi terlalu berlebihan, gak baik. Yang penting adalah niat. Asal dengan niat baik, semuanya akan berjalan baik.”

 

Demikianlah, Haji Sobirin dengan fasih selalu berbasa-basi bahwa pilihannya tersebut merupakan bagian dari dakwah, serta semata agar menjadi lebih baik. Semakin kesini, semakin sering wajah Haji Sobirin ditemui. Tak hanya di musala. Pagi-pagi dia terlihat sarapan di warung, agak siang tampak pula di tepi perempatan jalan, sore nongol di persawahan penduduk, malamnya mampir di gardu ronda.  Haji Sobirin sangat intens dan teratur menyapa penduduk, masuk ke perbincangan, mendominasi, merecoki, dan serba tahu segala hal. Yang dirasakan penduduk kampung bahwa dengan berbagai cara Haji Sobirin mulai mengontrol, mengintimidasi, dan menjanjikan sesuatu kepada penduduk kampung untuk mendukungnya.

 

“Apa keuntungan kita mendukung Haji Sobirin?” kali ini Bejo meluap-luap.

“Betul, apa dia bisa menjamin kehidupan kita?”

“Ah, paling juga tetap miskin seperti dulu. Sedangkan dia?”

“Dia wali.”

 

Makin riuh ramai penjuru kampung. Para orang tua tak lagi mengijinkan anaknya mengaji. Jamaah salat maghrib mendadak sepi, hanya ada dua baris yang berjamaah. Begitu salam langsung ambil langkah seribu, tak mau lagi mendengarkan ceramah Haji Sobirin. Salat isya lebih parah lagi, sebaris jamaah. Ashar kadang hanya diisi oleh dua orang, imam Haji Sobirin dan muazin. Cangkrukan di tepi perempatan jalan ramai lagi, gitar usang kembali berdendang. Semakin keras menyanyi, semakin deras pula umpatan. Tikar pun kembali digelar. Kartu judi dibeli, dadu kembali ramai. Celoteh liar sana-sini. Tawa keras lepas, tanpa kendali.

 

Semua berasal dari hal ini. Haji Sobirin kedatangan tamu. Rupa-rupa tamu mereka. Berjas rapi, bersepatu mengkilap, dan bermobil mewah. Para tamu itu dipastikan bukan berasal dari penduduk kampung. Amboi, lihatlah kini. Bersemangat sekali Haji Sobirin mengunjungi rumah demi rumah penduduk tanpa terkecuali. Lengkap, tanpa ada rumah yang terlewat. Dibagikannya kaus, stiker, juga gantungan kunci. Begitu berpamitan diserahkannya sebuah amplop, yang baru boleh dibuka nanti. Terkejutlah penduduk begitu isi amplop diketahui. Poto Haji Sobirin memakai jas dan berdasi, disertai lembaran uang yang terlipat rapi. Penduduk marah, merasa tak dihargai. Hati nurani dan harga diri mereka mau dibeli, jauh lebih rendah dari harga sapi. Penduduk acuh, tak mau peduli.

 



Bukannya menciut, Haji Sobirin justru kian bersemangat. Makin sibuk mempromosikan diri. Penduduk muak dan semakin antipati. Haji Sobirin marah. Ceramahnya di musala berapi-api. Beliau menuding penduduk tak punya rasa terima kasih. Yang terbaru, beliau bahkan menghukum lewat fatwa haram dan murtad pada penduduk kampung yang tak mendukung kiprahnya. Semakin lantang pidato Haji Sobirin, semakin pula ditentang. Semua terjadi begitu saja. Tanpa ada perintah. Puncaknya penduduk kampung berniat merobohkan musala hasil renovasi Haji Sobirin. Entahlah karena alasan apa.

 

Andika Widaswara, Penulis sehimpun cerpen Penempuh Sunyi, tinggal di Ponorogo, Jawa Timur. Menyukai travelling dan fotografi. Bisa ditemui via FB: Andika Widaswara dan IG : @andika_widaswara.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*