Topbar widget area empty.
Kematian Riskan Cover Kematian Riskan Tampilan penuh

Kematian Riskan

Oleh: Agus Salim

 

 

Lewat grup media sosial lelaki itu mengumumkan kematiannya, dan sejak itu pula, ia memutuskan menjadi hantu, yang pendiam dan suka menyendiri. Tetapi ia tetap masuk kantor seperti biasa, berusaha disiplin, meski pada akhirnya tak mengerjakan apa-apa, cuma duduk saja sambil main-main dengan ponsel barunya—sekadar mendengarkan ceramah atau nyanyian religi yang ia suka. Kalau lelah pada semua itu, ia gentayangan, keluar ruangan, duduk di lobi, dan membiarkan matanya berlama-lama merekam enam patung kuda hendak terbang tak jadi-jadi. Semua orang di kantor peduli padanya, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Sebab segala macam nasihat sudah disampaikan kepadanya, namun tak berbuah apa-apa. Dan  kalau  ada di rumah, ia suka memandangi ponsel lamanya, cuma memandangi saja. Seolah-olah pada benda itu ia menemukan sesuatu, tetapi tak bisa meraihnya. Bila anak lelakinya menyapa, atau pamit hendak keluar, ia tak menyahut. Sang anak sudah memahaminya. Begitu pula dengan Bik Marni, sang pembantu. Sejak tahu majikannya berubah, dia hanya fokus mengurus anak majikannya, juga fokus mengerjakan tugas yang memang harus dilakukannya.

 

Nama lelaki itu, Banu Riskan, akrab dipanggil Riskan, usia 45 tahun, mempunyai anak 2 (satu laki-laki, satu perempuan), bekerja sebagai ASN, berwajah tampan, berkulit kuning, berhidung mancung dan, sebagian besar rambutnya berwarna putih.

 

Hari ini, selepas pulang kantor, Riskan memilih duduk di ruang tamu, tetapi biasanya ia lebih suka berada di ruang tengah. Di meja, terbaring ponsel lamanya yang retak layarnya. Ponsel itu padam, tetapi bukan mati. Mesinnya masih hidup, cuma baterainya saja tak berdaya. Ia tak mau mengisi baterai itu dan itu disengaja. Ia tak mau ponsel itu hidup, tetapi tak mau juga benda itu lenyap dari hidupnya. Baginya, ponsel itu adalah sejarah. Setiap melihat ponsel itu, ia selalu merasa harus memperbaiki sesuatu. Namun ia tak tahu, bagaimana cara memperbaikinya.

 

“Papa, besok Ayu masuk pukul setengah enam. Biasa, jalan-jalan santai.”

“Ingat, Pa. Besok aku tak bisa ngantar Ayu. Soalnya pagi-pagi sekali aku harus berangkat.”

“Pa, belikan Rio sepeda motor, dong! Biar Rio nggak usah diantar ke sekolah. Malu sama teman. Masak sudah besar pakai diantar segala.”

“Mungkin besok aku akan ke Surabaya. Biasa pertemuan rutin.”

 

Percakapan yang pernah terjadi entah kapan terputar kembali di kepalanya. Ia menghela napas, kemudian beranjak, melangkah pelan menuju kamar, kamar tidurnya. Tepat di tengah pintu masuk, ia berdiri, hanya berdiri. Matanya menjalar ke mana-mana. Merekam kasur, bantal, guling, lemari, meja rias dengan cermin oval, meja kerja di sebelah meja rias, layar komputer di atas meja kerja, dan dinding yang gagal diganti catnya. Dan di tengah-tengah dinding pegerakan matanya terhenti, terperangkap pada gambar dalam penjara pigura besar, dua pasang manusia berdampingan mesra di sana. Lalu ia merasa satu manusia di dalam pigura itu ada di dapur. Ia pun balik badan, melangkahkan lagi kakinya, menuju dapur. Kepalanya tertunduk.

 

Di dapur, ia duduk di salah satu kursi, menghadapkan matanya ke kompor gas yang padam. Ia merasa melihat bagian belakang tubuh manusia, perempuan. Ia lalu menduga-duga, mungkin perempuan sedang mengiris bawang panjang, atau sedang mengiris tahu atau tempe, lauk-pauk kesukaannya, atau sedang membaluri potongan paha atau dada ayam kesukaan Ayu dan Rio dengan tepung, atau mungkin juga tidak sedang melakukan apa-apa, hanya berdiri saja. Ia tahu perempuan itu tak bisa memasak, tetapi suka merenungi sesuatu di dapur sambil berdiri di depan kompor. Seperti biasa, ia ingin perempuan itu benar-benar ada. Ia ingin memperbaiki segalanya.

 

“Pa, aku mau keluar. Mau ke rumah teman. Belajar bersama,” suara Rio, pamit, dan ia tak menjawab. Mungkin, lebih tepatnya, tak peduli. Dan ia bosan di dapur. Sebab perempuan itu telah lenyap dari pandangannya.

“Aku di kamar mandi, Pa. Ayo!”

 

Ia mendengar suara itu, tentu saja, sebab suara itu berasal dari dalam tubuhnya. Semua suara yang sering ia dengar dulu kini berdiam di dalam tubuhnya. Seperti arsip digital yang bisa terputar kapan saja tanpa disuruh. Ia terpancing, lalu beranjak, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sampai di depan pintu, kakinya berhenti.

 

“Kenapa tidak di kamar saja, Ma?”

“Kau kan tahu sendiri, aku tidak punya cukup waktu. Kita selesaikan di kamar mandi saja.”

 

Ia ingat percakapan itu. Ia menghela napas. Ia ingin masuk ke kamar mandi, sekadar ingin tahu apa yang dilakukan perempuan itu, tetapi tak jadi karena ia tahu tidak ada sesuatu di dalam sana.

 

“Aku di ruang tengah, Pa. Sini, aku mau bicara!”

 

Kalimat itu menggema di dalam kepalanya. Membuat ia pening, tetapi ia tak mau mematuhi suara itu. Badannya berputar dan kakinya melangkah lagi, menuju kamar.

 

Ia masuk ke kamar, duduk di sisi kasur, kepalanya lurus dan mata beradu dengan mata yang ada di dalam cermin. Ia melihat mata yang lain. Mata yang ia anggap bukan miliknya, mata laknat yang telah berani tergoda dengan wajah perempuan lain. Ia ingin mencongkel mata itu. Tetapi ia kemudian sadar, bahwa mata itu adalah mata masa lalu yang menurutnya sudah tidak ada. Kini ia mulai mendengarkan suara dari luar tubuhnya. Seperti suara detak jam dinding dan suara-suara lainnya. Dan ia mendengar suara ketukan pintu, semakin lama semakin keras menghantam gendang telinganya. Lalu ia mendengar suara memanggil namanya. Ia kenal suara itu. Ia pun beranjak dan melangkah menuju pintu depan.

 

Pintu dibuka. Ada dua sosok manusia berdiri menebar senyum kepadanya.

 

“Bagaimana kabarmu, Riskan?” tanya salah seorang dari dua manusia itu.

“Kau tampak tak sehat,” kata seorang yang lain.

 

Ia tak menjawab apa-apa, tidak juga mempersilakan mereka masuk. Ia berbalik badan dan duduk di kursi panjang. Mereka pun masuk dan duduk tanpa disuruh.

 

“Tadi aku mampir ke kantormu. Katanya kau langsung pulang setelah apel sore. Kami khawatir dengan keadaanmu, Ris.”

“Seharusnya kau bisa melupakannya, Ris. Semuanya sudah terjadi dan tak perlu disesali. Kau harus kembali hidup, Ris. Kasihan anakmu. Dia butuh dirimu untuk melanjutkan hidupnya.”

 

Ia mendengar semua itu, tetapi tak mau menanggapinya dan memilih beranjak. Melangkah ke ruang tengah, mengambil ponsel lama, dan kembali lagi ke ruang tamu. Ponsel itu ia letakkan di atas meja.

 

“Kau masih menyimpan ponsel itu, Ris? Bukankah itu masa lalumu? Itu hanya akan memperpanjang kematianmu, Ris.”

“Betul kata Farid itu. Kau masih layak jual, Ris. Kau bisa mencari yang baru. Lupakan semuanya dan mulai lagi dari nol. Mudah, kan?”

 

Ia terusik oleh dua kalimat itu dan mulai bicara.

 

“Aku sangat mencintai Alina. Kami sudah hidup bersama puluhan tahun dan memiliki dua anak. Menurut kalian, apakah aku pantas melupakan semuanya?”

“Tetapi Alina sudah tidak mau lagi padamu, Ris. Dia sudah memilih jalannya. Jadi kau juga harus menentukan jalanmu. Kau itu laki-laki, Ris. Jangan lemah begitu.”

“Aku tidak bisa melupakan Alina, Rid. Ini semua salahku.”

“Tidak seharusnya Alina membuatmu seperti ini, Ris. Semuanya masih bisa dibicarakan.”

“Kau tidak tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak perlu bercerita tentang apa yang aku simpan di dalam kepalaku.”

“Kau buang ponsel itu. Kembalilah ke kehidupan nyata. Masa lalu akan membunuhmu pelan-pelan, Ris.”

“Aku telah mati. Ini kuburanku. Kalian tidak usah mengkhawatirkanku.”

“Kau memang keras kepala, Ris.”

“Aku telah mati. Kalian tidak usah repot-repot menghidupkan aku kembali.”

“Kau tidak kasihan sama anakmu.”

“Anakku sudah besar. Bik Marni sudah mengurusnya dengan baik. Aku hanya perlu tetap bekerja agar dia bisa makan. Selebihnya, biar dia sendiri yang mengaturnya. Aku telah mati. Dan aku akan terus seperti ini sampai kematian yang sesungguhnya datang.”

“Kau sudah gila, Ris. Kau perlu psikiater. Aku punya kenalan. Maukah kau…”

“Aku bilang tak usah repot-repot. Aku harus menebus kesalahanku. Aku akan buktikan kepada Alina kalau aku hanyalah miliknya.”

“Peruma. Percuma. Kau betul-betul sudah kehilangan akal sehat. Kau betul-betul sudah mati.”

“Jadi, untuk apa kalian masih di sini? Pulanglah. Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian tidak tahu apa-apa. Tinggalkan aku sendiri.”

 

Mereka tidak marah. Mereka malah bertambah khawatir. Tetapi, meski demikian, mereka tak punya kekuatan untuk mengubah jalan pikiran Riskan yang sudah buntu. Mereka pun pulang dengan perasaan bersalah karena tak berhasil menghidupkan Riskan dari kematiannya.

 

Riskan menutup pintu depan dan kembali ke ruang tengah. Ia kemudian teringat pada Ayu, anak keduanya, yang dibawa ikut Alina ke dalam kehidupan barunya. Ia rindu pada Ayu. Ingin sekali ia menghubungi Alina sekadar ingin bertanya kabar Ayu. Tapi, ia tak berani. Sesungguhnya, ia juga pada Alina, namun ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan rasa rindu itu.



 

“Sini, Pa. Aku di kasur.”

 

Ia mendengar suara itu, suara Alina, tetapi memilih diam saja sambil menatapi ponsel lamanya.

 

Asoka, 2019

 

Photo by Pedro Sandrini from Pexels

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep