Topbar widget area empty.
Ketika Penulis Pemula Berpikir Tentang Penulis Cover Penulis Tampilan penuh

Ketika Penulis Pemula Berpikir Tentang Penulis

Oleh: Yuditeha

 

 

Namanya Lukaveda, dikenal sebagai penulis dungu. Saya tidak tega membicarakannya, karena jika saya tetap melakukan itu, kemungkinan besar saya memang akan lebih banyak mengatakan hal buruk. Bukan karena sentimen, tapi semata karena saya belum mengenalnya, dan apa yang saya tahu tentang dirinya dari cerita orang lain yang memang lebih banyak berkisah tentang hal yang memuakkan.

 

Kos yang saya tempati dulu dekat dengan rumah Lukaveda. Tapi karena saya hanya sebentar di sana, hingga saya tidak sempat berkenalan dengannya. Sebagian besar warga sekitarnya sudah tahu kalau dia penulis, tapi setahu saya mereka belum pernah membaca satu pun buku karyanya.

 

Suatu hari, beberapa penulis kondang berkumpul di kafe Hamka membicarakan Lukaveda. Mereka bukan sedang dalam acara resmi, tapi sekadar pertemuan biasa antar penulis. Sedangkan saya hanya kebetulan sedang berkunjung ke kafe itu dan bersamaan waktunya dengan mereka. Tempat duduk saya tidak jauh dari tempat duduk mereka. Jadi saya bisa mendengar dengan jelas, apa saja yang mereka celotehkan.

 

“Tulisan dia buruk. Sangat buruk,” kata A, penulis yang pernah menjuarai sayembara menulis.

“Seburuk tampangnya,” sahut B, penulis yang melankolis.

“Membuat kalimat saja belum becus,” timpal C, penyair yang senang semadi.

“Tapi herannya, dia pede amat ngeluarin buku,” tambah D, penulis yang  mahir memberi seminar sastra.

“Semua bukunya berakhir sebagai bantal,” kata E, penulis yang kritis dan vokal.

“Masih untung dong, tidak berakhir sebagai pembungkus gorengan,” sahut F, penulis yang piawai membedah buku.

 

Ketika mendengar celoteh itu, saya jadi berpikir, apakah Lukaveda pernah mendengar kalau dirinya dibicarakan seperti itu? Apakah selama ini buku-buku Lukaveda memang tidak pernah laku? Dan yang paling mengganggu saya, apakah benar, tulisan Lukaveda benar-benar buruk? Jika semua itu benar, dan Lukaveda tetap percaya diri menerbitkan buku-bukunya, saya jadi penasaran ingin bertemu, dan berkenalan dengan Lukaveda itu.

 

Sebagai penulis pemula, saat saya mendengar celoteh seperti, ada dua hal besar yang menggaung di benak saya. Pertama, menjadi penulis mungkin memang benar-benar menyenangkan, karena bisa berperilaku masa bodoh. Kedua, menjadi penulis mungkin memang benar-benar berat, karena membuat tulisan itu sebenarnya tidak bisa sembrono.

 

Sejujurnya hal itu membuat saya bingung, bagaimana penulis pemula seperti saya harus bersikap? Dan celakanya, jika pertanyaan itu sudah mengganggu di kepala saya, yang ada justru tidak ada lagi gairah di dalam diri saya untuk melanjutkan keinginan saya menjadi penulis.

 

Mungkinkah saya harus bertemu dan berkenalan dengan Lukaveda, agar saya bisa menentukan apa yang seharusnya saya jalani. Paling tidak, siapa tahu dengan cara begitu akan dapat membantu saya untuk menentukan sikap, tetap melanjutkan keinginan menjadi penulis, atau cukup berhenti sampai di sini saja.

 

Hingga suatu hari, saya menemukan subuah poster di Instagram, sebuah acara sastra dengan narasumber Lukaveda. Di poster itu tertera kalimat yang cukup panjang, begini: Lukaveda berkata: Dalam dunia menulis, ada dua jenis kekalahan besar. Pertama, jika kalian merasa terganggu dengan karya orang lain yang punya keinginan sama dengan kalian. Kedua, jika kalian merasa terganggu dengan apa yang dikatakan oleh orang yang punya keinginan sama dengan kalian. Usai membaca kalimat itu saya membatin, saya akan menghadiri acara itu.

 

Satu hari sebelum saya mendatangi acara Lukaveda itu, saya pergi ke kafe Hamka. Kebetulan sekali, ternyata beberapa penulis kondang yang dulu berkumpul di kafe itu juga sedang berada di sana. Tempat duduk mereka hampir sama dengan tempat duduk yang mereka pakai dulu. Dan meski tempat duduk saya berbeda dengan yang saya pakai dulu, tapi saya tetap masih bisa mendengar apa yang mereka celotehkan. Rupanya mereka masih membicarakan tentang Lukaveda.

 

“Semua bukunya adalah sampah!,” geram E, penulis yang tetap kritis dan vokal.

“Benar. Tulisan dia tetap buruk sampai sekarang,” sahut A, penulis yang sudah sering juara menulis.

“Yah, tapi tetap untunglah dia, bukunya masih bisa berakhir menjadi sampah,” kata F, penulis yang semakin piawai membedah buku.

“Kalian tahu, dia dapat pacar pun, juga buruk,” sahut B, penulis melankolis yang punya pacar cantik.

“Jangankan membuat kalimat yang benar. Nggombal pun dia tak mampu,” timpal C, penyair yang tetap memuja kesepian.

“Celakanya, buku dia lahir mulu,” tambah D, penulis yang  semakin laris menjadi pembicara di seminar-seminar literasi.

 

Jujur, mendengar celoteh mereka saya benar-benar bingung. Bingung dengan apa yang akan saya lakukan. Termasuk bingung, apakah besok saya tetap menghadiri acara Lukaveda. Bahkan sampai perjalanan pulang dari kafe Hamka, akhirnya sampai di rumah pun, benak saya masih tak mau lepas dari bahasan tentang dunia menulis itu. Sebelum tertidur, saya ingin mencari tahu lebih detail tentang buku-buku Lukaveda. Sebuah tautan yang pertama saya klik, menampilkan beberapa pernyataan yang membuat saya terkejut.  Dari tulisan, kalian bisa dianggap goblok. Dari tulisan, kalian bisa dianggap brilyan. Dari tulisan, orang-orang bisa dibunuh. Dari tulisan, seseorang bisa membunuhmu. ***

 

Photo by Suzy Hazelwood from Pexels

Ditulis oleh Yuditeha

Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya Kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde