Topbar widget area empty.
Parti dan Tijah cover Tijah dan Parti Tampilan penuh

Parti dan Tijah

Oleh: Chandra Wulan

 

 

 

Parti berjalan tergesa menuju toko tekstil di barat alun-alun. Sepatu tipisnya berderap-derap di paving trotoar. Sepuluh hari lagi lebaran, tapi bapaknya anak-anak belum juga memberi uang untuk membeli baju baru. Parti mengingat-ingat binar mata anak bungsunya kemarin sore.

 

Mereka melihat-lihat baju, tas, sepatu, dan macam-macam benda dijual di pasar kaget di alun-alun. Vara anak bungsunya memekik kegirangan saat menemukan terusan kuning pucat berbahan sifon dengan bunga-bunga berwarna putih tulang yang seolah terhambur di bagian depannya. Harganya dua puluh ribu rupiah dan tersedia juga ukuran yang cukup besar untuk Divya, anak sulungnya. Tapi Parti belum punya uang. Musim lebaran tahun ini jahitannya sepi.

 

Parti masuk ke toko tekstil itu dan langsung menuju meja kasir. Hanya ada babaeh[1] disana.

“Taci[2]-nya mana, Bah?”

 

Babah memanggil istrinya dan dari pintu kecil di balik tumpukan kain, muncul seorang wanita mengenakan celana kargo warna hijau dan kaos krem. Kulitnya putih pucat seperti brokat untuk pemberkatan. Wanita itu menanyakan kabar Parti dan apa keperluannya. Parti meminta borongan yang kiranya dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu.

 

Pekerjaan borongan yang dia maksud adalah mengobras krah, lengan, atau menyambungkan satu bagian pakaian dengan bagian lainnya. Toko tekstil itu menerima pembuatan seragam TK, baju partai, dan seragam-seragam lainnya. Pemotongan polanya sudah dikerjakan oleh pegawai toko. Selanjutnya, potongan-potongan itu digarap dengan sistemborongan oleh penjahit-penjahit kecil macam Parti dalam jangka waktu yang telah disepakati sebelumnya. Misal, obras lima ratus kerah dalam seminggu.

 

Taci toko ini sangat disiplin namun baik hati. Parti tak sekali dua kali ngebon alias minta bayaran di awal sebelum pekerjaannya selesai. Aturannya, bayaran tak boleh diambil 100%. Misalkan upah yang seharusnya lima puluh ribu, Parti boleh ngebon dua puluh lima ribu sampai empat puluh ribu. Sisanya dibayarkan setelah pekerjaan selesai.

 

“Sebetulnya kemarin ada, Par. Aku sempat mikir mau kasih ke kamu, tapi akhirnya kuberikan kepada Tijah. Maaf ya, Par.”

 

Parti berpegangan ke gulungan bahan untuk menahan beban yang jatuh di pundaknya. Kepalanya sibuk mencari kemungkinan-kemungkinan cara menghadirkan terusan kuning berbunga putih itu kehadapan Vara dan “Apakah tidak ada yang bisa kukerjakan untuk lebaran?”

 

Taci menggeleng lemah. Parti pamit dan sempat menengok ke alun-alun sebelum melangkahkan kaki ke arah rumahnya.

 

Kalaupun aku dapat bayaran sebelum lebaran, belum tentu terusan itu masih ada, tapi setidaknya akan ada baju lebaran untuk Vara dan Divya.

 

Kemarin sore, Mba Ita tetangga yang tinggal berjarak tiga rumah dari rumahnya, bertemu dengan Parti setelah belanja untuk lebaran. Baju, sepatu, tas, hingga kue-kue kalengan dan kacang bawang satu stoples dibelinya. Mba Ita sempat bertanya saat bertemu Parti di depan gang, apakah Parti sudah belanja lebaran atau belum? Kue dan sirup di supermarket mulai menipis, katanya.

 

Parti hanya bisa menggeleng sambil pura-pura akan segera kembali ke rumah untuk menjahit. Suami Mba Ita adalah kenek angkot dan sopirnya adalah suami Parti. Parti tak habis pikir, kemana uang hasil suaminya narik? Bulan puasa seperti ini angkot pasti selalu ramai penumpang, apalagi sudah sepuluh hari terakhir. Pertanyaannya terjawab oleh bau alkohol yang menguar dari tubuh suaminya saat lelaki bertubuh tinggi itu pulang ke rumah semalam. Parti tahu, ia kini hanya bias mengandalkan dirinya sendiri.

 

Menjelang masuk gang menuju rumah, sebuah ide menyala di kepala Parti, seperti bohlam dalam film animasi. Tenggorokannya kering dan dahinya berpeluh setelah berjalan bolak-balik dua kilometer rumah-tokotekstil-rumah di siang hari bulan puasa, tapi langkahnya tetap tegap dan makin cepat. Parti melewati rumahnya sendiri dan terus berjalan menuju rumah Tijah di RT sebelah.

 

Beberapa kali Tijah meminta Parti berbagi garapan. Setelah mendapat material dari toko, Tijah mengambil sebagian di rumah Parti. Di atas kertas, nama Parti tetap satu-satunya yang tercantum. Nanti setelah diberi bayaran, Parti akan membaginya sesuai yang dikerjakan Tijah.

 

Tak ada salahnya aku yang minta tolong sekarang. Separuh garapan saja cukup. Toh, anak Tijah baru satu dan usianya belum genap dua tahun. Belum tahu yang namanya baju lebaran.

 

Kaos Parti kuyup di bagian punggung, menempel dan menampakkan jejak beha wanita 30 tahun itu. Sedikit lagi ia akan sampai di rumahTijah. Satu belokan lagi di jalan setapak ini. RumahTijah, seperti juga rumah Parti dan rumah-rumah lainnya di kampung ini, terbuat dari anyaman bambu. Mereka menyebutnya gribig[3]. Lantainya sudah diplester semen halus, namun belum dikeramik.

 

Tiga meter sebelum sampai, langkah Parti terhenti oleh pekik dan lengkingan Tijah dari dalam rumahnya. Sejurus kemudian terdengar suara piring dibanting dan dentum yang Parti sungguh-sungguh berharap bukan benturan kepala Tijah dengan benda keras apapun di rumah itu. Keadaan hening sejenak, lalu gumaman seorang lelaki terdengar dari rumah Tijah.

 

Pintu depan rumah Tijah terbuka. Suami Tijah keluar dari sana menggenggam beberapa lembar uang kertas menuju arah berlawanan dengan tempat Parti berdiri. Wajahnya berang, dia berjalan sambil mengancingkan kancing kemejanya yang sudah luntur di sana Parti masih membeku di tempatnya berdiri, seolah ada lem yang melekatkannya dengan tanah. Dia bisa mendengar Tijah menangis. Anak Tijah ikut menangis. Parti berusaha keras memproses apa yang baru saja terjadi, di hadapan matanya—meski tidak terlihat juga. Ia terkesiap saat setangkup tangan menepuk pundaknya. Sinta, tetangga Tijah.

 

“Sudah, Mbak Par. Sudah biasa kayak gitu. Saya dan beberapa tetangga sampai Pak RT juga sudah pernah menegur suaminya, tapi dia malah mengancam akan membakar rumah kami. Aku wedi,[4] Mbak, mau menegur lagi. Tijah pun sudah pernah kusarankan cerai saja, tapi katanya dia khawatir anaknya tumbuh besar tanpa ayah. Lho, ya mending nggak punya bapak kan dari pada punya bapak, tapi bapaknya nganggur, bisanya minta uang ke istri dan suka mukulin begitu. Ya gitu sih, Mbak. Kami juga bingung mau apalagi. Ngomong-ngomong, Mbak Par ada perlu apa sama Mbak Tijah? Nanti aku bantu sampaikan kalau sudah agak tenang.”

 

Parti menggeleng, mencoba tersenyum namun gagal. Dia kembali melangkah ke rumahnya.

 

Tijah lebih butuh uang itu daripada aku.

Tijah lebih butuh garapan itu daripada aku.

 

Di rumah, suaminya menunggu.

 

Purwokerto

 

Chandra Wulan lahir di Purwokerto pada 2 Maret 1995, menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Isipol UGM Yogyakarta dan kini bekerja sebagai pekerja teks komersial. Senang membaca dan bercerita. Dapat dijangkau melalui akun Instagram @chandrawulannn atau surel chandrawulann@gmail.com.

 

[1]Baba: Bapak/Ayah, panggilan untuk pria Tionghoa

[2]Cici: panggilan untuk wanita Tionghoa

[3]geribik

[4]aku takut

 

Photo by pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*