Topbar widget area empty.
nak! Cover Puisi Umi Tampilan penuh

nak!

Puisi-puisi karya Umi Laila Sari dan Vito Prasetyo

 

nak!

Oleh: Umi Laila Sari

 

duduklah di sini. di tikar purun yang telah dianyam buyutmu lewat mantra. ujungujungnya dierat oleh putus kata tetua. pada sisi atas bawah tersemat hangat tanah leluhur. kau tau? tikar ini berguna meraup semerbak bebunga desa kita. menghamparkan keelokan selasar pemberian tuhan. usah tertegun. sebab kau tak harus memangkas matahari pagi guna akrabi semesta diri. cukup duduk dan resapi.

sungairengit, 15072019

 

 

di pasir yang mengikat keinginan

Oleh: Umi Laila Sari

 

inilah penanda bahwa anak lanangmu masih di sini, merajut gelap dalam selembar perahu yang bertahun lalu kau perkenalkan, hingga gelap menjadi putih dan matahari lelah menyambar ikan di jaring nelayan

Pak, anggap saja lanangmu tak paham perihal indeks kesejahteraan atau apalah namanya deretan angka tingkat ekonomi, namun di tahunan terjajaki tiada ada beda. pada satusatu nyawa kehidupan yang dipunya adalah impian

sungairengit, 01102019

 

 

yang menanti pada titik paling letih

Oleh: Umi Laila Sari

 

tak ada percakapan juga sapaan ketika akhirnya kau sadar bahwa ada yang pasti dijumpai. di satu tempat dan waktu sebagaimana perjanjian masa lalu. tertulis tak bisa diganti  sebab tinta telah terhenti. kau menerimanya sebagai tujuan akhir dari sekian catatan keinginan. sebuah peristirahatan privasi mungkin saja sunyi menenangkan atau sepi menakutkan. ruah oleh bermacam buah, hiburan, dan apa-apa yang kemarin hanya dalam angan. pekat hingga hanya untuk selembar zikir dari dedaun memberi kejap.

memang ia tak pernah berucap. tapi ia pernah menitipkan pesan lewat bendera hijau melambai di depan gang rumahmu sesaat setelah pengumuman marbot masjid yang nyatanya seminggu kemudian menjadi nama yang ditulis di papan duka cita. bahwa ia ada di dekatmu. sekarang saat ini juga. hanya seusia embun lalu lesap oleh sinar mentari. hanya sejengkal selimut jingga di penghujung hari. setitik hembusan Pencipta melepas raga disanalah makammu berada. mungkin tak lagi ada penanda sebab munkar nakir tak butuh cerita.

sungairengit,  18112019

 

 

bertaruh keyakinan hingga lepas segala keinginan

Oleh: Umi Laila Sari

 

apa warna rasa penyiksaan bagi sumayyah? ya, sumayyah. setitik nama yang akhirnya menggurita selekasnya dalam catatan semesta. tidak perlu meraba wujud rupa. sebab rupa hanyalah pemberian tanpa pilihan. cukuplah tengok pada sebentuk jiwa yang ia punya. berpalung. dalam. menghujam. bahkan isak paling pilu tak mampu mengaliri. ia telah merenda tiap hitungan nafas dengan lafaz. ahad. ahad. ahad. dengung itu meluncur  deras dari telaga tubuh. membuncah di bibir melepuh. lihatlah! ia merasa lebih berani dari matahati untuk memanggang diri. seluas hamparan pasir mendidih. ia bertaruh, tulus. menguap ke udara semua semu milik dunia.

apa warna rasa penyiksaan bagi sumayyah? kelam, merah atau mungkin bening. ia tak butuh semua defenisi tentang rasa. biarlah harga nyawa yasir dan ammar sebagai penanda. bahwa sibghoh yang sama telah membebat mereka. ahad. ahad. ahad. dalam sabetan pedang atau libasan cambuk tetaplah bermakna sekejap saja. dimensi waktu telah tamat di titik syahadat. tak lagi menyisakan jeda atau tanya. ia kembali di sisi maha abadi.

sungairengit, 01092019

 

Umi Laila Sari, domisili di Banyuasin. Aktif di FLP Sumsel dan Liksitera (Bilik Puisi Sumatera).

 

 

 

Seperti Sebuah Sajak

Oleh:Vito Prasetyo

 

Aku ingin seperti mata air

tak pernah tumbuh, tetapi selalu memberi hidup

 

Aku ingin seperti camar angkasa

merobek jaring matahari

tetapi sayapnya tetap kokoh, tak pernah patah

 

Seribu keinginan, bahkan mungkin jutaan

selalu muncul dalam benak dan pikiran

tetapi tak pernah memuaskanku

 

Kenapa aku harus menulis beribu sajak

bukankah satu bisa memuaskanku?

Atau mungkin harus memuaskan

sejuta mata yang menatapku sinis

agar sajak terus berlari, tanpa batas penghentian

dan menghapus pandangan orang

yang hidup dalam keagungan dirinya

 

Aku ingin menjadi sajak yang bermata filsuf

bernapas bersama angin yang tak pernah diam

hingga pintu langit bisa menerimanya

dan senantiasa bermunajat dalam keagungan sabda-sabda suci

terbaca oleh segala makhluk tanpa kasta

 

Malang – 2019

 

 

Diam Lebih Bermakna

Oleh: Vito Prasetyo

 

Biarkan aku diam

menyusuri kemarau

melukis riak padang pasir

menuntaskan kesendirian

sunyi dan sepi

 

Di kejauhan langit, suara menggema

entah itu suara apa

ingin kumencari

agar kerinduanku tersampaikan

meski hanya lewat seutas kegelisahan

 

Seperti ikan-ikan menari di air

kegelisahan dan kerinduan itu

tak ada bedanya

sama-sama menyamarkan makna

adalah diam, telah menghempaskan segala ego

ketika kecamuk raga mengingkari jiwa

 

Malang – 2019

 

 

Langit Senja

Oleh: Vito Prasetyo

 

Sinar matahari tak lagi meruncing

segala penat seakan ingin direbahkannya ke hadapan Ilahi

pada batas tatapan kita, cahaya kuning jatuh dalam pelukan bumi

 

Di hamparan pantai, biduk dan sampan mulai berbenah diri

seakan ingin bermunajat menyongsong senja

 

Kutatap langit sore dengan kedangkalanku

seperti sebuah lukisan hidup, yang tak pernah pudar

fatamorgana pun bersujud diri

menanti putusan Ilahi

 

(Malang – 2019)

 

Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Bertempat tinggal di Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Naskah Opini dan Sastra (Cerpen, Puisi, Esai), Artikel Pendidikan dan Bahasa telah dimuat media cetak lokal dan nasional.

 

Photo by Juan Pablo Serrano Arenas from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*