Topbar widget area empty.
Sungai Alahan Panjang Alahan Panjang Cover Tampilan penuh

Sungai Alahan Panjang

Puisi puisi Titan Sadewo dan Isna Hidayati

 

 

Sungai Alahan Panjang

Oleh: Titan Sadewo

 

anak-anak menceburkan diri

tak memerlukan kamar mandi

untuk bersihkan sisa mimpi

 

mereka tak memakai baju

karena pakaian bukan zirah

pelindung dari marabahaya

 

kaki-kaki dibiarkan kotor

karena itulah bekas perjalanan

mengembara ke ngarai-hutan

 

ketika langit sedang romantis

surau melagu kepulangan

dan pintu telah menunggu

 

maka pulang berarti mencium

aroma rendang dari dapur.

 

2020

 

 

Sebenar-benar Berpisah

Oleh: Titan Sadewo

 

ialah tak saling mendoakan

sebab mencemaskan hanya

menyia-nyiakan kesetiaan

 

tapi bila sewaktu-waktu kau

menginginkan percakapan lagi

aku selalu di sana: di kecewa

 

walau kadang di keramaian

seperti ada yang memanggil

suaranya mirip masa lalu

 

sebenar-benar berpisah adalah

ketika nama seorang pura-pura

dilupa

 

tapi ingatan juga memorabilia.

 

2020

 

 

 

Ketika Izrail Bertamu

Oleh: Titan Sadewo

 

tetaplah di sini bersamaku

 

percakapan-pembicaraan kami

adalah tanda-tanda kepergian

menuju tempat yang kau benci

 

rumah ini sebentar lagi banjir

pelayat datang dengan tangisan

mata mereka musim hujan

 

ayat belasungkawa dilagukan

tapi aku tak mendengarnya

 

tetaplah di sini bersamaku

 

walau kau tahu bahwa kematian

adalah jarak yang tak bisa ditempuh

dengan kendaraan apapun selain

 

doa.

 

2020

 

 

 

Menasakhkan Kecemasan

Oleh: Titan Sadewo

 

aku ingin mengatakan sesuatu

 

“cinta kita terbuat dari api dan

suatu saat mungkin akan padam.”

 

kau membenci kalimat itu

seakan sebuah tanda datang

belum waktunya, katamu

 

seperti kematian—begitu pun

perpisahan yang mencekik

dengan tangan kenang

 

dan hari ini, kau mencatat kalimat

itu dalam sebuah buku yang tak

pernah ingin kau beri judul.

 

2020

 

Titan Sadewo. Lahir di Medan 2 Desember 1999. Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU. Belajar menulis di FOKUS. Puisinya dimuat Riau Pos, Haluan Padang, Banjarmasin Post, Analisa, Buruan.co, Obeliapublisher.com, Kibul.in, Buletin Lamun, Buletin Filokalia, Buletin Lintang. Puisinya juga termaktub dalam antologi Syair Maritim Nusantara (2017), Tugu, Anggrainim, dan Rindu (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Merdeka dari Pusaran Narkoba (2018), Puisi untuk Lombok & NTB (2018), Membaca Asap (2019), Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal (2019). Menetap di Medan, tepatnya di Jalan Kapten Sumarsono. Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Untuk komunikasi titqnsqdewo (Instagram) Titan (Facebook).

 

 

 

 

Untukmu, Tuan

Isna Hidayati Fauziah

 

Tuan,

Kudengar bangsa ini sedang tidak baik-baik saja

Di sana sini tercecer jerit hati rakyat

Ekonomi sedang tak bergairah

Pertumbuhannya melambat sebab inflasi melaju cepat

Was-was resesi menghampiri

Politik sedang pelik

Gerah suasana membakar para pemain sandiwara

Jabatan layaknya bola ping-pong

Seenaknya tampol sana tampol sini

Tikus berdasi makin rakus melahap duit negeri

Ada yang lantang berteriak revolusi dikebiri

 

Oh sungguh hamba ‘tak mengerti

Mengapa bisa sekacau ini

Apakah Tuan sedang mati suri?

Siapa pantas jadi kambing hitam akan semua ini

Mau dibawa lari kemana pertangungjawaban akan nasib bangsa ini

 

Hamba ini hanya rakyat jelata

Lemah tak berdaya jika harus melawan penguasa

Receh uang hamba tak mampu menyelamatkan bangsa

Tapi Tuan,

Nurani hamba belum mati

Hamba masih peduli akan nasib bangsa ini

Maka, kutulis sepucuk surat ini

‘Tak layak hamba menggurui

Mohon ampun jika tidak berkenan di hati

 

Gunungkidul, November 2019

 

 

 

Rona Ibu Pertiwi

Isna Hidayati Fauziah

 

Negeriku bagai kamar kehabisan dinding

Dempulan demi dempulan terus menerus ditorehkan

Putih ‘tak lagi mewarna

 

Menghitam legam

Mengelabu kelam

Mengabur suram

 

Luka menyayat

Dilema mengerat

Problematika menjerat

 

Sempurna berpadu

Melukis wajah baru

Indonesiaku

 

Sesaat pikirku melintas,

Mungkin ini jalan pintas

Menuju Indonesia emas

 

Gunungkidul, Desember 2019

 

 

 

(Seperti) Ada yang Keliru

Isna Hidayati Fauziah

 



Seperti barang dagangan

Wajar diperjualbelikan

Seperti bahan ­guyonan

Pantas ditertawakan

Seperti bahan mainan

Layak dipermainkan

Seperti pertunjukkan

Mudah jadi bahan tontonan

Seperti harta warisan

Harus rata dibagikan

Begitulah, jabatan kuartikan

Maklumlah, kerdilnya pengetahuan.

 

Gunungkidul, Desember 2019

 

 

Isna Hidayati Fauziah. Mahasiswi jurusan Pendidikan Akuntansi di Universitas Negeri Yogyakarta. Menulis puisi dalam antologi puisi berjudul “Catatan Kecil Tentangmu” bersama member Kelas Menulis Buku batch #2. Facebook: Isna Hidayati Fauziah Twitter: isna__hafa IG: isnahidayati09 email: isnahafa4@gmail.com, Tinggal di Jatiayu, Karangmojo, Gunungkidul.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*