Topbar widget area empty.
Berpeluh Keringat Berpuluh Pantai cover kisah sepeda Tampilan penuh

Berpeluh Keringat Berpuluh Pantai

Kisah Sepeda

 

 

Ini adalah kisah tentang perjalanan sepeda yang saya lakukan bersama Padma Cycling Club (PCC), sebuah komunitas sepeda di Bantul-Yogyakarta. Kisah yang mencoba merekam sekilas tentang tempat tempat menarik di Jogja dan tentang perjalanan itu sendiri. Cerita ini coba dibuat secara bersambung dan berharap dapat menyambungkannya.

 

Sepeda dan Jogja sepertinya tidak bisa dipisahkan. Mungkin ada banyak kesamaan atau kisah yang menghubungkan mereka. Saat Jakarta mencoba akrab dengan sepeda dengan agenda 500 kilometer Jalur Sepeda, Jogja sudah mesra dengan jalur ini. Mungkin Sang Gubernur, Anies Baswedan ingin menikmati romantisme Jogja di Jakarta.

 

Cerita ini dimulai dari perjalanan bersepeda kami berdua bersama Fahrul pada sebuah Jumat di bulan Oktober.  Bermula dari keinginan mencari sarapan di kota Bantul. Namun, entah kenapa rute yang kami ambil menuju Srandakan setelah melalui jalanan berliku di wilayah Goa Selarong. Usai rehat di sebuah jembatan, kami bersepakat untuk tidak kembali ke Bantul namun melanjutkannya ke Pantai Baru.

 

Pantai Baru berada di selatan kota Bantul yang berjarak 19 km. Untuk menuju pantai ini kami melalui Bunderan Srandakan yang merupakan pertigaan yang mengarah pada Brosot dan Pandansimo. Kami yang belum pernah ke Pantai Baru ternyata mengambil arah yang salah yakni menuju Brosot karena jalannya yang lebih besar dan mulus. Setelah melalui Jembatan Progo yang panjang kami berbalik arah di dekat Polsek Galur.

 

Foto: Bunderan Srandakan

 

Setelah kami perhatikan petunjuk jalan di Bunderan Srandakan, Pantai Baru memang tidak tertera. Hanya ada Pantai Pandansimo. Pantai Pandansimo adalah pantai yang cukup lama dikenal oleh masyarakat Jogja. Pantai Baru adalah pantai yang baru dibuka dan mungkin hal ini juga yang membuat namanya menjadi Pantai Baru. Sebagai destinasi baru jalan menuju pantai ini sangat baik kondisinya.

 

Foto: Tugu Pantai Baru

 

Begitu memasuki pantai kami segera menuju deretan warung untuk mencari tujuan utama kami, sarapan. Konon hidangan laut di pantai ini cukup nikmat  dan terjangkau harganya. Namun, tak satu pun warung yang buka. Ternyata hari Jumat pagi adalah hari yang sepi pengunjung dan digunakan sebagai waktu untuk membersihkan pantai. Untunglah pagi itu cerah dan deretan pohon sepanjang pantai menebar pesona yang dapat menghilangkan rasa lapar. Segera saja kami raih ponsel untuk mengabadikan.

 

Foto: Sebuah Keindahan Pantai Baru

 

Setelah puas mengabadikan keindahan dan menikmati deru ombaknya, kami kembali mengayuh sepeda.  Bila kamu penggemar pantai maka kawasan ini wajib diburu. Bayangkan saja, jalan aspal mulus ini menghubungkan puluhan objek pantai yang ada di pantai selatan Jogja. Perjalanan kami saat itu melalui Pantai Kuwaru, Pantai Cemara Udang, Pantai Cangkring, Pantai Patehan, hingga Pantai Goa Cemara.

 

Foto: Gerbang Pantai Goa Cemara

 

Pada kesempatan berikutnya kami bersama tim PCC dengan anggota yang lebih banyak melanjutkan perjalanan melalui Pantai Pandansari, Pantai Hutan Cemara, dan berakhir di Pantai Samas. Kalau saja diteruskan maka akan melalui Pantai Baros, Pantai Depok, Pantai Cemara Sewu, Pantai Barchan, Pantai Parangkusumo, dan pantai legendaris Parangtritis.

 

Foto: Pantai Samas

 

Kisah ini saya cukupkan dulu dan akan dilanjutkan dengan kisah lainnya. Masih tentang sepeda dan tetap dengan sepeda. Bila kamu bertanya apakah perjalanan di kisah ini bisa kamu jalani sebagai seorang pesepeda pemula. Jawabnya bisa karena jalanannya 90 persen datar dan beraspal mulus. Hambatan yang mungkin kamu hadapi adalah angin yang bertiup kencang, makanya deretan Kincir Angin akan kamu temui di kawasan Pantai Baru. Tapi kita tidak sedang berpacu, jadi santai saja mengayuh sambil menikmati hembusannya.



Foto: Jalan yang mulus

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*