Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Dialektika Seni; Antara Pelaku, Karya, dan Penikmatnya
Dialektika Seni; Antara Pelaku, Karya, dan Penikmatnya cover Dialektika Tampilan penuh

Dialektika Seni; Antara Pelaku, Karya, dan Penikmatnya

Opini Anjrah Lelono Broto

 

Melalui idiom-idiom yang ada dalam karya seni, pelaku seni menyelipkan inspirasi bagi (calon) penikmatnya secara holistik untuk lebih peka dan peduli dengan apa yang diberikan Tuhan di hamparan muka bumi (makrokosmos) dan di dalam hati kita (mikrokosmos).

 

Entitas pelaku seni tidak semata lahir dari meja seorang pegawai Dinas Kependudukan yang berbesar hati untuk membubuhkan diksi “pelaku seni” di kartu tanda penduduk (KTP) salah satu warga negara Indonesia. Entitas pelaku seni juga bukanlah sesuatu yang given, karena Tuhan terlalu baik kepada semua umat-Nya sehingga mampu menciptakan dan menikmati sesuatu yang indah. Sementara, keindahan merupakan esensi mendasar dalam sebuah karya seni. Dus, menjadi pelaku seni adalah sebuah pilihan yang ditandai dengan lahirnya karya seni yang dinikmati publik dari rahimnya.

 

Sayangnya, seiring berayunnya bandul jam dinding, benang merah antara pelaku seni-karyanya-penikmat karya-karyanya menjelma menjadi onggokan benang kusut. Setelah melahirkan sebiji-dua biji karya seni yang dinikmati sendiri kemudian banyak pribadi di antara kita yang menasbihkan dirinya sebagai pelaku seni. Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi digital onggokan benang kusut tersebut kian sukar untuk diurai. Tengok munculnya wacana “Instapoet” atau kalau di-Indonesia-kan menjadi “Penyair Instagram”, di mana siapa saja dan kapan saja –tergantung kemudahan akses internet tentunya- dapat mentasbihkan diri sebagai pelaku seni melalui intensitas pengunggahan karya seni (puisi) di laman media sosialnya.

 

Begitu pula dengan pribadi-pribadi yang menepuk dada karena telah merasa layak menyandang entitas “pelaku seni” usai menjadi bidan kelahiran karya-karya seni besutan program-program pemerintah dan atau korporasi. Semata karena kemampuan di ranah event organizer dan atau memiliki kedekatan “tertentu” dengan pengambil kebijakan, pribadi-pribadi seperti ini menyelipkan namanya di antara daftar panjang pelaku seni. Tentang kemudian ada yang menyelipkan namanya dalam buku besar pelaku seni yang berpengaruh itu akan melebar menjadi tulisan yang berbeda.

 

Kalau boleh disebut bahwa apa yang mereka hasilkan adalah karya seni maka salah satu buahnya adalah keterasingan karya-karya seni dari (calon) penikmatnya. Mengingat, mereka yang saya sebutkan dalam paragraf ini adalah pribadi yang menterjemahkan keindahan karya-karya seninya seratus persen menurut dirinya sendiri dan atau seratus persen merujuk pada pesan-pesan pemilik modal agenda tersebut.

 

Penyair romantik John Keats (1795-1821) dalam Endymion mengatakan: “A thing of beuty is a joy forever. Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.” Sesuatu yang indah adalah keriangan selama lamanya, kemolekannya bertambah, dan tidak pemah berlalu ke ketiadaan. Dalam sajak di atas, Keats merujuk pada teks Endymion yang terdapat dalam mitologi Yunani kuno. Endymion dalam mitos tersebut merupakan penjabaran dari konsep keindahan pada jaman Yunani kuno. Endymion adalah seorang gembala yang oleh dewa-dewa diberi keindahan abadi. Dia selalu muda, selamanya tidur, dan tidak pemah diganggu oleh siapapun. Menurut Keats, orang yang mempunyai konsep keindahan hanya tertentu jurnlahnya. Mereka mempunyai negative capability, yaitu kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakannya hanya pikiran dan hatinya yang selalu diliputi keresahan.

 

Pada hakekatnya negative capability adalah suatu proses. Ketidakmenentuan adalah suatu proses. Proses inilah yang membuat seseorang menjadi kreatif. Pelaku seni yang mampu memelihara kegelisahan dalam hatinya, menjaga adanya ketidakmapanan situasi-kondisi, serta menemukan sesuatu yang tidak ideal dalam benaknya adalah pelaku seni kreatif yang mampu menghadirkan keindahan bagi seluruh (calon) penikmat karya-karya seninya. Keindahan yang lahir dari rahim pribadi gelisah seperti ini bersifat holistik, menyeberangi batas-batas geografis juga kultural, serta tak mudah lapuk dimakan usia (apalagi digilas oleh trend populer).

 

Memelihara kegelisahan adalah sebuah proses yang gampang-gampang susah. Gampang apabila dilakukan dengan meniadakan motif komunitas apalagi motif-motif pribadi yang beraroma profit oriented. Menjadi sebuah proses yang susah ketika diri kita terlalu asyik bermain-bermain dalam kubangan imajinasi ciptaan kita sendiri dan atau imaji yang diciptakan oleh sumbu-sumbu pemegang kebijakan maupun NGO sebagai founding. Kreatifitas menjadi produk langka dan mahal yang susah untuk dilakukan. Sehingga penikmat karya seni tidak menemukan keindahan dalam karya-karya seni yang lahir dari rahim pribadi yang tidak mampu memelihara kegelisahan ini.

 

Karya seni yang lahir pun menjadi sesuatu yang tidak mengundang empati dan simpati (calon) penikmatnya, apalagi inspirasi. Sementara, salah satu pilar wajib dalam sebuah karya seni selain sebagai tontonan yang disuguhkan untuk dinikmati adalah tuntunan. Karya seni juga menjadi jembatan tersampainya pesan-pesan moral kemanusiaan dan ketuhanan yang mengajarkan penikmatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui idiom-idiom yang ada dalam karya seni, pelaku seni menyelipkan inspirasi bagi (calon) penikmatnya secara holistik untuk lebih peka dan peduli dengan apa yang diberikan Tuhan di hamparan muka bumi (makrokosmos) dan di dalam hati kita (mikrokosmos).

 

Apabila nabi-rasul mendapatkan wahyu dari Tuhan. Maka atas kebaikan-Nya pula, Beliau memberikan ilham ke dalam diri pribadi yang sudi-sedia memelihara kegelisahan di ruang batinnya untuk dikreasikan menjadi karya seni yang indah juga menginspirasi bagi (calon) penikmatnya. Seiring berayunnya bandul jam dinding, sejenak dialektika antara pelaku seni-karyanya-penikmat karya-karyanya yang telah menjelma menjadi onggokan benang kusut ini semoga sedikit mengurai.

*******

 

Anjrah Lelono Broto bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA), tinggal di Mojokerto. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama. Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerkak, 2015),  “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017), dan Permintaan Hujan Jingga (antologi puisi, 2019). Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail: anantaanandswami@gmail.com, FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto.



 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*