Topbar widget area empty.
Di Kaki Langit Senja cover di ujung senja Tampilan penuh

Di Kaki Langit Senja

Cerpen ReYen RS

 

 

Terlalu hiperbol kalau Udin harus mengatakan ia bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan sesuap nasi. Namun, kenyataannya sesuap nasi pun begitu sulit untuk masuk ke dalam mulutnya. Anak nan malang. Lebih tua tanaman kacang dibanding usianya, namun tebal kulit dan kerutnya melebihi tebal kulit badak. Keras, kasar, hitam lebam dengan penuh kekusutan. Pandangan mata letihnya yang menyusut sayu seperti mentari di senja berkabut yang dengan perlahan malu-malu menghilang di balik bebukitan. Siang terik yang membakar, haus dahaga yang luar biasa, perut yang melilit kelaparan sudah menjadi menu utama bagi Udin. Sudah kebal katanya dalam hati. “Aku hanya perlu untuk tak menghiraukan semua rasa-rasa yang tak mau tanggal dari tubuh ringkihku ini” Udin membatin dalam, dengan hati dan jiwa yang penuh dengan sobetan-sobetan luka.

 

“Tak apalah, kiranya aku masih mampu bernapas dan melangkah. Aku pasrah sampai dimana letak jejak kakiku terhenti, di waktu mana napasku tercekat tak mampu mengaliri paru-paruku lagi, aku akan tetap hidup seperti ini” katanya lagi pada dirinya sendiri, sambil melangkah tertatih, lekat menatap sepasang kakinya yang semakin hari semakin menciut.

 

Tanpa disadarinya tetes demi tetesan hangat menitik jatuh tepat di kakinya yang kumal. Namun, dengan cekat dihapusnya dengan kedua tangannya. Tak ingin si mungil di balik pintu kardus itu melihat riak air yang akan mengacaukan indah senyumnya. Benar, senyum itu yang selalu menjadi obat paling mujarab bagi Udin. Obat saat Udin benar lapar, obat saat Udin merasa haus yang tak terkira, obat di kala Udin merasa tubuhnya mati rasa, obat saat Udin merasa hatinya sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupan yang serba mengiris pedih tiap-tiap langkah kecilnya. Di saat dia benar-benar tak sanggup, hanya senyum itu pengingat Udin untuk kembali. Kembali mampu untuk menatap hari yang menantang kesabaran hati dan tubuhnya.

***

 

“Kenapa abang pulangnya begitu lama? Aku udah kelaparan, Bang. Abang bawa makanan apa? Coba, coba aku liat” teriakan kecil Ani membuyarkan lamunan Udin. Segera dibuangnya jauh-jauh wajah lusuhnya. Digantinya dengan senyum yang begitu manis, tentu itu hanya  menurutnya.

“Ah, iya Dik. Hari ini abang banyak dapat koral di sungai. Alhamdulilah bisa beli nasi ini” ucap Udin sambil menyodorkan bungkusan kecil yang hampir sama kusutnya seperti wajahnya.

“Asyik, aku udah lapar sekali, Bang” kembali suara nyaring Ani mengisi ruang berkardus itu. Cepat-cepat dibukanya bungkusan kecil yang kata abangnya berisi nasi untuk makan malam mereka. Wajahnya yang penuh dengan sumringah seketika terpekur melihat isi bungkusan yang baru saja dibukanya. Menyadari itu, Udin hanya mengelus bahu Ani dari belakang.

“Maaf dik, hari ini hanya itu yang dapat abang beli untuk makan malam kita. Abang janji besok akan bekerja lebih keras agar dapat membeli nasi dan lauk yang enak. Ya, jangan merengut seperti itu, abang jadi sedih” jelas Udin kepada Ani. Ani merenung beberapa saat, memperhatikan wajah kusut abangnya. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu.

“Bang, aku mau ikut besok mencari koral di sungai. Agar kita bisa membeli nasi dan lauk yang enak” kata Ani tiba-tiba dengan senyum penuh semangat yang tidak membutuhkan jawaban persetujuan dari abangnya.

“Tak boleh. Cukuplah dik, kau di rumah saja. Bermain dengan buku-buku yang selalu menunggumu untuk dibaca. Biar abang saja yang bekerja” tolak Udin dengan sangat.

“Tapi Bang, aku juga bisa. Walau hanya satu dua batu yang dapat kuangkat. Aku yakin bisa menambah muatan Abang” terang Ani kembali pada Udin.

“Sudahlah, mari makan. Dan kau tak perlu ikut kerja besok. Tolong dengarkan abangmu ini” balas Udin dengan wajah kaku. Dia sangat tahu dengan wajah seperti itu Ani tak akan bisa menolak perintahnya. Terbukti Ani langsung terdiam dan memulai acara makan malam mereka dengan khidmat walau hanya bertemankan sepotong tempe goreng.

***

 

Seusai makan Ani langsung rebah di kasur empuknya, tumpukan kardus kardus usang. Beberapa menit berlalu, Ani belum juga bisa memejamkan matanya. Ada begitu banyak hal yang hilir mudik di dalam pikirannya. Udin hanya bisa menatap punggung adik gadis kecilnya itu. Tiba-tiba Udin ingat sesuatu. Sesuatu yang dia beli dan membuatnya  hanya bisa membeli sebungkus nasi dengan sepotong tempe goreng. Udin tersenyum sendiri dan berlari kecil mengambil sesuatu dari tas kerjanya yang lusuh. Ani akan senang mendapat hadiah ini, kata udin sambil tak hentinya tersenyum. Sesampainya ditempat rebahan Ani, Udin menepuk pundak adiknya dengan lembut. Ani mendongakkan wajahnya, membesarkan matanya berusaha melihat wajah abangnya dengan baik di cahaya temaram lampu dinding yang apinya lari kesana kemari ditiup angin dari celah-celah kardus.

 

“Nih, Abang punya sesuatu untukmu. Kau pasti suka” kata Udin seraya memberikan bungkusan kecil itu.

“Apa ini, Bang? Kenapa Abang bisa beli sesuatu sedang abang tak punya uang bahkan untuk membeli lauk enak”  balas Ani bingung dan juga penasaran dengan bungkusan kecil itu.

“Sudah jangan banyak tanya, kau buka saja. Kau pasti suka” kata Udin lagi. Ani akhirnya menurut dan dengan perlahan ia membuka bungkusan itu. Tak ayal lagi, matanya berkaca-kaca dengan kegembiraan yang luar biasa. Itu adalah baju terusan dengan bando merah jambu yang sudah lama ia impi-impikan untuk memakainya. Ani selalu bilang ke Udin saat anak-anak perempuan yang sering bermain di lapangan selesai mandi sore mengenakan baju seperti itu.

“Terlihat sangat cantik dan anggun, Bang. Kapan aku bisa pakai yang seperti itu ya? Ah, mana mungkin” itulah kata-kata yang selalu dia lontarkan saat Udin lebih awal pulang dari bekerja dan mereka menyempatkan diri untuk bercerita tentang khayalan-khayalan indah Ani. Dan setiap hal itu terjadi Udin menahan sakit dan tangis yang luar biasa di dadanya.

 

Tak ada tempat mengadu. Di dunia ini hanya ada mereka berdua. Tak ada yang lain. Kehadiran mereka memang tak pernah diinginkan bahkan bagi kedua orang tua mereka, bahkan Udin tak sempat mengingat wajah ayahnya. Begitu ia mengenal dunia ini, dia juga langsung dikenalkan dengan kesendirian. Sedang ibunya yang tak mampu bertahan di dunia yang kejam ini, dengan begitu mudah meninggalkan mereka di tempat sebaik baiknya tempat, ironisnya.

 

“Boleh langsung aku pakai besok, Bang?” kata Ani membuyarkan lamunan Udin. Udin hanya mengangguk. Ani malah memeluk abangnya itu dengan erat. Terasa air hangat itu menyesap di kaus lusuh Udin. Dari sudut mata Udin titik itu pun bergulir perlahan tapi pasti.

***

 

Hari ini Udin bekerja penuh dengan semangat. Dia bekerja dipenuhi dengan senyum manis. Di matanya masih jelas wajah Ani yang begitu bahagia. Aku harus bekerja lebih keras  sehingga aku tak perlu takut lagi melihat wajah sedih Ani, pikir Udin. Hingga matahari di ufuk barat mulai menggelinding di antara bebukitan yang mulai mengabu, Udin masih semangat untuk mengangkat tumpukan batu terakhir. Bahkan di pinggir sungai itu telah sepi, tiada lagi para pekerja lainnya. Mereka sudah pulang dari tadi.

 

Tiba-tiba langkah kaki Udin terhenti. Suara teriakan yang nyaring itu mengejutkan Udin. Mengapa Ani bisa sampai ke sini, pikir Udin. Seketika dia meletakkan kembali koral yang baru dipanggulnya, dan melihat ke arah asal suara itu. Namun wajah Udin berubah seketika menjadi merona gembira. Terlihat di atas tepi sungai sana Ani berdiri mengenakan baju yang kemarin dia belikan, tak ketinggalan bando merah jambu menghiasi rambut hitam panjangnya yang terurai indah.

 

Ani tersenyum sambil menuruni tangga-tangga batu untuk menghampiri Udin. Ingin memamerkan keindahan dari baju barunya. Tatapannya seakan mengatakan liat bang, aku beneran cantik dan anggunkan memakai baju ini. Udin hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Dik, hati-hati bebatuan itu licin bekas cucuran air pemanggul batu yang berjalan naik turun” kata Udin mengingatkan Ani yang terlihat sedikit berlari-lari kecil menyusuri tangga itu.

“Tak apa Bang, aku tak akan terjatuh” katanya, tapi baru saja selesai Ani berkata tiba-tiba ia kehilangan keseimbangannya. Ani berusaha untuk kembali berdiri tegak namun ujung baju terusan yang ia kenakan ternyata terinjak oleh kakinya sendiri. Tak pelak lagi tubuh mungil Ani terjerembab dan berguling-guling jatuh menuju aliran sungai. Udin yang melihatnya tak sempat lagi berteriak. Ia lompati tangga-tangga batu itu dan mencebur ke dalam sungai berusaha menemukan tubuh mungil adiknya. Jantung Udin serasa terhenti berdetak. Senja membutakan matanya yang terus mengalirkan air hangat itu. Bibirnya terkatup kuat tangannya terus menyisir hilir sungai yang berarus deras. Logikanya mati seketika. Yang dia lihat hanya senyum Ani yang begitu manis. Sesak jantungnya, penuh tak ada kata-kata yang bisa keluar dari bibirnya yang sudah pucat pasi.

“Ani… Ani..” teriak Udin akhirnya sambil meraung-raung. Menyelami dasar sungai namun hanya buih dari arus yang mengalir deras yang ia dapati. Di pinggiran sungai itu terlihat benda berwarna merah jambu. Berlari Udin sekencang-kencangnya, tak peduli koral yang tajam mengoyak kaki dan lututnya. Secepat kilat ditangkapnya benda itu. Ya, bando merah jambu yang baru di pakai Ani. Hanya bando itu yang Udin dapatkan. Tanpa suara Udin meratap dan meraung menutup matanya yang buta tiba-tiba. Mengapa aku bermimpi buruk sekali. Padahal aku belum tidur, ujar Udin sendiri sambil menangis.

“Ani. Kenapa tak kau tunggu abang di kaki senja di balik pintu kardus itu seperti biasa” kata-kata tak beraturan terus keluar dari mulut Udin yang sudah tak punya kesadaran lagi.

 

Sampai mentari menyingsing dari kaki langit senja, Udin masih betah berenang dengan bando merah jambu itu. Sesekali dia tertawa sambil memanggil nama adiknya. Ani, ini bando merah jambumu dik, kenapa kau buang, teriak Udin lirih tak bertenaga. Riak sungai membawa sayatan luka si pemanggul batu dan si gadis kecil berbando merah, menutup hari di kaki langit senja dengan manis, begitu yang selalu dirasakan si pemanggul batu itu.



 

Yenni Reslaini, lahir pada 14 Juni 1990 di kecamatan Marbau Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara. Anak ke-6 dari pasangan Almarhum Ramlan Ritonga dan Almarhumah Saridah Munthe. Lulusan dari Universitas Alwashliyah Labuhanbatu jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Menggunakan nama pena ReYen RS. Bergabung dan aktif di FLP cabang Labuhanbatu dari tahun 2015. Karya yang sudah dibukukan berupa cerpen “Jangan Panggil Aku Sebelum Kau Mencinta” dalam antologi cerpen FLP Labuhanbatu “Ceritamu Ceritaku di Rantauprapat” (Kinomedia). Novel “Takdir Ilalang” (Penerbit Ahsyara). Penulis juga adalah salah satu Fasilitator di SDIT Alam Arrozaq Rantauprapat. Email: lovebird8282changyang@gmail.com, facebook: Yexih Junlain, Ig: @MeoxiJ

 

Photo by Nihat from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*