Topbar widget area empty.
Ilusi di Ruang Operasi cover operasi Tampilan penuh

Ilusi di Ruang Operasi

Cerpen M.Z. Billal

 

 

Aku tadi tidak di sini. Aku direbahkan di atas meja datar dan penuh lampu yang menyala terang. Lalu seorang dokter menyuntikkan sesuatu ke pergelangan tanganku. Hingga rasanya pikiranku mulai melayang dan merasa sangat mengantuk. Aku berusaha melawan, tapi aku tak kuat. Sampai aku benar-benar tidur sejenak. Dan seketika bangun lagi, aku sudah tidak berada di ruang operasi. Aku berada di tempat yang aneh.

 

Tak jauh dari hadapanku ada lima pria berkopiah dan berpakaian serba putih, duduk mengitari sebuah meja bundar lumayan besar yang dipenuhi lima nampan berisi makanan dan minuman lezat yang berbeda. Mereka tampaknya sedang terlibat percakapan menarik. Sesekali tawa kecil mereka pecah. Kulihat kelima wajah pria itu memiliki kemiripan. Sepertinya mereka memiliki hubungan darah. Dan aku yakin betul mereka memang bersaudara. Atau bisa saja mereka kembar lima.

 

Seraya mendekat ke arah mereka, semula kupikir aku berada di sebuah ruangan besar yang didekorasi mirip sebuah taman hijau yang nyaman, dan kelima pria berjanggut putih itu duduk di bawah pohon rindang yang dedaunannya gemerisik dibelai angin sepoi tiruan yang ramah. Tapi ternyata dugaanku salah. Sama sekali tak ada dekorasi tiruan di tempat ini. Semuanya asli.  Langit biru  dan awan-awan yang mengambang sebagai latar benar-benar lanskap orisinal. Rumput yang kuinjak, embusan angin, kicau burung, dan pohon yang menaungi kelima pria itu asli. Aku pun dibuat takjub. Namun, pertanyaan yang lantas tersirat di benakku adalah aku sekarang berada di mana? Aku tidak mengenali tempat ini. Bahkan aku belum pernah sekali pun berkunjung kemari.

 

Sambil terus berjalan dan dadaku dipenuhi tanda tanya, aku menatap bergantian wajah mereka yang belum menyadari kedatanganku itu. Barulah ketika telah berdiri sangat dekat dengan meja makan dan aku tersenyum. Salah seorang pria sadar akan keberadaanku. Pria itu langsung berdiri menyambutku dengan sebuah pelukan.

 

“Masya Allah, kita kedatangan tamu,” katanya dengan ramah sambil menepuk-nepuk pelan punggungku.

“Billal?” Pria yang berjanggut paling lebat menumbukkan tatapan matanya yang berkilau kepadaku, seakan tidak percaya.  Dan aku pun mengangguk. Membenarkan bahwa aku adalah pemilik nama yang baru saja ia sebutkan.

“Bagaimana bisa sampai ke sini?” tanya pria yang duduk di samping pria yang tadi memelukku.

“Aku tidak tahu,” jawabku pelan dan mencoba menerka sendiri alasan yang membuatku berada di sini.

“Perjalananmu pasti sangat jauh, silakan duduk dulu, Billal.” Pria yang duduk searah denganku tersenyum, menyuruhku duduk di kursi yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba sudah ada di belakangku.

“Terima kasih.” Aku menjawab dengan agak ragu dan belum ingin duduk. Aku masih ingin memastikan bahwa aku di tempat yang aman seraya memandang keempat wajah pria berkopiah yang kini balik menatapku sambil tersenyum, yang rasanya perlahan dalam benakku tersirat bahwa wajah-wajah itu rasanya tidak asing bagiku. Dan yang jelas mereka memang tidak kembar lima. Kecuali pria berkopiah dengan jenggot putih halus yang duduk di sebelahku. Ia masih menunduk, tidak menatapku. Tapi kupikir ia mendengar percakapan pendek kami. Jadi aku tidak tahu apakah ia juga tidak asing untukku atau memang ia adalah yang paling tidak bisa kukenali.

“Kami sungguh tidak menyangka kau akan kemari, Billal.” Pria yang berjenggot paling lebat berkata lagi. “Ini begitu cepat. Dan kau terlalu muda untuk duduk bersama kami.”

“Benar sekali. Apa yang membuatmu sampai kemari?” tanya pria yang menyambutku dengan pelukan.

 

Beberapa saat aku terdiam. Mengerutkan kening lalu menunduk sebentar dan  lekas mengangkat pandanganku lagi. Kepalaku mendadak dipenuhi banyak misteri yang membuatku kesulitan untuk memecahkannya. Mana kutahu apa yang menyebabkan aku berada di sini. Aku tiba-tiba saja berada di seberang padang dan menatap kelima pria tua ini duduk mengitari meja yang dipenuhi hidangan di bawah pohon rindang ini. Lalu, semacam keinginan yang bercampur rasa penasaran, mendorongku untuk menghampiri perjamuan asing ini. Dan tahu-tahu saja ternyata mereka semua mengenalku tanpa aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku betul-betul tidak mengerti. Yang sedikit aku ingat, dan itu berkelebat cepat mirip sepotong gambar di mataku, adalah bahwa sebelum berada di sini aku tengah tidur di atas ranjang dalam sebuah ruangan. Aku tidak tahu itu di mana. Hanya saja, selain aku ada seorang pria berpeci yang duduk di samping ranjang sedang membaca sebuah buku kecil yang isinya tulisan Arab. Hanya itu. Selebihnya aku betul-betul tidak ingat.

 

“Apa sesuatu telah terjadi di sana?” tanya pria berjanggut paling pendek yang duduk di samping pria berjanggung paling lebat. Dan pertanyaan itu menimbulkan bisik-bisik di antara mereka sendiri.

“Aku tahu dia akan kemari.” Pria yang sedari tadi menunduk tiba-tiba membuka suara. Namun ia tetap menatap ke bawah saat sedang berbicara. Membuat aku dan keempat pria yang mendengar sepotong kalimat yang ia ucapkan langsung fokus memandangnya. “Aku tahu dia akan tiba di sini. Namun aku tidak berharap secepat ini.”

“Maksudmu, kau tahu hal ini?” tanya pria di sebelah kananku sambil mengernyitkan dahinya.

“Aku,” katanya sambil mengangkat wajah diselingi embusan angin. Yang secara spontan, saat aku menatap tepat ke arah wajahnya, langsung tercekat seraya membekap mulut. Ada rasa tidak yakin namun begitu nyata. Jantungku pun berdegup cepat dan badanku gemetar. “Aku tidak ingin dia berada di sini. Banyak orang masih membutuhkannya.”

 

Saat pria itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja air mata mengalir hangat di pipiku. Suaranya yang khas tak bisa kupungkiri telah membuat dadaku mengembang seperti balon. Mengembang oleh sebuah rasa yang banyak disebut orang-orang sebagai rindu. Rindu yang tak pernah berhenti mengalir ke seluruh tubuh dan berpulang ke jantung lagi. Bagaimana tidak, pria itu justru adalah pria yang paling kukenal diantara kelima pria yang ada.

 

“Bapak?” lirihku.

 

Pria itu, tanpa banyak bicara, langsung berdiri dan memelukku erat, kemudian menyuruhku duduk. Ketika itu barulah aku sadar, bahwa keempat pria lainnya adalah saudara-saudara bapakku. Itu sebabnya wajah mereka tampak serupa. Dan semasa hidup mereka, aku memanggil mereka semua dengan sebutan ayah. Panggilan orang melayu pada umumnya. Kecuali Bapak. Ia satu-satunya lelaki yang tidak dipanggil ayah oleh keturunannya: aku dan seluruh kakakku.

 

Dan pria yang tadi menyambutku dengan sebuah pelukan adalah saudara di atas bapakku sebagai yang termuda, yakni urutan keempat. Aku memanggilnya Ayah Aroni. Dulu ia seorang guru yang baik hati dan ramah. Makanya ia begitu murah senyum. Lalu yang berjanggut paling lebat, kupanggil ia Ayah Ali. Ia adalah yang tertua dan sikapnya tegas. Sementara dua yang duduknya berhadapan, satu di sebelah kananku dan yang satu lagi di sebelah Bapak, kupanggil Ayah Andak dan Ayah Anjang. Mereka urutan kedua dan ketiga. Masing-masing dulu bekerja sebagai pedagang dan penarik becak. Dan tentunya baik hati juga.

 

Aku senang bisa bertemu lagi dengan mereka. Menatap wajah mereka yang selalu tampak bahagia, gemar bercanda dan tidak berpura-pura. Bahkan bisa duduk semeja untuk bertukar cerita. Itu hal yang luar biasa. Terutama bertemu bapak. Aku tidak mampu mengungkapkan betapa gembira, dan rasanya dadaku seperti laut biru yang luas, saking bahagianya bisa menatap wajah bapak lagi bahkan mendapat sebuah pelukan hangat darinya.

 

Namun, aku masih belum memahami, apakah mereka nyata atau tidak. Sebab aku tahu betul mereka semua, bapak dan keempat saudaranya telah tiada. Mereka pergi menghadap Sang Pencipta bergantian. Lantas, apa itu artinya, aku pun telah tiada? Apakah aku sudah mati dan ini adalah akhirat, tempat orang-orang duduk menanti datangnya Hari Pembalasan? Apakah semua ini cuma halusinasiku saja?

 

“Aku sungguh tidak ingin dia berada di sini, meski aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Tapi aku yakin, ini bukan waktunya,” kata bapak seraya menatapku sejenak.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Ayah Ali.

“Aku tahu Tuhan tidak akan menyuruhnya pulang sebelum dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Banyak orang masih membutuhkannya. Bukankah seharusnya dia memiliki keluarga besar seperti kita terlebih dahulu? Pergi ke tempat-tempat yang jauh, belajar banyak hal, dan menikmati hari tua.”

“Tapi kau tahu kan, dia tak lagi berdaya. Dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang mengancam nyawanya?” sela Ayah Andak. “Sementara kita tak bisa berbuat banyak hal.”

“Aku juga ingin dia menjalani hari-hari mudanya seperti sungai Indragiri.” Ayah Anjang berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di meja. “Aku ingin melihat dia tua, keriput, dan tertawa seperti anak kecil. Jadi aku juga tak ingin dia berada di sini sekarang.           Kulihat ucapan Ayah Anjang mendapat kesepakatan dari anggukan kepala Ayah Aroni. Sementara aku masih belum mengerti apa yang mereka bahas tentang aku. Bahkan ketika Ayah Andak menawariku segelas minuman, bapak langsung melarangnya. Bapak bilang bahwa aku tidak boleh menyantap apapun yang ada di atas meja. Itu sebuah larangan, mengingat menurut bapak aku seharusnya tidak berada di tempat ini.

“Lalu kita harus apa?” tanya Ayah Aroni.

 

Bapak nampak berpikir keras. Matanya terpejam sempurna. Setelah barangkali ia mendapat petuah, barulah ia membuka matanya dan berkata, “Ia harus pulang.”

 

“Bagaimana caranya?” timpal Ayah Ali. “Kita tidak punya kuasa apapun.”

“Ia harus menyadari satu hal. Saat ini ia hanya putus asa dan menyerah.”

 

Lalu dengan tegas bapak menatapku. Lebih lama dan lekat. Aku tidak tahu harus mengatakan dan menyadari apa. Sampai ia mengusap rambutku dengan lembut dan berkata,  “Nak, kau tahu, kami semua memang menunggu kedatangan seluruh keluarga untuk berkumpul di sini. Kami senang siapapun datang sesuai waktunya. Tapi kau pun harus mengerti, kau harus pulang. Kau harus kuat. Ini bukan waktumu. Orang-orang sedang menunggumu. Di rumah sakit itu. Kau tidak boleh putus asa. Kau harus mampu mengalahkan penyakit itu. Harus!”

 

Sambil mengatakan kata harus, bapak mengguncang tubuhku. Tatapannya begitu tajam hingga menembus rongga mataku. Saat itulah aku menyadari lebih banyak hal lain. Bahwa saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Sekarat oleh penyakit yang telah memangsa tubuhku. Di dekatku ada orang-orang yang berharap kesembuhanku dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Namun entah mengapa, saat ini jiwaku melayang jauh dari ranjang kamar rumah sakit. Aku pergi ke padang rumput, bertemu bapak dan keempat saudaranya yang kupanggil ayah di meja makan di bawah pohon rindang.

 

“Kau harus segera pulang, Billal. Ibumu menunggu, dia risau sekali.”

 

Aku masih ingin berada di sini, berbincang lebih lama dan melepaskan rasa rindu pada bapak dan para ayah. Namun dadaku terasa sesak bila mengingat ibuku yang setiap malam selalu menangis berdoa untuk kesembuhanku. Aku betul-betul ingin mendekap tubuhnya. Dan mengusir awan kelabu dari matanya. Aku harus pulang! Aku tidak boleh putus harapan!

 



“Bapak, aku akan selalu merindukanmu!” kataku. Lalu pamit pada seluruh ayah dan bergegas pergi menyeberangi padang dengan perasaan bahagia dan lebih tenang.

***

 

M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, apajake.id, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Lentera PGRI, Kurungbuka.com, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Travesia.co.id, Radar Bekasi. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

Photo by Oleg Magni from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*