Topbar widget area empty.
Kisah di Bawah Hujan dan Lampu Kota yang Mati cover lampu merah dan hujan Tampilan penuh

Kisah di Bawah Hujan dan Lampu Kota yang Mati

Cerpen Panji Sukma

 

 

Air mata Ratna masih mendanau di dasar pelupuk, ketika seorang pengendara motor yang melintas tiba-tiba berhenti dan mematikan motornya. Pengendara itu menuntun motornya dan mengikuti irama langkah Ratna yang terus terisak menyusuri tepi jalan raya. Meski kaca helm pengendara itu tertutup rapat, sepertinya Ratna tahu siapa pengendara yang membisu dan memilih terus menuntun motor di sisi kanannya. Pengendara itu seolah sedang berusaha menghapus kemungkinan Ratna dari sambaran kendaraan yang lewat. Sedangkan di ruas jalan yang lain, tiga blok dari tempat itu, sedan putih dengan logo kepolisian di sudut plat nomornya, merayap dengan tatapan pengemudi yang seperti tengah kehilangan arah, seakan sedang mencari jejak-jejak pilu yang belum lama diiris.

 

“Sebenarnya aku bisa mengantarmu. Tapi kamu jangan salah sangka dulu dengan tawaran itu, sebab seandainya ini bukan kamu pun aku akan tetap menawarkan tumpangan,” ucap pengendara motor yang tak lain adalah Rimba.

 

Bagai menyukat belut, tangis Ratna semakin pecah di bawah lampu-lampu kota yang mati, teriakan knalpot dan deru mesin yang mengaduh tak mampu menimbun suara khas Rimba, lelaki yang pernah mati-matian menyemai cinta untuk Ratna. Memang ada yang belum tuntas sejak hari itu, ketika takdir memaksa untuk berlari dan meninggalkan kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya bisa dicari. Di langit yang pekat mulai menjalar kilat bagai sungai yang bercabang, bahasa bisu yang seakan tak memiliki ujung, pun dengan aroma kebekuan yang hadir di antara keduanya yang semakin tajam.

 

“Seandainya malam itu kamu datang, aku pasti memilihmu,” ucap Ratna tanpa mengalihkan pandang dari pekatnya aspal.

 

Tak sulit lagi menebak tentang apa yang ada di dalam kepala mereka. Yah, kenangan yang terlempar ke beberapa tahun silam, saat sungai masih menjulur bening dari hulu, tanah masih basah dan harum, hingga kebun bunga yang mereka hidupi mekar tanpa susah payah. Empat tahun bukan waktu yang singkat bagi kebersamaan mereka yang saling mengasihi, kehangatan yang terbangun semenjak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah dan mendiami kelas yang sama. Ratna sungguh beruntung saat itu, kepandaian Rimba yang di atas rata-rata banyak membantu Ratna. Mungkin itu pula yang membuat darah Ratna kerap berdesir lebih kencang tiap kali kebersamaan mereka ada, sulit perempuan untuk lari dari ketertarikan perihal keseksian isi kepala lelaki, sebuah daya pikat yang tak lahir dari mata, dan Ratna paham benar perihal itu. Namun takdir baik berpaling dari mereka, di penghujung milenium krisis moneter menghantam, seluruh sektor usaha terdampak karenanya, tak terkecuali perusahaan ayah Ratna. Hasil produksi menumpuk, para importir negara tetangga tak berani mengambil risiko, sedangkan para karyawan mesti terus digaji. Hingga akhirnya yang dimiliki ayah Ratna tinggallah utang.

 

Dahulu elang pulau, kini telah menjadi elang pungguk. Beruntung ia masih memiliki nama besar yang belum terendus kerapuhannya oleh para rekan dan relasinya. Hanya ada satu pilihan saat itu, berbesanan dengan seorang jenderal kepolisian yang tak lain sahabatnya ketika masih muda dulu, dan berharap mendapat bantuan pinjaman untuk tetap mempertahankan perusahaan. Terlebih sahabat lamanya itu memiliki putra yang telah mapan, seorang polisi muda yang berkarir elok. Mungkin siapa pun setuju, jauh jika membandingkannya dengan Rimba, pemuda yang putus kuliah karena harus menafkahi adik-adiknya. Memang acap kali seperti itu, lahir sebagai sulung dari keluarga tak berada, ada tanggung jawab yang kerap datang sebelum waktunya.

 

“Kamu tahu apa yang kupikirkan saat menunggumu malam itu?” tanya Ratna sembari langkah kakinya melambat.

“Kamu kecewa padaku, berpikir aku menyerah, lalu membenciku.” Jawaban Rimba terdengar lirih karena ia tetap membiarkan kaca helmnya tertutup.

“Salah. Aku terlalu mengenalmu. Saat tahu kamu tak datang, aku semakin sadar jika semua itu bukan salahmu, dan membuatku semakin mencintaimu. Sekaligus aku sadar, itu adalah pilihanmu, aku tak boleh naif dan menahanmu dengan beban berat yang mungkin saja kamu bawa bila kita memilih bertahan.” Hela napas panjang membekas di dinginnya udara. “Sebenarnya ayah tak memaksaku. Ayah menganggapku telah dewasa dan tahu pilihan mana yang harus kupilih,” lanjutnya.

 

Ada yang mengendap-endap di dada mereka, saat langkah keduanya menyusuri sisi bawah jalan layang. Beberapa orang kusut yang duduk takzim di lapak kopi sederhana menyaksikan langkah mereka. Kendaraan tak lagi ramai karena kebanyakan memilih melintas di jalan layang, melupakan sisi bawah jalan layang yang dulu pernah sangat berjasa.

 

“Apa aku seorang pengecut?” tanya Rimba, kepalanya menoleh perlahan pada Ratna.

“Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja hatimu takut.”

“Apa itu hal yang buruk?”

 

Belum sempat bibir Ratna menjawabnya, gerimis halus turun. Mereka tatap langit yang telah dilingkari mendung gelap.

 

“Apa kita akan berteduh?”

“Jangan,” potong Ratna cepat. “Hujan akan membuatku seperti tak sedang menangis.” Ratna menoleh pada Rimba, tawa kecil terbekas di sudut lebam bibirnya yang membiru, mata Ratna menyipit disusul dengan senyum getir dari balik helm Rimba. Ada yang kacau di raut Rimba dan tak bisa ditangkap Ratna. Tak kuasa Rimba menyaksikan apa yang terbekas di wajah Ratna, terlebih di sudut bibirnya, tempat dimana dulu doa Rimba bersemayam tanpa pamrih.

“Kukira dia lelaki yang baik, dan meyakini selama ini aku telah memutuskan hal yang tepat,” ucap Rimba tampak terbata.

“Sebenarnya dia lelaki yang baik, hanya aku saja yang tidak bisa mencintainya.”

 

Langkah Rimba terhenti sejenak mendengar itu, lalu mulai kembali menyeret langkah yang lebih limbung dari sebelumnya. Gerimis halus berubah menjadi hujan yang ramai, membanjiri sisi atas jembatan layang, mengucur kencang ke bawah tiang penyangga melalui pipa-pipa. Di antara nyaring suara air yang menghempas beton, sebuah pertanyaan terlontar dari Ratna.

 

“Seandainya saat ini kamu diberi kesempatan yang sama seperti dulu, apakah kamu akan datang padaku?”

 

Langkah keduanya terhenti. Seketika itu pula seakan tak ada ramai di sekitar mereka, seolah lenyap suara deru kendaraan dan ceracau hujan. Kebisuan paling hening yang mungkin pernah mereka rasakan. Tak ada tatap, pun tak ada sentuhan untuk sedikit menghangatkan kebekuan. Yang ada hanya dentuman di dada mereka, memukul-mukul tanpa ampun. Kaca helm Rimba mengembun, ada yang basah di sana.

 

“Aku sudah tahu jawabanmu. Seharusnya aku tak menanyakannya lagi,” ucap Ratna lirih sembari melanjutkan langkah, meninggalkan lelaki yang mematung di bawah guyuran hutan bersama motor tua di sampingnya.

 

Tarikan napas panjang dari Rimba mengantar dadanya yang menegak, tegas tampak keyakinan lahir di sana. Bergegas Rimba menuju Ratna yang sudah hampir lenyap di tikungan pertokoan. Namun belum sampai Rimba pada Ratna, tiba-tiba sedan putih muncul dari arah belakang, menikung dan berhenti di depan Ratna. Seorang lelaki berkemeja biru keluar dari balik pintu dengan payung yang dikembangkan tergesa, langkahnya cepat menyibak genangan air hujan. Dari bibirnya, ia terus mengucap kata maaf dan penyesalan tanpa jeda, juga janji perihal takkan lagi mengulangi kesalahan. Nama Ratna ia sebut dengan dalam. Sebuah pelukan melingkar erat di tubuh Ratna, dan lehernya yang basah menjadi pelabuhan dari tangis lain yang pecah. Namun yang pasti, saat ini jawaban telah ada pada Rimba. Ia lepas helm dari kepalanya, senyum tampak mengembang di sudut bibirnya. Mata Rimba memicing, mengantar pijakan kakinya yang matang. Hanya hujan yang tahu kemana arah langkah pemuda itu.

 

 

Panji Sukma, lahir di Sukoharjo, 1 Maret 1991. Saat ini mengasuh Sanggar Semesta Bersua dan bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Karya yang telah terbit,novel Sang Keris (Gramedia Pustaka Utama, 2020),novelAstungkara (Penerbit Nomina, 2018),novel Canai (Penerbit  UNSA Press, 2019) Semesta Bersua Zine (2016). Karya yang akan segera terbit kumpulan fiksi mini Iblis dan Pengelana (Penerbit Buku Mojok). Surat-menyurat: bersualahsemesta@gmail.com. Twitter dan Instagram: @buruhseni.

 

Photo by Nguyen Nguyen from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*