Topbar widget area empty.
Mantan Orang Baik Yang Menjaring Matahari cover Menjaring Matahari Tampilan penuh

Mantan Orang Baik Yang Menjaring Matahari

Cerpen Kusyoto

 

 

Di Abad ini orang pintar banyak, namun dunia kita kekurangan orang-orang baik dan orang-orang jujur, katanya kala itu pada Sarkawi yang tengah membereskan dagangannya sembari memperhatikan lalu-lalang orang yang baru saja selesai menjalankan salat Jumat. Bondan, lelaki berusia seperempat abad itu merupakan pedagang barang-barang antik di Masjid Agung Indramayu, barang antik yang dijualnya merupakan hasil tadah dari para pencuri, copet, maling, rampok, garong dan tindak kriminal lainnya, ada alasan tersendiri bagi Bondan dan Sarkawi menjajakan dagangannya di komplek masjid, mereka berharap dosa-dosanya diampuni Tuhan karena berdagang dikawasan rumah Tuhan, bukankah Tuhan itu maha pengampun bagi mahluk ciptaannya, maha pemurah pemberi rezeki bahkan terhadap seorang bajingan sekalipun, meski cuma seminggu sekali mereka mengingat Tuhan itupun karena terpaksa digiring petugas keamanan masjid yang mengharusan para pedagang meninggalkan dagangannya ketika waktu salat Jumat berlangsung.

 

“Kotbah Jumat kali ini begitu menghentak perasaanku,” kata Sarkawi.

“Iya, jleb gitu di hati, “ timpal Bondan.

“Pantas, si Jalu perangainya kasar, urakan dan suka melawan orang tua, apakah itu pengaruh makanan dari uang haram yang saya berikan ya?” keluh Sarkawi.

“Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak.”

“Maksud mu?”

“Sepengetahuan saya perangai dan watak seseorang itu pengaruh dari lingkungannya.”

“Menurutmu bukan karena uang haram?”

“Hemm, ya…, sudahlah ayo kita pulang.”

 

Keduanya lantas meninggalkan kawasan Masjid Agung menuju kontrakannya masing- masing.

 

Bondan dan Sarkawi berangkat dari latar belakang sama, sama-sama perantauan di Indramayu, setahun lalu keduanya dipertemukan oleh nasib di sebuah stasiun kereta api Lempuyangan, mereka berdua penumpang gelap yang akan menuju ke Jakarta, mujur tak dapat diraih malang tak dapat dihindari, ketika kereta api berhenti di stasiun Jatibarang, keduanya tertangkap basah petugas, setelah berdebat cukup alot namun karena mereka berdua mengakui kesalahannya dan membayar ganti rugi akhirnya keduanya dibebaskan.

 

“Di kota ku dulu saya bekerja pada sebuah perusahaan swasta, gaji besar kedudukan bagus,” kata Bondan mengenang masa lalunya.

“Kenapa kau tinggalkan posisi basah itu?”

“Prinsip.”

“Prinsip?”

“Iya perinsip hidupku yang idealis.”

“Aku masih belum paham, coba kau ceritakan,” sela Sarkawi penasaran.

“Di kantorku itu yang dibutuhkan adalah orang penurut, patuh dan manut sedang kepintaran, kepandaian dan skil nomor sekian.”

“Kalau sekadar pintar, pandai, iblispun lebih pandai dan pintar dari malaikat.”

“Kau benar Sarkawi, sebab iblis dulunya adalah guru dari para malaikat, tapi karena membangkang pada perintah Allah, ia terusir dari surga, begitu yang aku ketahui dari ceramah pak kyai di kampung waktu aku kecil.”

“Lalu alasan mu meninggalkan kampung halaman?”

“Efek psikologis dari kebijakan kantor yang merobah saya menjadi seperti ini, dulu saya ini orang yang idealis, disiplin dan penurut, memegang teguh prinsip, pengambil keputusan itulah yang merobah saya seperti sekarang ini.”

“Apa kau menyesal?”

“Tidak, namun sangat disayangkan, menurut saya mantan orang jahat masih lebih bagus daripada mantan orang baik.”

 

Masih teringat dengan jelas di benak Bondan, betapa kecewa dan sakit hati manakala pemilik perusahaannya yang telah mempercayakan kedudukan penting dengan sepihak dan tanpa menjelaskan alasan memindahkan Bondan ke tempat yang baru, katakanlah tempat itu adalah posisi buangan bagi karyawan bermasalah, namun apa salah Bondan? Sampai Bondan resign sang pengambil keputusan itu tidak pernah memberitahukannya.

 

Beberapa tahun Bondan menjalani aktifitas pekerjaan barunya dengan baik, ia berusaha memahami keputusan atasannya, ia mencoba ikhlas dan ridho, Bondan masih ingat wejangan guru ngajinya agar selalu patuh dan menurut pada atasan, pada penguasa, perlahan namun pasti gaji Bondan dipotong disesuaikan dengan posisi pekerjaannya, ia masih ikhlas menerima dengan lapang dada, ia masih bertahan dengan prinsip hidupnya, sampai bisikan iblis berhasil memperdayainya.

 

“Jadi kau…, kau mencelakai bos mu itu?” kata Sarkawi, ia tak habis pikir Bondan yang dikenalnya selama ini tega melakukan hal seperti itu.

“Bisa iya, bisa juga tidak.”

“Maksud mu?”

“Tiap saat saya berdoa pada Tuhan, walau bukan tangan saya sendiri yang melakukan saya berharap ada tangan lain yang melakukannya, sayapun berdoa agar saya dapat menyaksikan kehancurannya.”

 

Sarkawi tampak menarik napas dalam, ia mulai gelisah menanti kelanjutan cerita Bondan.

 

“Dia ditikam orang yang rupanya lebih dendam dari saya,” lanjut Bondan.

“Mati?”

“Tidak, tapi ia menderita cacat seumur hidup, pisau itu bersarang tepat di tulang belakangnya.”

**

 

 

Di hari Jumat berikutnya, Sarkawi tidak melihat Bondan, ia beranggapan sahabatnya itu sedang ada keperluan penting, mungkin pulang kampung, tapi mengapa ia tidak diberitahu dirinya, kalau Bondan pulang kampung kan dia bisa nitip uang buat keluarganya, tapi kenapa telepon genggamnya tidak bisa dihubungi, selalu di reject. Setelah berjualan Sarkawi mendatangi kontrakan sahabatnya itu, ia hanya mendapati kontrakan Bondan dikunci dari luar. Dua minggu lamanya khabar Bondan tidak bisa dilacak Sarkawi, Bondan seperti hilang ditelan bumi.

 

Hingga satu ketika pemilik kontrakan yang ditempati Bondan menceritakan ikhwal lelaki tinggi kurus itu.

 

“Seminggu lalu, Bondan ditangkap polisi, setelah berhari-hari bersembunyi di Ujung Kulon,” kata sang pemilik kontrakan.

“Apakah dengan tuduhan penadah barang-barang curian?”

“Bukan, dia ditangkap dalam kasus pembunuhan.”

“Pembunuhan? Siapa yang dibunuhnya?”

“Mantan bosnya.”

 

Sarkawi terhenyak, ia tidak habis pikir akhirnya Bondan melakukannya, terkenang kembali pembicaraan terakhirnya dengan Bondan.

 

“Mantan orang jahat itu masih lebih bagus daripada mantan orang baik.”

 

Sarkawi tercekat, hari itu juga ia pergi ke kantor polisi terdekat untuk menyerahkan diri dan mengakui semua tindak kejahatannya sebagai penadah barang-barang curian.

 

“Jangan pernah coba-coba membuat orang baik sakit hati, jangan pernah mengecewakan orang pendiam, sebab mantan orang jahat itu masih lebih bagus daripada mantan orang baik.”

 

Sarkawi tersenyum kecut mengingat semua kata-kata terakhir Bondan, perlahan kedua tangannya yang memegang jeruji besi dilepaskan, dengan gontai ia berjalan ke pojokan lalu duduk bersandar di ruang tahanannya.



 

Indramayu, 2019

 

Kusyoto, lahir di Indramayu 02 Juli 1977 bergiat di Dewan Kesenian Indramayu, Komite Sastra, beberapa tulisannya baik puisi dan cerpen di muat di berbagai media Koran dan majalah nasional. Akun Facebook: Kusyoto, kyt. Email: kkusyoto@gmail.com

 

Photo by Samuel Silitonga from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*