Topbar widget area empty.
Masih Adakah Surga di Bawah Telapak Kakiku? Cover Masih Adakah Surga Tampilan penuh

Masih Adakah Surga di Bawah Telapak Kakiku?

Cerpen Kholi Abas

 

 

“Maaf, Mas. Aku harus pergi.”

 

Tangan Ratih bergetar menuliskan kalimat itu. Terlebih batinnya, bergejolak hebat. Ratih sudah tidak tahan. Ingin rasanya menyerah saja, dan kali ini sepertinya ia memang telah menyerah. Perempuan berlesung pipi itu telah kalah. Kalah oleh sisi dirinya yang lain.

 

“Aku harus mengakhiri semuanya. Semua hal yang telah aku mulai,” ucap Ratih dengan lirih.

 

Ia tertunduk, pipinya basah lagi. Napasnya tercekat, suaranya tertahan. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin meluapkan semua isi hati. Perempuan seperempat abad itu meringkuk, menangisi keadaan. Ia tak sanggup melanjutkan isi suratnya. Selembar kertas putih itu selesai hanya dengan kalimat, “Maaf, Mas. Aku harus pergi.”

 

Di tengah tangisnya yang semakin menjadi, terdengar suara tangis lain dari bayi mungil di sampingnya. Bayi mungil itu awalnya hanya merengek, namun Ratih tak menggubrisnya. Ia juga masih sibuk dengan tangis dan perasaannya yang kian kacau. Kini, tangis bayi yang masih merah itu semakin kencang, memekikan telinga. Ratih yang mendengarnya tetap tak bergeming, ia justru semakin menutup telinga dan membenamkan wajahnya dalam-dalam.

 

Bisikan itu datang lagi. Bisikan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

 

“Ayolah Ratih, sudahi saja semuanya. Sudah tak ada lagi yang menghargaimu, bahkan suamimu sendiri. Kamu bukanlah Ratih yang dulu. Sekarang kamu hanya manusia yang tak berguna. Akhiri saja semuanya, supaya orang-orang yang selama ini merendahkanmu merasa bersalah telah menyakitimu.”

 

Ratih menggeleng keras, berupaya menyingkirkan bisikan bodoh itu. Mulutnya tak henti berucap istigfar, namun hatinya tetap gelisah. Bisikan itu telah menguasainya. Tubuhnya bergetar hebat, menggigil. Matanya bergerak kesana kemari memandangi setiap sudut ruang kamarnya yang sempit. Bukan hanya matanya yang basah, tubuhnya kini pun telah banjir oleh keringat yang mengucur deras.

 

             “Ayo Ratih, tunggu apa lagi? Akhiri semuanya sekarang! Bukankah kamu ingin membuktikan apakah orang-orang itu menyayangimu atau tidak? Matilah, maka kamu akan tau. Toh, sekarang kamu bukan Ratih sang jurnalis hebat yang bergerak tanpa batas lagi. Kamu sekarang hanyalah ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami pun tak bisa. Kamu manusia tak berguna, Ratih. Akhiri saja.”

 

            Gelengan kepala Ratih semakin kencang. Ia semakin meringkuk di sudut kamar. “Allah, tolong aku,” pinta Ratih dalam hatinya penuh rasa takut.

***

 

Hari itu merupakan Minggu yang cerah. Matahari sangat terik terasa. Jam dinding penuh debu yang terpajang di kamar telah menunjukkan pukul 10. Di saat semua manusia di rumah itu telah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ada seorang perempuan yang baru satu bulan menyandang gelarnya sebagai ibu masih terlelap di atas tempat tidurnya. Ia adalah Ratih, perempuan Sunda asal Subang yang dinikahi Bayu, lelaki asal Medan berdarah Jawa.

 

Bukan tanpa alasan Ratih masih terlelap hingga matahari sudah sepenggal naik ke atas langit. Hampir seminggu ini ia selalu begadang. Bayi mungil bernama Alif itu selalu saja menangis dan tak bisa diletakkan. Ia selalu menangis dan hanya akan diam jika digendong oleh ibunya. Sepanjang malam Ratih terjaga. Suaminya tak bisa diharapkan. Ia lebih memilih tidur terpisah di kamar lain supaya bisa tidur tanpa gangguan.

 

Lingkaran hitam di sekeliling matanya semakin terlihat jelas, wajahnya pun semakin tirus tak terurus. Rambut ikalnya kusut. Entah kapan terakhir kalinya Ratih menyisir rambut indahnya. Hari itu terasa berbeda. Tubuh Ratih terasa sangat lemah. Badannya yang mungil semakin terlihat menyusut. Ia butuh istirahat.

 

Biasanya, Ratih akan berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa kantuk yang menyerangnya di pagi hari. Ia sibukkan paginya dengan berbagai aktivitas rumahan. Selepas subuh, Alif biasanya akan tertidur. Ratih pun akan segera memulai aktivitas paginya dengan mencuci popok dan baju anak pertamanya itu. Walaupun luka jahitan setelah melahirkan masih sangat perih terasa, namun Ratih paksakan untuk mencuci popok anaknya sendiri. Ia tak ingin merepotkan orang lain, dan memang pada kenyataannya tak ada satu pun di rumah itu yang mau direpotkan.

 

Suaminya tak peduli dengan pekerjaan rumah tangga yang selalu dikerjakan istrinya itu. Selepas subuh ia akan disibukkan dengan persiapan untuk berangkat ke kantornya yang terletak di pinggiran Kota Medan. Ibu mertuanya pun terlalu sibuk dengan kerjaannya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara. Seminggu pertama setelah melahirkan, semua pakaian Ratih, Bayu dan Alif memang ibu mertua Ratih yang mencuci. Namun selama seminggu itu pula Ratih harus kenyang dengan segala repetan ibu mertuanya.

 

“Dulu, Ibu tuh sehari setelah lahiran udah bisa beres beres rumah sendiri. Tidak manja, makanya kondisi Ibu cepat pulih dan kembali bugar.”

 

Setelah beres dengan semua cucian baju, Ratih akan segera berpindah ke cucian piring dan gelas yang menggunung. Tak lupa ia pun menyiapkan sarapan untuk suami dan ibu mertuanya yang akan berangkat pagi ke kantor. Ketika suami dan ibu mertuanya telah pergi, Ratih dengan cepat membersihkan seluruh ruangan di rumah yang berukuran 9 x 7 meter itu. Ia beradu cepat dengan waktu. Jika masih sempat, perempuan Sunda itu akan sarapan sebelum bayi mungilnya terjaga. Namun seringkali Ratih kalah cepat. Barulah selesai ia mengepel lantai, tiba-tiba tangisan Alif memanggilnya. Memaksanya menunda sarapan untuk ke sekian kalinya.

 

Setelah semua urusan Alif selesai, mulai dari menyusui, memandikan hingga menidurkannya, saat itulah waktu yang sangat ditunggu Ratih untuk sekedar bisa menikmati secangkir teh manis hangat. Seringkali ia menikmati teh beraroma melati itu dengan lamunannya. Tatapan matanya kosong, menandakan ia sudah sangat lelah. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga batin atas segala omongan pedas orang-orang di sekelilingnya terutama ibu mertuanya sendiri.

 

Saat usia kandungan Ratih delapan bulan, ia harus tinggal bersama ibu mertuanya. Kepergian ayah mertua untuk selamanya itulah yang membuat Ratih dan Bayu pindah dari rumah kontrakan mereka. Bukannya kebahagiaan yang didapat, Ratih justru lebih sering menitikan air mata sejak tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Terlebih lagi sikap Bayu, suaminya seolah tak mau peduli dengan kondisi yang dihadapi Ratih seorang diri. Perbedaan pendapat dan pertengkaran yang sering terjadi antara ia dan ibu mertuanya membuat Ratih semakin merindukan sosok ibu kandungnya yang telah lama meninggal.

 

Tak jarang, dalam lamunannya, Ratih meneteskan air mata lagi. Ia rindu dengan dirinya yang dulu. Seorang perempuan yang mampu bergerak bebas meliput berita di segala penjuru Kota Medan. Ia rindu dirinya yang dulu selalu aktif berkegiatan sosial di berbagai lembaga. Sejak kehamilannya memasuki usia tujuh bulan, ia terpaksa menghentikan semua aktivitasnya itu. Kini, perempuan berlesung pipi itu merasa terkurung oleh rutinitas yang membosankan dan hampir mematikan. Belum lagi dengan segala komentar ibu mertuanya, “Jadi istri itu bukan berarti bermalas-malasan buat cari uang. Jangan cuma bisanya nadah sama suami aja.”

 

Masih di hari yang sama, Minggu yang cerah dan terik itu. Ratih yang sedang terlelap sedikit terusik dengan keributan yang terjadi di luar kamarnya. Suara piring dan gelas yang saling beradu di tempat pencucian itu membuatnya harus membuka mata, ditambah lagi dengan suara repetan mertuanya. Dengan setengah sadar, Ratih masih bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan mertuanya.

 

“Jadi perempuan kok males. Sudah siang begini masih saja ngegolek di atas kasur. Mau ngasih contoh buruk buat anaknya apa?”

“Sudahlah, Bu. Ngga usah direpetin terus. Pusing Bayu mendengar repetan, Ibu, setiap hari,” ucap Bayu menimpali.

”Ibu bukan ngerepet, Bayu. Ya harusnya kan sudah punya anak itu kasih contoh yang baik. Pagi-pagi itu beres beres rumah, cuci piring lah, masak lah. Tapi istrimu? Malah keenakan tidur,” jawab ibu mertua tak mau kalah.

“Hmmmh… sudah lah, Bu. Bayu capek. Bayu pergi dulu, mau main futsal.”

 

Sementara di dalam kamar, Ratih mendengar semuanya dengan jelas. Ia sadar, ia sedang jadi bahan pembicaraan dua orang terdekatnya itu. Hatinya perih, napasnya sesak. Matanya terasa hangat. Buliran bening itu sudah bersiap jatuh dari sudut mata. Entah kepada siapa ia harus mengadu. Ibunya sudah tiada. Suami yang seharusnya bisa jadi tempat cerita nyatanya tak bisa diharapkan. Hanya Allah lah tempat ia bercerita segala keluh kesahnya. Dalam perihnya, Ratih berkata lirih, “Ibu, seperti inikah rasanya menjadi seorang istri, menantu dan ibu? Sesakit inikah, Bu?” Air matanya tak terbendung lagi, jatuh membentuk aliran sungai di pipinya.

 

Perempuan berbadan mungil itu memandangi bayi merahnya. Alif yang selama ini menjadi sumber kekuatan sekaligus titik terlemahnya. Terkadang, bayi mungil itu menjadi sumber kekuatan bagi Ratih di saat lelah menyergapnya. Namun, di sisi yang lain Alif juga menjadi alasan Ratih merasa paling tak berdaya karena rasa takut akan kegagalannya menjadi seorang ibu yang baik bagi Alif. Ia pandangi lagi wajah mungil itu. Ia kecup kening dan pipinya seraya berbisik, “Maafkan Ibu, Nak.”

 

Ratih bangkit dari tidurnya. Diusapnya air mata yang masih mengaliri pipinya yang tirus. Ia beranjak menuju rak kecil di samping kasur. Ia mencari sebuah pena, kertas, dan sebuah benda berbalut sapu tangan hitam yang telah ia simpan rapi di sela-sela lipatan baju Alif.

***

 

“Ratih, buka pintunya. Cepat bangun. Apa kamu tidak dengar anakmu dari tadi menangis?!” ucap ibu mertua dengan penuh amarah sambil menggedor keras pintu kamar.

“Ratiiiihhhh… buka pintunya. Masih tidur aja kamu di dalam, heuh?” Suara ibu mertua semakin meninggi. Ia kesal tak ada jawaban dari dalam kamar. Hanya tangisan Alif yang semakin melengking.

 

Sementara di dalam kamar, Ratih semakin ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar hebat. Ada pergolakan dalam hatinya. Ia sudah siap dengan sebilah pisau tajam yang dibalut sapu tangan hitam. Pisau itu sudah siap berada di atas nadi tangan kirinya. Ia pejamkan mata dalam-dalam. Namun seketika itu juga bayangan ibunya hadir. Gerakkan tangannya terhenti sejenak, ia goyah sesaat.

 

Ia jauhkan lagi pisau itu tapi rupanya bisikan itu terlalu menguasainya. Ia pejamkan mata lagi dan berusaha membuang bayang-bayang ibunya. Dirapatkannya bibir mungilnya seraya berkata dalam hati, “Ibu, masihkah surga itu berada di bawah telapak kakiku? Sedangkan aku melakukan apa yang tidak dilakukan penghuni surga?”

 

Kholi Abas, lahir 18 Oktober 1993. Pernah menempuh pendidikan strata 1 di Institut Pertanian Bogor. Mulai menulis fiksi sejak duduk di bangku SMA. Beberapa karyanya yang pernah dimuat di antaranya, Surat Cinta untuk Tuhan (Radar Banten), Gilalova (Gong Publishing), Toga di Tepi Jendela (Dompet Dhuafa), dan Pesan Cinta Dandelion (biem.co). Ibu beranak satu yang memiliki akun Facebook bernama “Kholi Abas” ini berasal dari Kp. Mandaya Watgalih, Ds. Mandaya, Kec. Carenang, Kabupaten Serang.

 

Photo by Kristin De Soto from pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: