Topbar widget area empty.
Menanti Kepulangan cover cerpen mhd ikhsan Tampilan penuh

Menanti Kepulangan

Cerpen Mhd Ikhsan Ritonga

 

 

Pinggiran pantai yang mesra. Perempuan itu masih menatap ke ufuk barat. Ia melihat kepergian yang membawa harapan. Matahari telah berwarna merah pertanda ia harus mengakhiri penantian hari itu. Airmatanya jatuh . Bisa saja hari itu ia tetap menunggu, tapi hasrat ingin berteduh. Perempuan itu menyisiri bibir pantai. Jejak kakinya mengikuti dibelakang. Sesekali lisannya komat-komit perihal kepergian.

 

“Siapa yang salah? Semuanya jadi amburadul,” ucapnya.

 

Sambil mengusap kedua matanya. Matahari terbenam dan sepanjang jalan pulang ia tetap melihat ke arah barat. Perempuan itu sampai dirumah. Senyum tak kunjung hadir di wajahnya. Baunya juga amis. Dia mengetok pintu, penuh harap dibukakan oleh ibu tirinya.

 

“Bu, Roma pulang!”

 

Ibunya membuka pintu dengan penuh harapan puterinya membawa sesuatu yang bisa dimakan.

 

“Sudah pulang aja Rom, tak biasanya kau pulang jam segini,” ucap ibu. Datar.

“Kau bawa apa?”Tambah ibunya.

 

Dia diam. Dipandanginya wajah ibunya yang berubah drastis sejak peristiwa itu. Peristiwa yang membuat keluarganya amburadul seperi saat ini. Hampir tak ada senyuman di setiap harinya. Makian yang bertubi-tubi datang.

 

Sejak ayahnya pergi melaut dan tak pulang. Beberapa orang mengatakan kalau ayahnya sudah menikah. Informasi itu dia dapatkan dari Porkot teman ayahnya pergi berlayar dulu. Tapi ia tak yakin untuk kebenaran info tersebut. Lain halnya dengan ibunya, sejak saat itu tak pernah hadir senyum dari wajah ibunya.

 

“Maaf bu, Roma tak bawa apa-apa. Soalnya tidak ada yang menerima kerja di pasar tadi.”

 

Ibunya menghela napas. Menatap wajah puterinya itu, seakan-akan ingin membunuhnya saja.

 

“Memanglah kau, tak ada otak, cari kerja yang lain. Pasti kamu seharian di pinggir pantai lagi kan? Masih menunggu kepulangan ayahmu? Berapa kali aku bilang Ayahmu telah melupakan kita. Tak kau lihat sudah lima tahun ditinggal disini saja.” Suaranya menggelegar seperti petir.

 

Dia hanya diam. Menunduk. Ingin rasanya ia menjawab semua tanya dari ibu. Tapi dia takut malah akan membuat masalah semakin besar. Malam sudah tiba. Saatnya Roma membantu ibunya mencuci pakaian yang dititipkan oleh tetangga. Di rumah itu, jarang ada senyum dari ibu kepada anak, walau bukan ibu kandung Roma.

 

Roma melakukan pekerjaan itu dengan ikhlas. Walau airmata harus bersimbah. Tak jarang ia mengingat masa bahagia ketika ayah dan ibunya masih ada. Tapi Allah sudah mengatur jalan hidupnya. Ia ingin menjadi anak-anak seusianya yang menikmati masa sekolah dan masa-masa bermain. Tapi itu semua jauh dari pandang. Sebab tak ada bahu untuk bercerita.

 

Azan Magrib berkumandang. Roma menghentikan pekerjaan. Ia bergegas membersihkan badan dan melaksanakan salat. Sayup-sayup senja dan panggilan azan begitu mesra. Tak jarang bulu ari Roma merinding mendengar panggilan suci itu. Di bentangkannya sajadah. Seusai salat dua tangan menadah dan bercerita pada sang Kuasa. Masih ada Allah yang menemani hidupnya di kala bara api dimana-mana. Airmatanya jatuh. Membasahi pipi. Ia bercerita lewat doa kepada TuhanNya. Malam itu menjadi teduh, keheningan malam membawa semuanya dalam peristirahatan.

 

Roma masih teringat kalau setiap minggu akan banyak kapal besar yang lewat dari pelabuhan Batang Natal.

 

“Ayah, kapan lagi aku melihat wajahmu dan mendekap tubuh itu,” ucap Roma di dalam kamar.

 

Mentari bersinar, di bibir pantai yang begitu mesra Roma pergi ke sana lagi. Tanpa sepengetahuan ibunya. Perempuan dengan jilbab merah jambu di kepalanya yang membuat dia terlihat indah bergegas menuju pinggir pantai. Matahari pagi masih sangat bagus untuk dinikmati. Bertepatan dengan hari libur pantai Batang Natal penuh dengan orang-orang yang ingin berwisata. Roma memanfaatkan kesempatan itu untuk berjualan minuman es kelapa yang diambilnya dari penjual di pondok dekat pantai. Ia menjajakan jualannya. Hingga sore hari tiba.

 

Perlahan orang-orang mulai sunyi, pantai itu ditinggal. Roma terisak melihat orang yang pulang dengan seorang Ayah. Ia duduk di batu besar. Dipandangnya ujung lautan. Disaksikannya matahari yang akan tenggelam. Sementara dari kejauhan bayangan ibunya terlihat oleh Roma. Berjalan dengan cepat menuju kearahnya.

 

“Disini lagi kau rupanya? Belum yakin, kalau ayahmu tak akan kembali.”

 

Matanya merah memandang Roma. Bayu bertiup dan melewati jilbab yang dipakai Roma. Tubuhnya gemetar.

 

“Bu, aku hanya rindu Ayah, barangkali saja dia lewat dari sini,” balasnya.

“Tak yakin kau dengan surat ini.”Ditunjukkan ibunya surat wasiat dari Ayah Roma yang sudah lama dia simpan.

 

Airmata Roma kembali jatuh. Tak menyangka ibunya akan setega itu. Surat yang menyatakan tentang kepergian Ayah Roma, dan meninggalkan Roma sebab mempunyai hutang kepada Ibu tirinya.

 

Senja menyaksikan tangisan Roma. Ibunya tertawa dan menatapnya tanpa iba. Suara kapal besar terdengar akan mendekati pelabuhan. Roma berlari. Begitu juga dengan ibunya. Seorang laki-laki dengan perawakan mirip dengan Ayah Roma turun dari kapal.

 

“Ayah, akhirnya pulang juga,” ucap Roma mendekati laki-laki itu.

“Kau siapa? Aku bukan ayahmu,”balasnya. Sambil merangkul anak dan istrinya.

“Roma, Ayok pulang!”Teriak Ibunya.

 



Roma menatap laki-laki yang dia sebut ayahnya. Ditinggalkannya pelabuhan dan senja yang akhirnya tak membawa harapannya.

 

Mhd Ikhsan Ritonga lahir dan besar di Roncitan Tapanuli Selatan, 30 Juli 1998. Beberapa karyanya pernah di muat di media cetak dan media elektronik. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Setapak Jalan (guepedia, 2019).

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*