Topbar widget area empty.
Toko Buku Ajaib cover Toko Buku Ajaib Tampilan penuh

Toko Buku Ajaib

Cerpen Hendy Pratama

 

 

Saban kali ke toko buku di selatan lampu merah—letaknya agak tersembunyi karena terhimpit ruko-ruko besar, aku sering mendengar suara-suara aneh yang bersumber dari rak-rak buku. Dan bila kuamati lebih teliti, suara itu mirip perbincangan beberapa orang yang hendak melalukan sebuah rencana besar. Padahal, tak kudapati seorang pun di sana, kecuali si penjaga toko buku yang kerjanya cuma malas-malasan dengan tidur-tiduran di meja kasir.

 

Pertama kali mendengar suara itu, ketika aku menemani adikku belanja buku keperluan sekolah. Adikku sibuk mencari buku di rak pendidikan, sedangkan aku kepincut buku-buku di rak biografi tokoh-tokoh ternama. Di rak itu, seseorang seperti berbisik padaku, “Hei, kau! Cari apa ke mari? Tak ada apa pun di sini.”

 

Mula-mula, aku mengira suara itu ialah suara speaker yang sengaja disisipkan di rak-rak tertentu. Tujuannya satu: supaya pengunjung tersugesti untuk membeli banyak buku dan tentunya, si pemilik toko buku bakal meraup untung yang melimpah. Tetapi, perkiraanku tidak dapat dibenarkan juga. Pasalnya, aku tidak sedang menerima hasutan ataupun sugesti. Suara itu terkesan satire, terasa menyindir.

 

Karena didorong rasa penasaran yang kuat, aku mendekat pada sumber suara. Samar-samar, aku mendengar ucapan dari buku biografi Plato, “Para penyair mengucapkan hal-hal besar nun bijaksana yang mereka sendiri tidak mengerti.” Sungguh aku belum paham maknanya. Aku juga belum terlalu tahu, Plato itu siapa. Yang kutahu, namanya rajin disebutkan oleh aktivis-aktivis yang katanya membela rakyat, membela kebenaran.

 

Sebenarnya, aku ingin menanyakan (lebih tepatnya memprotes) keganjilan ini pada kasir. Tapi urung kulakukan. Dugaanku, ia akan bergeming dan meneruskan kemalasannya. Atau, seandainya ia menjawab, pasti hanya asal-asalan, semisal, “Ahh, itu hanya halusinasimu belaka. Kau pasti sering begadang.”

 

Sungguh sia-sia. Tak ada gunanya berbicara pada pemalas itu.

 

Begitu adikku menemukan buku yang ia cari dan aku telah membayarnya di kasir, kami berlalu, mengabaikan suara-suara ganjil bin aneh itu.

***

 

Kembali aku mendengar suara itu tatkala aku datang ke toko buku itu sendirian. Tentu, aku bermaksud beli buku, bukan mencari tahu keganjilan macam apa yang terjadi di sana. Barangkali, semua itu hanya halusinasiku. Aku memang gemar begadang. Tetapi, aku keliru. Suara itu masih kudengar. Bahkan bertambah ramai dan berisik. Alhasil, niat awal beli buku jadi berubah mencari tahu asal-usul dan maksud suara-suara itu.

 

Sebelum ke mari untuk kedua kalinya, seorang teman pernah berkata, “Kau tahu? Penulis itu abadi, tak pernah mati. Bilamana mereka mati, buku-bukunya yang jadi wujud kedua mereka, jadi jelmaan si penulisnya.”

 

Kata-kata itu tengiang-ngiang di kepalaku sampai saat ini. Aku sepakat. Benar-benar sepakat. Penulis sejatinya tidak mati. Buku-buku mewakili dan menjaga pemikiran mereka supaya abadi. Namun, yang jadi soal, apa benar buku-buku itu benar-benar hidup? Maksudku, buku-buku itu dapat bernapas dan berbicara selayaknya manusia? Bahkan bersekutu untuk melakukan rencana tertentu?

 

Ya, kudapati beberapa buku di rak biografi tokoh-tokoh ternama sedang merencanakan sesuatu. Itu kudengar dari buku Adolf Hitler. Buku yang terletak di rak teratas itu seolah sedang pidato dengan suara yang menggelegar.

 

“Salam sejahtera dan salam keadilan bagi kita semuanya! Hari ini, kita bakal merencanakan sesuatu demi keberlangsungan hidup kita. Sudah tidak ada gunanya kita dipajang di sini. Tak ada seorang pun datang untuk membeli dan membaca kita. Sebentar lagi kita akan dilupakan. Hidup serasa tak berarti, tak ada bedanya dengan mati.”

“Ya, benar. Kita tidak boleh diam saja di sini, atau bahkan bermalas-malasan serupa kasir gendut itu,” sahut buku biografi Socrates.

“Bagaimana kalau kita berontak saja?”

“Sepakat. Kupikir, tindakan itu wajar saja, mengingat mereka, orang-orang kota, telah lebih dulu memberontak diri mereka sendiri untuk tidak memikirkan apa-apa atau tidak mencari pemikiran apa-apa,” imbuh buku biografi Aristoteles, dengan nada berkobar.

 

Aku sempat berpikir sama seperti buku-buku aneh itu. Di beberapa toko buku, buku tak lagi jadi primadona. Mereka tersisih oleh keperluan lain semisal baju bagus, tas mahal, sepatu dengan jenama tersohor, dan lain-lain. Bahkan, di lain tempat, buku-buku dilarang beredar. Banyak dari mereka yang disita oleh petugas. Dianggap menyalahi dan mengotori pikiran orang-orang. Padahal, bila ditinjau, mereka tidak salah. Apa yang salah dengan pemikiran? Petugas berseragam itu sepantasnya berperilaku adil sejak dalam pikiran pada sumber ilmu pengetahuan, bukannya bertindak secara berlebihan.

 

Buku-buku itu mendadak diam ketika mataku keciduk menatap mereka—meski aku tidak tahu, apakah mereka punya mata juga. Tidak terasa aku telah termenung lama di hadapan buku-buku itu. Sontak, aku pura-pura tidak tahu apa-apa, tidak mendengar apa-apa. Aku melengos, memandang buku resep masakan. Kupikir, supaya mereka menduga bahwa aku sedang mencari buku tentang masakan, bukan menguping pembicaraan mereka.

 

Sebelum aku benar-benar dipergoki menguping, kuputuskan keluar dari toko buku itu. Tentu dengan membawa pulang buku resep masakan. Kubayar buku itu ke kasir yang hanya ditanggapi dengan tidak berselera oleh lelaki tambun penjaga mesin hitung itu.

 

Namun, belum sempat aku keluar, salah satu dari buku-buku itu menyeletuk, “Kaulihat, lelaki yang membawa buku resep masakan itu pun pura-pura tidak mendengar kita.”

 

Madiun, 21 Mei 2019

 

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Heliofilia.

 

foto dari pixabay.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: