Topbar widget area empty.
Di Tanah Sirkus cover Yuris Yulian Tampilan penuh

Di Tanah Sirkus

Puisi Yuris Yurian
 

 

 

Detergen

Oleh: Yuris Julian

 

Gelembung sabun itu

memecahkan diri

dari gesekan daun-daun

yang lewat bersama angin

Langit pasti pernah mendengar

kalimat yang diserahkan melankoli

seakan-akan sejarah menyanyikan

kelahiran baru

Mungkin cerita, memang tak tahu,

kapan dunia buruk ini berubah

menjadi darah yang tetap gemuruh

sehabis ledakan

Tapi setiap matahari membidik bumi

tepat di wajah kita yang tampak tambah tegas,

burung menggoreskan isyarat

dengan garis yang ditarik tak lurus

 

2020

 

 

 

Di Tanah Sirkus

Oleh: Yuris Julian

 

Ketika monyet kecil

mencuri pandang ke batas lain

terlihat sebuah jalan menurun

dan berhenti di depan toko

Untuk berpikir tentang beberapa kata,

tapi, “adakah yang lebih dingin

dari suara pengunjung yang akan datang

ke udara bersama kupu-kupu?”

Beranjaklah dan jangan lepaskan

sayap malaikat, sebelum lapisan mega

dan jejak kabut tergeletak

pura-pura mati.

Orang-orang dengan rambut yang terbakar

masih terasa panas di alinea terakhir

sebelum bencana dan sekian tanda-tanda

mendarat di negeri ini.

2020

 

 

 

Serdadu Nikotin

Oleh: Yuris Julian

 

Lemparkan batang rokok itu

ketika huru-hara meraba

setiap sudut bola dunia

Dari langit yang sengit

selembar kartu pos basah

memadamkan matahari sepenuhnya.

sedang burung-burung mematuki

remah-remah surga

Saat itu, tumpukan batu

menjadi sebuah ruang pertempuran

dengan nada yang mengancam

“tak ada keadilan yang dimiliki manusia”

 

terdengar teriakan lelaki

yang bapaknya dibunuh.

Almanak tahun lama

telah menjadi bagian kesedihan bumi

di jalan yang tak mudah dilewati

seseorang meminta sebuah negeri

yang tak memiliki raja

 

2020

 

 

 

Apollonian

Oleh: Yuris Julian

 

Gunakanlah cahaya tua dan kontras kabut

untuk memasuki lubang peluru di tubuhnya

semoga kelak koran-koran dan berita di televisi

bisa membumikan ucapan filsafat yang keramat

Sekarang tak ada yang bisa bermain

di tahta yang kosong, jauh dalam ingatan,

telah jadi bekas. Hanya ada kupu-kupu

yang menandai jejaknya dalam sepi

Pulanglah tak usah membawa jiwa apa pun

untuk membuat ia lebih dekat,

meski pada bangkai-bangkai lafadz, ia merasakan

ada yang tak ia pahami, mungkin iman.

Tapi kini, setelah laki-laki tak berhak menangis

sebagai seekor kucing yang melintas pincang di kiri jalan

“adakah pencipta tragedi dan komedi

di 15 tahun kemudian?”

 

2020

 

 

 

Bunyi Jam Dinding

Oleh: Yuris Julian

 

Bernyanyilah dalam mimpi mereka

dengan retakan-retakan yang berhenti

di tengah malam. Tepat, tak bergerak

sebelum seseorang meminta sesuatu

Mungkin bukan sinar bulan

yang mengering hitam

seperti coretan mangsi pada kata,

tapi seekor cicak dengan terpejam

membacanya.

Lamat-lamat terdengar

sepasang jendela berciuman

di antara sebelas jasad yang selama ini

disimpan dalam jutaan rakaat

 

2020

 

 

 

  

Paranoia

Oleh: Yuris Julian

 

Cermin tak pernah mengisahkan apa pun

tentang ikan-ikan dan gelombang

yang berkejaran dalam matamu

Jangan pergi ke laut!

sebab perahu lepas dari telapak tanganmu

Angin terbelah, membunyikan suara

yang memanggil-manggil namamu

tetapi kau sendiri tak pernah yakin

kepada siapa ia berkata

Sambil mengenang sinetron

yang mati sebelum detik ke tujuh

masih ada harapan yang tertinggal

dan berulangkali bergetar di dadamu

 

2020

 

 

Yuris Julian lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 16 Agustus 1995. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Email: Julianyuris1995@gmail.com

 

Photo by Lazuran Calin from pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: