Topbar widget area empty.
Fajar Bulan Juli cover Radithya Tampilan penuh

Fajar Bulan Juli

Puisi Ahmad Radhitya Alam

 

 

Malam di Studio G

Oleh: Ahmad Radhitya Alam

 

Entah ingatan mengalir begitu deras

buat upacara perkabungan bulan sabit.

ruap-ruap payau bandang dalam pikiran

melarungkan kepala ke tepi jendela

rubuh. aku membaca ajal di mata penyair

—usia tak pernah mengasah cuaca

 

Setelah asmarandana ditembangkan khidmat

kembang seroja berguguran di ngarai nurani

dongeng tentang diriku serupa hiburan

: pasar malam di tengah kuburan

 

Gadis muda itu membaca puisi lantang-lantang

geligi turun naik dada memacu ambang pandang

tapi dalam jarak ini aku menua dalam puisi

membiarkan ia jauh dalam hitungan hari

 

Yogyakarta, 24 Oktober 2019

 

 

 

Melarungkan Dendang Elektro Koplo

Oleh: Ahmad Radhitya Alam

 

sepertiga malam permulaan menjadi candu

lesap suara tawa dari persimpangan orkes dangdut melayu

 

sedendang seperketipungan

if you know that i’m lonely mendayu

dimabuk electro music local wisdom

fur duet bareng feel koplo

dengan vokalis baru asli sunda

foto Caca Handika menjelma Murray

gaya orkes Nusantara

 

Yogyakarta, 2019

 

 

 

Fajar Bulan Juli

Oleh: Ahmad Radhitya Alam

 

Fajar merekah di awal bulan Juli

Engkau muncul dari belukar imaji

Sehabis deras rinai-rinai sunyi

 

Senyum langsung tersimpul dari bibirmu

yang merah dibalut gincu

Aku membalut tubuh dalam rindu pekat

Bertalu dalam ikat hati yang lekat

 

Kita lantas menyambut hari

Sambil menatap masa depan yang belum pasti

Merangkai kisah dalam untaian benang

Merawat kasih dalam lindungan kenang

 

Blitar, 2019

 

 

 

Aku Gemuk Lagi

Oleh: Ahmad Radhitya Alam

 

Aku gemuk lagi

Semenjak bulan purnama yang lalu

Engkau pergi tanpa alasan yang pasti

Meninggalkanku seolah tanpa dosa sama sekali

 

Aku gemuk lagi

Memikirkan segenap kenang meradang

Rindu bengkak dalam inti hati yang makin risak

Harapan hangus di antara sisa-sisa puing asa rusak

 

Aku gemuk lagi

Melahap segala duka

Dalam serangkaian malam kelabu

Dan genderang kecemburuan bertalu

 

Blitar, 2019

 

  

 

Menatap Demian

—HH

Oleh: Ahmad Radhitya Alam

 

Debu-debu mengepul

Di halaman buku tanpa sampul

 

Wajah itu muram menatap resah, meratap

basah kenangan di tepi mata, ia ragu

mengingat sedikit kisah yang lampau

tentang mimpi penuh harap

tentang asa kian lekat

 



Harapan itu pupus di depan pembakaran

sekam sisa dedoa yang makin hangus

Angan menggelinding begitu saja

Dan mimpi terkubur dalam renjana

 

Blitar, 2019

 

Ahmad Radhitya Alam, mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Bergiat di Sanggar Lincak dan Baitul Kilmah. Tulisannya dimuat di antologi bersama dan beberapa media cetak serta elektronik. Facebook: Ahmad Radhitya Alam. Email: ahmadradhityaalam@gmail.com. Tinggal di Baitul Kilmah, Perumahan Kasongan Permai, Sewon, Bantul.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*