Topbar widget area empty.
Ibu Adalah Cahaya cover puisi handi Tampilan penuh

Ibu Adalah Cahaya

Puisi Harsandi Pratama Putra

 

 

Ibu Adalah Cahaya

Oleh: Harsandi Pratama Putra

 

 

Setelah semangkuk sayur asam tersedia di meja makan

Ibu meletakakkan segenggam harapan untuk hidup yang lebih adem

 

Di tangan kebalnya yang selaksa baja

Telah lahir anak-anak semesta tanpa prematur

Mengajarkan tentang ketabahan lalu keberanian untuk mengatakan kata hati

 

Setiap hari, ibu duduk menyulam di depan pintu

Menjahit baju akhir tahun, sebab katanya awal bulan dia akan terbaring tidur

Menemui mimpi-mimpi di kekosongan malam

Menjumpai temu di altar keabadian

 

Jari-jari itu telah mengering bagai sumur yang terkoyak musim pada kemarau

Mata cekung menandakan kepulangan tak lama lagi

Keriput telah merampas hak asasi kecantikan pada tubuhnya

 

Kasih ibu tak pernah tidur

Seperti senyum itu, selalu terbit di bibir pucatnya

 

Gowa, 2020

 

 

 

Perihal

Oleh: Harsandi Pratama Putra

 

Malam membawa ketakutan di hati yang risau

Di bawah atap bulan, sepi datang membawa nyala pada pertayaan-pertanyaan tentang perihal hidup

Kepala tak pernah ikut mendengkur

Bayangan kepulangan telah membawa waktu peristirahatan menuju igauan ingatan

 

Dentang jam dinding adalah penanda, bahwa waktu tak pernah berhenti berlari

Layaknya kijang-kijang hutan yang dikejar pemburu di waktu petang

Atau derap langkah kaki kuda membabi buta di tanah lapang

 

Pada doa sebelum tidur, keyakinan menjadi sabda penjagaan

Menembus langit-langit semesta

Menemui Tuhan di singgasana Arsy

Kita telah telah terlahir cahaya, lekas menemui kepulangan tanpa padam sinar

Sebab gelap adalah risau lalu menjadi duka abadi

 

Gowa, 2020

 

 

 

 

Percakapan Di Meja Makan

Oleh: Harsandi Pratama Putra

 

Andai bukan apa-apa

Aku tak ingin melangkah jauh

Aku hanya ingin menetap di rumah

Menghirup masakan ibu, melihat tungku dapur mengepul di bawah atap bolong-bolong

 

Lihat, kini wajah ibu penuh dengan coretan asap

Tapi sungguh dia tetap cantik

 

Setelah sayur kelor terhidang di meja kayu, lalu ikan asin memberi ruang pada mata-mata

sederhana

Sesekali suara piring ikut tertawa

Sebab tangan kecil adik tak bisa menggapai bakul nasi atau wajah yang mengukir sedih

sebab ikan terlampau lihai hingga tandas tanpa sadar

Bapak lalu mindahkan sisa miliknya dengan beralasan kenyang

“Sebab kalian anak-anak bapak, makanlah dan cepatlah tumbuh”

 

Di wajah keriput bapak, senyum itu tak pernah lelah merinai jiwa

Seiiring tangisan yang tumpah di piring plastik

Lalu ibu mengusapnya dengan tangan bajanya

 

Bapak bercerita tentang ketegaran

Ibu mengajarkan makna ketabahan

 

Meja makan adalah tempat pulang, tempat berbagi cerita tentang hidup dan rasa syukur

Masakan ibu adalah rindu yang menolak dilupakan

Setelah semangkuk jantung pisang merasuk di dinding hati

Aku tak ingin kemana-mana lagi

 

Gowa, 2020

 

 

 

 

Dendam

Oleh: Harsandi Pratama Putra

 

Menuju kesepian pada jalan-jalan yang dilalui seorang penyair

Seseorang sedang menangis dalam tulisan

Ada darah di atas ubun-ubun

Kematian menjadi oleh-oleh kepulangan

 

Kebebasan itu ada pada kemerdekaan berkata-kata

 

Menyulam huruf pada gelas-gelas kopi di atas meja

Sunyi berkawan malam, dingin menemui tubuhnya yang menggigil

Setitik moral telah menjadi abstrak di meja pengampunan

Lalu kata-kata serupa dendam, hanya ada mayat dibatas akhir sebuah kalimat

 

Kita tidak berkawan apa-apa

Bukan pada kawan yang membenci

Hati adalah surga bagi kejujuran orang-orang

 

Lalu semuanya telah dituliskan

Diatas pembaringan sebuah kebenaran

Nyatanya adalah keabadian

 

Sebelum tubuh ini di sembahyangkan

Kita akan menjadi masa sebuah sejarah



 

Bukan basa-basi kepalan tangan

Dusta hanya diperuntukkan bagi mulut-mulut tak pandai membaca

Setelah namamu kutulis diatas puisi

Dari serat-serat pohon pada hutan-hutan sunyi

Kau adalah kesesatan tanpa nyali

 

Gowa,2020

 

Harsandi Pratama Putra. Biasa dipanggil Sandi, lahir pada 17 Mei 1998 di Pulo Bembe, Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) dengan mengambil Prodi Jurnalistik. Telah menerbitkan beberapa puisi: Secangkir Rindu, Jejak, Kuingin Dirimu Telanjang. Penerima Anugerah Literasi dari kampus ini juga aktif di kegiatan alam terbuka. Kini tinggal di Samata Gowa.

 

Photo by Sippakorn Yamkasikorn from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*