Topbar widget area empty.
Menakwilkan Mimpi cover takwil mimpi Tampilan penuh

Menakwilkan Mimpi

Puisi Eko Setyawan

 

 

 

Niscaya

Oleh: Eko Setyawan

 

mencintaimu adalah keniscayaan.

bahwa berlari tak akan membuatmu semakin menjauh.

bahkan secepat apa pun kaki melangkah.

 

pergi tak lain adalah membuka jalan pulang.

menuju jalan memutar.

lewat bukit yang tak kaukenal.

: kau memilih sendiri jalannya.

 

pergi dan pulang berkelindan.

dalam sebuah pertunjukan sepasang kekasih.

bahwa pertemuan harus segera dituntaskan.

 

“mudah sekali kau mengatakannya,” protesmu.

 

memang demikian adanya.

kau yang mempersulit lewat alasan.

niscaya, keberangkatanku tak lain untuk pulang dan mencintaimu.

 

di dunia ini, aku tak akan membiarkanmu kesepian.

 

Karanganyar, 2019.

 

 

 

 

 

Khiar

Oleh: Eko Setyawan

 

kau mencintai apa-apa yang tak kupunyai.

 

persetujuan, tak lain sebuah uraian yang sulit kaupenuhi

dari tungku api yang lama padam.

 

kuredam nyala pada nyalang matamu.

 

dalih tak ubahnya jalan yang menyesatkan

yang sengaja kautuju.

 

kau robohkan segala yang telah kubangun.

 

kesedihan dari hujan yang lebat,

pagi untuk kebahagiaan, dan gelegar petir

untuk getaran yang tak pernah kau rasakan sebelumnya.

 

tak pernah kusiakan sebuah kesempatan

bagi ruang yang sengaja tersulut

padam ketika kau menumpahkan air mata.

 

kau putuskan jawaban.

kau membenci apa-apa yang tak kupunyai.

 

Karanganyar, 2019.

 

 

 

 

 

Doa dari Gedung Bioskop

Oleh: Eko Setyawan

 

di tengah cerita yang biasa-biasa saja,

kau mulai merapalkan doa.

 

kau memohon cerita yang indah.

tapi kau keindahan itu.

 

kau meminta tokoh yang sempurna.

seluruhnya ada dalam dirimu.

 

kau berharap akhir cerita yang bahagia.

kau bahagiaku.

 

kau meminta Tuhan hadir dalam cerita.

aku berdoa atas itu.

 

jika saja tokoh kita mati,

kuharap, kau tak lekas mematikan perasaanmu.

 

Karanganyar, 2019.

 

  

 

 

 

Menakwilkan Mimpi

Oleh: Eko Setyawan

 

kelak pada suatu hari yang tenang.

kita membuat sebuah perjanjian.

dalam pejam mata, di antara kau dan aku,

: tak boleh ada yang datang berkunjung.

 

mengapa?

ingin kuhapus merah bibirmu.

dengan lembut.

 

tidak ada kematian yang disengaja.

kecuali kau memaksa memutus pergelangan tangannya.

: dengan belati dari saku celanamu.

 

tapi seluruhnya untuk apa?

 



mimpimu tak perlu ditakuti.

bunga-bunga merekah berwana merah.

 

dalam mimpi buruk itu,

kau hanya perlu menyebut namaku.

 

Karanganyar, 2018.

 

Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017).  Surel: esetyawan450@gmail.com

 

Photo from pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*