Topbar widget area empty.
Menggali Nilai Sejarah Lokal untuk Meneguhkan Jatidiri keIndonesiaan cover sejarah lokal Tampilan penuh

Menggali Nilai Sejarah Lokal untuk Meneguhkan Jatidiri keIndonesiaan

Opini Tjahjono Widarmanto

 

 

Keberadaan sejarah Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah lokalitas. Ibarat puzzle, sejarah lokal merupakan kepingan-kepingan yang disusun sebagai bentuk dan wajah yang utuh.

 

Setiap komunitas, etnis, bangsa atau suku bangsa secara dialektis mengalami proses perkembangan masing-masing. Proses perkembangan masing-masing komunitas, etnik, bangsa atau suku bangsa itu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor itu antara lain faktor geografis, kultur, kebiasaan, tradisi. Faktor-faktor itulah yang menjadikan mereka memiliki perkembangan sejarahnya sendiri-sendiri.

 

Sejarah menjadi sangat penting bagi manusia karena merupakan perspektif kesadaran manusia dalam dimensi kesadaran waktu saat mengonstruksi eksistensi kehidupannya. Dimensi kesadaran waktu itu meliputi masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Sejarah tak sekedar merekam masa silam namun merespon pengalaman. Pengalaman merupakan kaca benggala untuk menentukan strategi dalam menapak kehidupan masa kini. Masa kini merupakan langkah untuk memasuki masa yang akan datang yang penuh cita-cita, harapan dan hal-hal yang diidealkan.

 

Kesadaran sejarah atau kesadaran historis berarti pemahaman kolektif dalam memahami kekinian dengan melalui bingkai masa lalu yang berupa pengalaman kolektif untuk menapaki masa kini yang berorientasi pada masa depan. Oleh karena itulah memahami sejarah adalah menakar kembali visi atau pandangan saat ini dengan belajar dan membandingkan dengan masa lalu untuk merancang masa depan.

 

Mempelajari dan menulis sejarah merupakan upaya sadar untuk menafsirkan, meneruskan, sekaligus merekonstruksi ulang tradisi komunitas, etnik atau suku bangsa sekaligus merekonstruksi ulang tradisi komunitas, etnik atau suku bangsa berikut sumbangannya kepada kebudayaan dan peradaban. Pada posisi inilah bisa ditinjau adanya titik singgung antara sejarah dan kebudayaan. Dalam bukunya The Long Revolutioan (1965), Raymonds Williams menunjukkan titik singgung itu sebagai tiga ranah kebudayaan, yaitu ranah konsep, ranah catatan-catatan (dokumenter) yang mencatat struktur imajinasi, pengalaman, dan pemikiran manusia, dan ranah teks kebudayaan yang berupa teks dan performance yang dilakukan oleh sebuah komunitas.

 

Sejarah tak sekedar merekam sebuah peristiwa namun juga menginterpretasi peristiwa. Saat menginterpretasikan peristiwa maka secara otomatis akan merepresentasikan nilai. Muatan sejarah adalah peristiwa dan nilai. Sejarah sebagai peristiwa dan nilai tak sekedar cukup diwariskan namun harus ada proses dialektika peristiwa dan nilai yang terus-menerus. Dengan kata lain, sejarah adalah rekonstruksi nilai yang terus-menerus.

 

Sejarah Indonesia bisa dilihat dalam dua kategori besar. Sejarah nasional Indonesia dalam narasi besar dan sejarah Indonesia dalam narasi kecil; yang oleh Mudji Sutrisno diistilahkan sebagai sejarah “besar” yang ditulis oleh kaum literasi dan kaum intelektual dan sejarah “kecil” yaitu lokalitas dari setiap etnik yang ada di Indonesia. Dalam pengertian yang lebih umum sejarah narasi kecil sering disebut sejarah lokal yang diartikan sebagai sebuah peristiwa sejarah yang terjadi di tingkat lokal bersifat geografis dan berlandaskan pada unit kecil seperti daerah, kampung, komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.

 

Sejak diberlakukan UU no.22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, sejatinya telah membuka peluang besar untuk menampilkan karakteristik, potensi dan spektrum masing-masing wilayah dengan sangat beragam. Sehingga seharusnya tidak perlu lagi ada kecemasan akan kepikunan (pangling: discontinuity) terhadap identitas sosial, budaya, nilai dan kearifan lokal. Sejarah lokal semestinya bisa berfungsi sebagai pengikat simbol dan sistem lokal yang ada di berbagai wilayah Indonesia.

 

Peristiwa sejarah memiliki dua spektrum utama, yaitu temporal (waktu) dan spasial (waktu). Unsur ruang secara khusus memberikan ciri fisik dan kesejarahan yang menonjol. Sejarah juga menunjukkan proses aktivitas dan kreativitas manusia sepanjang waktu yang bisa dilacak melalui peninggalan-peninggalan, baik yang berbentuk fenomena kultural maupun fenomena sejarah. Sejarah lokal juga merupakan suatu kompleksitas yang mencakup pengalaman kolektif manusia dalam suatu wilayah yang memiliki sifat multidimensi sehingga bisa disusun sebagai sebuah sistem (Kasdi, 2014). Hak ini berarti menunjukkan bahwa sejarah lokal merupakan sebuah unit sejarah yang menampung kekuatan endogen (faktor-faktor domestik).

 

Keberadaan sejarah Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah lokalitas. Ibarat puzzle, sejarah lokal merupakan kepingan-kepingan yang disusun sebagai bentuk dan wajah yang utuh. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sejarah lokal dipenuhi dengan berbagai riwayat, kisah, mitos, folklore, disamping rekaman tertulis seperti inskripsi, prasasti atau dokumen tertulis lainnya, namun (walaupun primer) bisa dipandang sebagai serpihan-serpihan yang membentangkan perkembangan kesejarahan manusia Indonesia, dari cikal bakal hingga mutakhir. Apalagi dalam perkembangannya sejarah lokal juga digayuti benang merah yang sama yaitu kekelaman kolonialisme.

 

Pengolahan lokalitas menjadi nasionalitas adalah pengolahan identitas yang pluralis yang sejajar sebagai kemitraan, sebagai yang ‘menyatu’ tanpa harus jadi satu, sebagai sebuah bangsa yang berproses bhineka. Saat Nusantara menjadi Indonesia terjadilah proses lokalitas menjadi nasionalitas yang dibingkai dengan visi kebangsaan. Saat Indonesia sekarang menghadapi dunia global maka diperlukan proses yang serupa tapi berbeda, yaitu proses dari local genius menuju global wisdom tanpa terfragmentasi pada kotak-kotak instrumentalis atau pragmatis dengan tetap terbingkai pada nilai-nilai humanistik.

 

Identitas Indonesia harus diyakini sebagai tawaran simbolisasi ikatan dari berbagai identitas lokalitas, etnik, yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Upaya  meneguhkan identitas keIndonesiaan yang terdiri dari pelbagai plural ini bukan soal yang mudah. Oleh karena itu upaya mengenali berbagai keberagaman plural ini dapat melalui penghikmatan kembali pada sejarah lokal.

 

Yang menjadi persoalan penting sekarang adalah bagaimana jalan untuk melakukan penghikmatan sejarah lokal yang pada gilirannya nanti  harus mengkristal pada sejarah nasional? Itu yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama***

 

 

Tjahjono Widarmanto. Lahir di Ngawi 18 April 1959. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, pernah studi di program doktoral Unesa. Buku puisi terbarunya Percakapan Tan Dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016) menerima anugerah buku hari puisi Indonesia tahun 2016.  Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA.  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari Jl. Teuku Umar Ngawi. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id

 

Foto sampul oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: