Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Menyoal Kekuatan Iman dan Imunitas Kita
Menyoal Kekuatan Iman dan Imunitas Kita Cover Keimanan Tampilan penuh

Menyoal Kekuatan Iman dan Imunitas Kita

Opini Hafis Azhari

 

Ternyata, virus Corona tak ubahnya dengan jenis bakteri yang mampu menggocek sana-sini dalam strategi mutasi dan pengembangannya, untuk memperkuat diri dalam menghadapi sistem imun manusia yang diserangnya. Bahkan, tidak sedikit jenis bakteri yang memiliki strategi khusus untuk mempertahankan diri dari serangan obat-obatan. Apabila praktik antibiotik digunakan secara tidak tepat, justru akan berperan dalam membantu kuman mempelajari cara agar bisa kebal menghadapi antibiotik tersebut. Sampai pada akhirnya, semakin banyak kuman yang resisten terhadap antibiotik, semakin sulit kita mengobati penyakit yang disebabkan kuman yang resisten tersebut.

 

 

Munculnya penyakit degeneratif seperti virus Corona telah membuka mata kita, bahwa sifat kuman memang tak pernah tinggal diam. Juga tak akan mempertahankan komponen diri yang selalu sama seiring berjalannya waktu. Perubahan iklim dan lingkungan sanggup dihadapi virus Corona dengan melakukan modifikasi, bahkan hingga ke tingkat yang terkecil sekalipun (genetik). Demi mempertahankan perkembangannya – meskipun banyak menghadapi serangan antibiotik – sifat kuman sangat cerdik untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan lingkungan di sekitarnya.

 

 

Bayangkan, seandainya dunia kedokteran dan pengobatan berjalan di tempat, beku dan tidak berkembang. Hal ini senada dengan pernyataan, jika manusia Indonesia memahami agama secara saklek dan tekstual, maka akan kesulitan menangkal bujuk rayu dan godaan setan yang semakin berevolusi dan berinovasi sedemikian canggihnya.

 

Apa yang dilakukan virus Corona hingga mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan di sekitarnya? Mengapa virus itu mampu menimbulkan penyakit infeksi, meskipun kemajuan teknologi kedokteran sudah terbilang canggih saat ini? Tentu masih banyak contoh lain modifikasi yang dijalani bakteri, dalam usaha untuk terus mempertahankan dirinya. Dengan kemahirannya tersebut, tidak mengherankan jika penyakit infeksi masih saja marak, bahkan diprediksi akan mengalami peningkatan.

 

Terkait dengan ini, kita tidak boleh kalah dan lengah dalam menjaga kesehatan tubuh. Sistem kekebalan tubuh kita dalam menghadapi serangan penyakit, ibarat tekanan air yang makin keras hingga nyaris menjebol selang-selang air. Dengan kualitas selang yang memiliki ketebalan, serta perawatan yang baik dari kebocoran, maka tekanan air sekeras apapun tidak akan bisa menimbulkan kebocoran dan kerusakan.

 

 

Sudut Pandang Agama

 

Kemampuan kuman-kuman menyerang manusia untuk terus berevolusi (berubah) secara konstan, tak ubahnya dengan gangguan setan-setan yang terus hidup dan menggerogoti kalbu manusia. Di dalam Alquran secara eskplisit dikatakan, bahwa penyakit yang menyerang Nabi Ayub, hingga nyaris seluruh tubuhnya dipenuhi kudis dan koreng, tak lain adalah gangguan setan yang sedang menggoda kekuatan imannya.

 

Perubahan demografi memungkinkan kuman dan bakteri berkembang biak sesuai dengan perubahan iklim dan perkembangan zaman. Tentu saja, jika tingkat keimanan kita tinggi, maka kerajaan Iblis akan mengutus “setan profesional” yang sudah berpengalaman, lalu ujian dan cobaan manusia kian meningkat. Tetapi, jika manusia kuat dan tangguh – seperti pipa yang ketebalannya terus dirawat – maka teknologi mesin bor, setan tidak akan sanggup menembus dan merusaknya.

 

Sama halnya dengan kemampuan menjaga diri dan memperkuat daya tahan tubuh, sementara di sisi lain kerajaan setan tak akan tinggal diam. Mereka akan mengutus kaki-tangannya sesuai dengan kapasitas seorang hamba dalam memperkuat imannya, Karena memang, Tuhan memberikan jaminan bagi mereka untuk terus hidup beranak-pinak hingga hari kiamat. Tetapi, sehebat apapun daya teknologi setan dan raja Iblis, bila manusia memperkuat diri dengan kekuatan iman dan ilmu, pada akhirnya mereka toh akan terhempas dengan sendirinya.

 

Jadi, untuk seorang kiai atau ulama yang maqam keilmuwannya tinggi, maka setan yang menggoda pun bukan lagi di level syariat ataupun tarekat, tetapi sudah mencapai level hakikat hingga makrifat. Misalnya, seorang kiai akan berpantangan untuk bersifat tidak dermawan, karena konsekuensinya ia akan merasa gengsi disebut pelit maupun kikir. Namun, apakah mampu seorang kiai untuk tidak sombong dan riya atas amal baiknya sebagai seorang dermawan? Nah di sinilah tantangan dan peningkatan ujian keimanannya.

 

Kelebihan seorang ahli ibadah dan ahli ilmu, senantiasa dihiasi ketenangan dan kesabaran dalam hidupnya. Beda dengan seorang pendosa yang diliputi kezaliman dan kebohongan, mereka senantiasa takut dan panik dalam menghadapi hari-harinya, terlebih jika penyakit sedang menggerogoti tubuhnya. Seorang yang berbuat dosa berbeda dengan seorang “pendosa”, sama halnya dengan seorang yang sesekali berbohong, tidak sama artinya dengan seorang “pembohong” atau “pendusta”.

 

Karena itu, ada jenis penyakit hati yang bisa disembuhkan (hidayah), tapi ada juga penyakit hati yang terlampau akut seperti Raja Firaun, Qarun, Namrud maupun Abrahah. Mereka zalim berbuat aniaya dan kerusakan di muka bumi, namun merasa dirinya telah banyak berjasa dan melakukan pembangunan.

 

Tuhan Bersama Orang Sabar

 

Karena rasa panik dan takut itulah yang membuat banyak orang lupa diri bahwa Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Setan-setan telah berhasil membuat jutaan orang merasa lupa akan keagungan dan kebesaran-Nya. Padahal, setiap sumber penyakit datang atas izin Tuhan, juga mereka yang tidak terpapar maupun yang terpapar Corona, sudah pasti atas dasar ketentuan Tuhan. Lalu, ngapain juga sampai memborong dan menimbun masker seharga jutaan rupiah? Bukankah sifat menimbun itu sama halnya dengan merampas hak orang lain (sesama konsumen)?

 

Dalam suatu hadits Nabi dijelaskan bahwa kesabaran seseorang dalam menghadapi penyakit, sudah termasuk setengah dari kesembuhan. Karena itu, untuk menghadapi kekuatan setan dan para kaki-tangannya, kesabaran adalah senjata yang paling ampuh. Sebagai pengelola sang waktu, bahwa kelapangan dan kesempitan hidup itu dipergilirkan. Kaya-miskin, sehat-sakit, sukses-gagal, lapang-sempit, menang-kalah, semuanya serba dipergilirkan, baik bagi yang beriman maupun bagi yang tidak memiliki iman.

 

 

Yang membedakan keduanya adalah sikap dalam menghadapi kodrat hidup yang sedang dijalaninya, apakah memilih syukur ataukah sombong, apakah memilih sabar ataukah frustasi?

 

Sikap dalam menghadapi cobaan dan ujian yang disodorkan Tuhan itulah yang membuktikan kualitas keimanan seorang hamba. Mau menerima dengan tulus-ikhlas ataukah bersikeras untuk menolak takdir hidup. Begitupun ketika didera penyakit kronis seperti virus Corona, apabila dihadapi dengan kesabaran maka akan membawa hikmah bagi proses keimanan dan pendewasaan manusia.

 

Selain itu, godaan setan pun akan sulit menembus dahsyatnya kekuatan orang beriman, karena menurut sabda Nabi: “Tak ada yang perlu dirisaukan bagi umatku yang memiliki kekuatan iman, karena mereka akan tenang dan sabar manakala ditimpa kesempitan, dan mereka pun akan bersyukur manakala berjumpa dengan kelapangan. Jadi, kedua-duanya adalah baik baginya.”

 

Oleh karena itu, mari kita menjaga imunitas tubuh kita, sebagaimana menjaga kekuatan iman dan ilmu kita. Mari kita jadikan pandemi Corona ini sebagai hikmah dan lautan ilmu yang sangat berharga, agar kita selalu berpikir ilmiah dan bukan mengandalkan takhayul dan khurafat melulu. Jangan sampai peristiwa hidup yang penting, terlewatkan dan melesat begitu saja, tak berdampak apa-apa, karena bangsa ini malas berpikir dan mengambil hikmah (ibrah) dari suatu pengalaman dan kejadian hidup. Biarlah kuman dan bakteri berevolusi secara regeneratif, termasuk setan-setan yang tumbuh dalam habitat dan kodratnya untuk berkembang-biak hingga akhir zaman nanti.

 

Yakinlah, dengan daya tahan tubuh yang kuat, serta mampu mengidentifikasi gejala-gejala yang muncul pada tubuh, serangan bakteri dan virus seganas apapun, akan terhempas dengan sendirinya. Karena memang, tidak ada habitat bakteri merusak, yang layak untuk tumbuh subur di dalam tubuh orang-orang yang sehat.

 

Kita sering mendengar ungkapan yang sangat emosional, bahwa kita harus berperang mati-matian melawan mereka. Masalahnya, apa yang akan kita perangi? Apakah setan itu sejenis partikel yang bisa diraba dan dideteksi keberadaannya? Kalaupun kita bicara tentang konspirasi orang-orang munafik di balik maraknya pandemi Corona, biarlah Tuhan yang akan mengurus dan menghakiminya. Dia Maha Adil dan Maha Bijaksana, juga Maha Membalas hamba-hamba-Nya, baik dalam perbuatan baik maupun buruk.

 

Sementara tugas kita sebagai orang beriman adalah menjaga diri sebaik-baiknya. Mempertebal kekuatan iman, memperbanyak ilmu, serta menebar benih-benih kebaikan bagi proses kesadaran dan kedewasaan bangsa ini.

 



 

Hafis Azhari. Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

 

Photo by Inna Lesyk from pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*