Topbar widget area empty.
Buku Biru Bergambar Hati cover buku biru Tampilan penuh

Buku Biru Bergambar Hati

Cerpen Romi Afriadi

 

 

Suasana di ruang tunggu bandara siang itu begitu riuh oleh hilir mudik penumpang dan heboh oleh celotehan segerombolan ibu-ibu berbaju dinas yang baru saja turun dari pesawat. Hujan yang terlihat dari kaca nako mulai berhenti menjadi rintik gerimis. Adakah hatimu seperti dijatuhi gerimis sekarang? Kau masih terpaku sambil mendekap tas dan memandang jauh entah kemana, sesekali ada yang menggenang di matamu dan siap menjadi titik air yang akan membasahi pipimu, andai saja tak kau sapukan sebuah tisu di situ.

 

Kau memang cengeng, meskipun ini cukup aneh. Kau laki-laki yang begitu garang jika sedang orasi atau mengkritik kebijakan pemerintah, kau laki-laki paling pembangkang yang pernah aku temui, namun begitu sentimentil kalau berhadapan dengan urusan cinta.

 

Perpisahan memang tidak pernah diabadikan dengan tawa, namun aku tidak ingin terlihat cengeng, walaupun kondisi yang kita perlihatkan sebetulnya berkebalikan saat ini, harusnya aku yang menangis sesenggukan, bukan karena aku wanita, melainkan akulah yang sedari awal menginginkan hubungan kita tumbuh dan terus mekar bersama. Jadi, jelas saja aku terluka, membayangkan hari-hari denganmu yang selama ini begitu berwarna lalu hilang, tak terpermanai rasanya.

 

Aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin hanya karena perbedaan ideologi politik dan cara pandang dengan Ayah, hubungan kita harus menjauh dan berakhir. Aku tidak paham politik dan tak tertarik menjamahnya. Meskipun aku terlahir sebagai anak politikus. Sejak kecil, aku sudah akrab dengan dunia itu, yang diciptakan Ayah dalam berbagai kesempatan, aku tetap memilih menjadi orang biasa.

 

Bagiku politik membingungkan, dalam sekejap lawan bisa berubah menjadi kawan, pun sebaliknya. Tidak ada kawan abadi dalam politik, semua bergulir sesuai kepentingan.

 

Namun aku tidak mungkin melarang Ayah berhenti dari dunia yang sudah teramat di cintai dan membesarkan namanya. Apalagi perjalanan politik Ayah memang cukup mulus, setelah terpilih menjadi Anggota DPRD Kota, Ayah naik kelas menjadi Anggota DPRD Provinsi, di pemilihan berikutnya. Di periode ketiga, Ayah kembali lolos dan berkat pengalaman dan prestasinya pula lah, Ayah dipercaya menjadi pimpinan di parlemen tersebut.

 

Kau pun tak suka politik, bedanya kau menunjukkan ketidaksukaan itu dengan cara mengkritik setiap kebijakan yang tak tepat sasaran. Sebagai ketua DPRD Provinsi, Ayah pun tak luput dari cercaan dan makianmu. Maka, ketika kau memperkenalkan diri kepada Ayah saat pertama kali bertemu, pertentangan dan perdebatan sengit terjadi. Kejadian yang berefek buruk pada hubungan kita.

***

 

Kita bertemu dalam suasana yang mungkin tidak tepat waktu, saat itu kau baru saja terlibat sebagai pembicara dalam acara launching sebuah buku di perpustakaan kota. Sementara aku menjadi pengunjung linglung yang hanya ikutan teman mencari referensi kuliah. Aku jarang ke pustaka, pun tidak suka membaca, sama seperti kebanyakan banyak orang di negeri ini.

 

“Menemukan pembaca di negeri ini sama susahnya dengan menemukan oase di padang pasir.” Katamu suatu waktu.

“Sebagai anak seorang pejabat, seharusnya kamu harus berperan dalam membangkitkan minat baca anak-anak di kota ini, kamu bisa menyampaikan kepada ayahmu untuk membangun lebih banyak pustaka dan rumah baca, atau mewajibkan pegawai pemerintah itu  membaca setiap mulai kerja.” Kali ini kalimatmu lebih menohok.

 

Kau memang selalu bicara blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Dan itu yang membuat aku suka padamu, di dunia yang di penuhi manusia beragam rupa dan begitu pandai berpura-pura, kamu menjanjikan suatu kemurnian yang apa adanya.

 

“Kenapa kau memilih menjalin hubungan denganku?”

 

Beberapa hari sebelumya aku memang terus terang menyatakan suka padamu. Mungkin kedengaran aneh, seorang wanita menyatakan hal itu kepada lelaki, aku pun tak terlalu memikirkan resiko, hanya berucap apa yang hatiku rasakan. “Memangnya tidak boleh?” aku balik bertanya.

“Kita terlahir dari dua keluarga dengan status sosial yang berbeda.” Katamu.

“Tidak ada hukum yang melarang untuk itu.” Aku menjawab ketus.

“Hukum Tuhan memang tidak ada, tapi hukum manusia selalu menempatkan hubungan manusia berdasarkan strata sosialnya.”

 

Untuk beberapa saat hening.

 

“Apa kamu dekat denganku, karena aku anak seorang pejabat?”  aku bertanya dan melihat ada gurat kerisauan padamu.

 

Kau hanya menggeleng pelan.

 

“Kalau begitu tidak ada yang salah, jangan lihat aku dari sisi anak pejabatnya. aku memilih menjalin hubungan denganmu juga bukan karena embel-embel lain yang melekat padamu. Cinta memang seringkali tak bisa diterjemahkan dengan logika.”

“Apa kamu pernah merasa kehilangan?”

 

Aku terdiam, meresapi belaian angin yang menjadi dingin[1] usai diguyur hujan, itu sebuah pertanyaan yang susah aku jawab. Kehilangan, apa pun bentuknya, memang jarang menimpa hidupku, adakah kamu mencemaskan kebersamaan kita? Sesudah insiden kunjungan pertama ke rumahku yang diakhiri perdebatan sengit dengan Ayah, setelah Ayah mengetahui riwayatmu yang sering menjadi koordinator lapangan saat melakukan orasi meruntuhkan pemerintah atau mengkritik dengan keras lewat tulisan yang tersebar di media massa, aku melihatmu menjadi lebih gamang.

 

“Atas dasar apa kau membenci pemerintah?” Ayah menentang pendapatmu, setelah sebelumnya kamu berpendapat, bahwa kinerja pemerintah harus selalu diawasi karena mereka bekerja untuk rakyat.

“Pemerintah itu bukan maling yang harus selalu dimata-matai dalam menentukan arah kebijakan.” Ayah emosional.

“Tanpa ada pengawasan, pemerintah akan merajalela dan melakukan persengkokolan busuk yang merugikan rakyat.” Sifat pembangkanganmu kembali keluar. “Saya tidak membenci orang atau individu pemerintah tersebut, tapi saya mencaci jabatannya, karena urusan mereka melibatkan kepentingan orang banyak.”

 

Kalimat itu sukses membuat Ayah tambah murka, insiden  berikutnya mudah di tebak, kau beranjak dari rumah setelah menerima pengusiran. Lalu Ayah melarangku untuk menjalin hubungan denganmu, aku hanya menangis tersedu.

***

 

Sekarang aku sendirian di sini, pesawat yang membawamu pergi baru saja mengudara, apakah di tempat yang jauh kamu akan tetap jadi pembangkang? Sebagai anak yang baik aku harus patuh kepada Ayah, katamu. Menurutmu barangkali hubungan kita tidak bisa dilanjutkan karena ada jurang lebar menjadi penghalangnya.

 

Kalimat itu serasa masih tertinggal di sini, setelahnya aku benar-benar merasa sepi di tengah keramaian. Belum beberapa saat, aku sudah merasakan kangen, aku rindu tatapan matamu yang tajam serupa elang, senyuman tipis yang memabukkan, atau kecengenganmu setiap hubungan kita diterpa badai perpisahan.

 

“Mungkin Ayahmu benar, tentu akan beresiko hidup dengan seorang pengkritik pemerintah dan pembangkang sepertiku yang tidak punya masa depan.”

“Kamu orang yang baik.” Ujarmu. “Kamu tentu berhak mendapatkan yang baik.”

 

Andai kau tahu, setelah hari itu aku benar-benar tahu artinya kehilangan, sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Sejak kecil aku selalu berada dalam dunia keserbaadaan, keluargaku selalu menyediakan setiap kebutuhan yang diperlukan, aku nyaris tidak pernah merasa kehilangan, bahkan kehilangan sebuah pensil sekalipun, dan kepergianmu merubah segalanya.

***

 

Hari ini Ayah resmi mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Anggota DPRD Provinsi. Aku, Mama, dan saudaraku yang lain hadir dalam acara serah terima jabatan dengan pimpinan yang baru. Banyak yang heran atas keputusan Ayah memilih berhenti dari hiruk pikuk perpolitikan, padahal Ayah berkesempatan melanjutkan kiprahnya di level yang lebih tinggi, semisal ikut caleg DPR-RI atau mencalonkan Gubernur. Ayah berkilah akan lebih memfokuskan waktu bersama keluarga sambil membuka usaha di bidang pertanian.

 

Seminggu sesudahnya, Ayah menyatakan kepadaku tentang rencana menikah, mungkin Ayah risau melihat putri bungsunya belum menampakkan rencana naik ke pelaminan sementara usiaku hampir seperempat abad, yang lebih mengejutkan lagi, Ayah menyebut namamu. Meskipun tidak secara terang-terangan memberitahukan akan merestui hubungan kita, namun aku tahu, cara Ayah menyebutmu sangat berbeda dibandingkan insiden saat dulu kau dan Ayah bertemu pertama kali.

 

“Barangkali temanmu itu ada benarnya juga, pemerintah memang seringkali terlibat penyelewengan jika kesempatan memungkinkan.”

 

Itulah saat aku tahu alasan Ayah berhenti dari dunia politik. Alasan yang tidak diberi tahunya kepada siapapun selain aku.

 

“Di mana dia sekarang? Ayah mau minta maaf telah pernah memperlakukannya tidak baik.”

 

Saat itu aku benar-benar bahagia, tidak sabar menemuimu untuk menyampaikan kabar indah ini. Tapi kau di mana? Di sudut kamar, aku memandangi sebuah buku yang dulu kamu beri di perpustakaan kota, sebuah buku biru bergambar hati yang ternyata kau penulisnya. Lalu aku merasa sangat merindukanmu.

***



Tanjung, 14 januari 2020

 

 

Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau 26 November 1991. Menamatkan studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Mulai suka membaca ketika kuliah setelah menyelesaikan sebuah novel di perpustakaan kampus, semenjak itu dia ketagihan membaca novel dan karya sastra lainnya. Selain ingin terus menulis dan menerbitkan buku-buku bagus, ia juga menyimpan sebuah cita-cita kecil yang kelak ingin diwujudkan yakni mempunyai lapangan sepakbola sendiri. Saat ini, penulis tinggal di Desa Tanjung dengan mengabdi di sebuah sekolah Madrasah Tsanawiyah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di sebuah SSB, sambil sesekali tetap menulis apa saja yang menurutnya penting. Penulis bisa dihubungi lewat email: romiafriadi37@gmail.com atau akun Facebook: Romie Afriadhy.

 

[1] Dikutip dari salah satu puisi Gie. (Sebuah Tanya)

 

Photo by Roman Koval from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*