Topbar widget area empty.
Dunajib cover Dunajib Tampilan penuh

Dunajib

Cerpen Hendy Pratama

 

 

 

Weni terbelalak ketika melihat pohon mangga terbalik. Didapati akarnya melintang, dan menjalar ke langit, sedangkan buahnya berada di bawah. Mangga besar dan ranum itu tinggal ia petik dengan jari. Ia juga berdecak kagum tatkala menjumpai sungai susu yang membentang. Membelah tanah berumput hijau nun segar, bersama ratusan tulip, dan beberapa plum cantik. Weni menyangka, ia sedang bermimpi.

 

“Sungguh aneh,” gumamnya, menggeleng-geleng. “Semalam, aku bagai berada di surga. Dan, ah… rerumputan itu pun dapat dimakan.”

 

Belum puas merenungi kejadian janggal semalam, suara tangis pecah. Terdengar dari barat. Sesegera, bocah berambut sabut yang menjuntai itu menghampiri Kliwon, adiknya yang meringkuk di pojokan, dekat dengan penyangga jembatan. Di bawahnya, kotoran kalong tercecer. Menimbulkan bau yang tak pantas dicium.

 

“Kenapa kau menangis?” tanya Weni, mengusap sudut mata Kliwon.

 

Kliwon memegang perutnya. Jemarinya memijit. Dan, sesekali merintih. Seketika Weni tahu, apa yang membuat bocah lelaki berambut cepak dan bermata hitam besar itu menangis. Maka, demi membuatnya diam, Weni turun ke kali. Mengecek perangkap ikan yang diletakkan di tengah aliran air. Sejurus kemudian, ia buka mulut bubu. Mata Weni menjelajah ke dalam perut rajutan bambu itu. Tapi, tak ia temui seekor ikan berenang di sana. Hanya berisi kekecewaan belaka.

 

“Aku akan naik dari rumah kita ini. Menuju tong sampah di bibir jalan, dekat lampu merah. Siapa tahu ada yang membuang spageti,” ucap Weni pada Kliwon, yang kini memeluk lutut, kepalanya ia masukkan ke selasela kaki.

 

Tentu saja tak ada apa-apa di sana. Tong sampah itu hanya berisi muntahan orang yang dibungkus dalam kantong plastik. Mata Weni menjadi sembap. Ia mengacak-acak rambut panjangnya yang kusut. Seraya meyakinkan bahwa hidupnya memang begitu. Untuk urusan makan, ia kerap mengais tong sampah dan sesekali memeriksa bubu. Ia dan Kliwon tak punya orangtua. Ibunya adalah kolong jembatan dan ayahnya kali.

***

 

Petang harinya, Weni mencuci muka hitamnya di kali. Kemudian, ia naik ke atas, ke rumahnya buat membersihkan tangan Kliwon dengan sebotol air yang diambil dari kali. Lima bungkus nasi terserak di samping mereka. Siang tadi, seseorang membuang sisa nasi dari jembatan ke kali. Dan, lekas-lekas Weni memungutnya. Kliwon berhenti merintih dan menangis setelah menyantap makan malam tak terduga itu.

 

Begitu kenyang, Kliwon tertidur beralaskan kardus. Tubuh cungkringnya terbalut selimut cokelat bermotif bercak debu. Sedangkan Weni, tidur di dalam sebuah peti yang ia pungut dari bibir kali, yang tersangkut padas. Kubus persegi panjang dan berwarna cokelat muram itu tampak seperti peti mayat orang Cina. Bagian tengahnya, tepat di dekat lubang kunci terdapat tulisan ‘Dunajib.’ Namun, Weni tak peduli. Baginya, itu lebih dari cukup buat bertahan dari tusukan angin malam.

 

Anehnya, begitu terlelap, Weni seperti berada di dunia lain. Matanya memandang pohon-pohon mangga terbalik. Buah-buahnya sebesar kepala. Aroma harum menyusup ke lorong hidungnya. Dan, sepasang kakinya menginjak air susu. Ratusan tulip menari dan beberapa plum terkibas angin. “Apakah Tuhan mengirimku ke surga?” gumamnya.

 

Weni memetik mangga raksasa itu, lalu menyantapnya.

 

“Ya, Tuhan. Apakah ini yang disebut dengan kenikmatan?” kagumnya, mulutnya tersenyum simpul. “Kupikir, Kliwon harus merasakannya juga.”

***

 

Sewaktu matahari baru seumur jagung, Weni terbangun. Ia terkejut dan hampir melonjak ketika tangannya memegang sebuah mangga raksasa. Tubuh kurus Kliwon ia goyang-goyangkan hingga mata adiknya itu terbuka. Dan, tanpa menunggu turun ke kali atau naik ke atas, menuju tong sampah, Weni dan Kliwon menyantap buah itu bersama-sama. Rasanya manis dan sedikit asam. Adiknya menari-nari dan ke sana-kemari bagai mengitari bumi. Sesekali melompat, berseru kegirangan.

 

“Kakak dapat mangga ini, ah… maksudku melon. Eh, apa nama buah ini?” tanya Kliwon, berseri-seri. “Dari mana, Kak?”

“Tadi Kakak mengambilnya di pinggir kali,” jawab Weni, asal-asalan.

 

Matahari terbit di wajah Kliwon. Ia menyimpan sisa mangga raksasa itu di pojok kolong jembatan. Menutupnya dengan kardus-kardus kecil, supaya lalat-lalat tak mencuri kebahagiannya. Kebahagiaan yang datang begitu saja.

 

Sepasang mata Weni bersauh pada peti kosong di sampingnya. Ia menduga bahwa keajaiban itu berasal dari dalam sana. Peti lusuh yang tiba-tiba muncul di sampingnya itu mulanya dikira benda biasa. Tapi, ia percaya, di dalamnya terdapat pintu rahasia yang mengubungkan antara dunia nyata dengan dunia ajaib.

 

Maka, ketika bulan bertahta di langit kelam, dan setelah mangga raksasa itu habis tak bersisa, Weni memutuskan tidur telentang di dalam peti. Sembari menutup mata, ia bergumam, “Kali ini, aku mesti mencari kebahagiaan lain. Pasti di sana, masih ada buah lain sebesar mangga. Ah, bagaimana rasa khuldi raksasa?”

 

Petang itu, Weni menjelajah. Batang-batang kakinya melaju, mengikuti arah aliran sungai susu. Bunga-bunga tulip melambai. Plum cantik berguguran bagai hujan. Seekor rusa ditemui mencecap susu. Tubuh binatang itu besar dan sepasang tanduknya berkilau keemasan. Bebatuan yang terhampar di sungai berwarna cokelat. Tampaknya itu memang cokelat, bukan batu. Beberapa ikan melompat, membentuk pola setengah lingkaran. Percik air terdengar merdu, seperti alunan harpa.

 

Kaki Weni berhenti untuk mencecap sungai susu. Ia juga membasuh muka. Rasa segar merambat ke relung hatinya. Mata bocah perempuan kusut itu melirik ke barat. Sekilas lalu, ia dapati seorang bocah tengah berlari.

 

“Siapa di sana?” serunya, melihat bocah misterius sembunyi di balik semak.

 

Weni setengah berlari menuju semak. Rerumputan terasa halus di telapak kakinya. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Membuat rambut panjangnya berayun.

 

Tiba di semak, bocah perempuan itu membelah rerimbun. Tangannya menyibak lebat daun. Matanya terjun ke dalam semak dan mendapati seorang bocah lelaki meromok. Weni menepuk pundak bocah itu. Dan betapa terkesiapnya ia ketika kepala si bocah terangkat. “K-Kli-Kliwon?” serunya, setengah melonjak.

***

 

Pagi harinya, didapati Kliwon tidur menyamping di dalam peti, tepat di sebelah Weni. Segera ia membangunkan adiknya. Digoyang-goyangkan tubuh Kliwon hingga matanya terbuka. Kliwon bangun, disambut dengan sebaris pertanyaan, “Mengapa kau tidur di sini—bukannya di pojokan?”

 

Kliwon, yang setengah bangun menjawab, “Semalam aku ketakutan, Kak. Aku terbangun ketika terjadi angin kencang. Bambu-bambu terayun dan berderit. Daun-daun gugur dan berterbangan. Makanya, aku tidur di dalam peti Kakak.”

 

Menjumpai matahari menyembul dari timur, Weni beranjak turun ke kali buat memeriksa bubu. Ia juga naik ke atas, mengais sampah. Itu dilakukan karena semalam, ketika berada di Dunajib, Weni tak sempat memetik mangga raksasa. Kehadiran Kliwon cukup mengagetkan baginya. Maka, ia mesti mencari makanan dengan cara seperti biasa; menanti ikan terperangkap dalam bubu dan mencari apa pun dalam tumpukan sampah di samping lampu merah.

***

 

Malam kembali bertandang. Weni meringkuk di peti Dunajib. Sejam sebelum matahari turun ke barat, ia memperingatkan Kliwon supaya tidak tidur di peti itu. “Kau sudah punya tempat sendiri di sana. Dan, jangan ganggu Kakak,” begitu tandasnya.

 

Ketika Weni telah terlelap, ia kembali bermimpi. Anehnya, tidak ditemui dunia laksana surga itu. Tak ada mangga raksasa, sungai susu yang segar, dan tetumbuhan berwujud ganjil. Perempuan itu justru merasa tubuhnya sedang bergerak. Terdengar renik air dan desau seperti hujan. Ia juga mendengar suara arus yang amat bising. Dan, sesuatu seperti menghantam tubuhnya. Weni merasa terjatuh di perut sungai. Air meluap membuatnya terbangun dengan tiba-tiba. Matanya terbelalak ketika peti itu terbuka dan sungai menghanyutkannya ke dunia tanpa nama. ***



 

Madiun, September 2019

 

Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia adalah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.

 

Foto sampul oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*