Topbar widget area empty.
Dunia Berputar cover dunia berputar Tampilan penuh

Dunia Berputar

Cerpen Sulistiyo Suparno

 

 

Aksa datang dari kampung di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ke kota X untuk bekerja di tempat fotokopi milik pamannya, sekira tiga puluh tahun yang lalu. Di sana, banyak mahasiswa yang datang membawa bertumpuk-tumpuk bahan skripsi lalu menyerahkannya pada paman. Paman mengerjakan skripsi-skripsi pesanan itu pada malam hari.

 

Rumah paman berada di tanah seluas 5 x 10 meter, di tepi jalan dekat dengan beberapa kampus, berhimpitan dengan bangunan lain. Lantai 3 dan lantai 2 untuk ruang keluarga, lantai 1 untuk usaha fotokopi. Aksa tidur di sebuah kamar berukuran 2 x 3 meter di lantai 1, di bagian belakang dekat kamar mandi. Kamar yang sempit tapi menyenangkan bagi perantau seperti Aksa. Di kamar itu pulalah Aksa merintis karier sebagai konsultan skripsi, mengikuti jejak paman.

 

Aksa berotak encer dan gemar membaca. Paman sering membawakannya berbagai buku bacaan ketika mudik Lebaran. Paman pernah mengatakan siap membiayai kuliah bila Aksa lulus dari SMA. Tapi, Aksa tidak mau kuliah, ia hanya ingin membaca buku. Sebab lain, di kampung Aksa banyak sarjana yang menganggur. Maka selepas SMA, Aksa bertekad ingin seperti paman, yang meski hanya lulusan SMP tapi bisa punya rumah berlantai tiga dan mahir membuat skrispi.

 

Paman pernah bercerita, dulu dirinya bekerja di sebuah tempat fotokopi. Majikannya hanya lulusan SD tapi berotak encer dan gemar membaca. Sang majikan menjadi konsultan skripsi, menularkan ilmunya pada paman, paman mewariskan ilmunya pada Aksa. Begitulah, silsilah Aksa menjadi konsultan skripsi.

 

Suatu hari paman merasa dirinya telah tua. Uban telah menjalar di semua rambutnya. Sebetulnya, paman belum terlalu tua, usianya hanya terpaut lima tahun dengan ayah Aksa. Aksa menebak usia paman masih 50 tahun, tetapi rambutnya terbakar oleh skripsi-skripsi pesanan.

 

“Aku akan pulang ke kampung istriku,” kata paman.

 

Rumah istri paman di sebuah kampung di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, berada di tepi jalan raya yang menghubungkan dua kecamatan, dekat dengan sekolah dan perkantoran. Di dekat rumah itu ada tanah kosong seluas 10 x 10 meter. Pemilik tanah itu sudah meninggal dan salah satu anaknya mendapat warisan tanah kosong itu. Karena terlilit utang, si pewaris menawarkan tanah itu pada mertua paman. Mertua paman menghubungi anaknya (istri paman), lalu istri paman mengatakannya pada paman. Paman setuju, lalu membeli tanah itu. Tanah itu cocok untuk usaha fotokopi, kata paman.

 

“Paman akan jadi konsultan skripsi di kampung?” tanya Aksa.

 

Paman hanya tersenyum dan mengatakan bahwa Aksa boleh meneruskan usaha fotokopinya atau paman akan menjualnya pada orang lain.

 

“Bagaimana kalau saya membelinya, Paman?” kata Aksa.

“Kamu punya uang?” sahut paman, sepasang matanya menyipit.

“Berapa paman akan jual?”

 

Paman menyebut harga.

 

“Bagaimana kalau saya angsur selama dua tahun, Paman?”

 

Paman tertawa, lalu menjabat tangan Aksa.

***

 

Suatu sore, di pelataran parkir toko buku setelah membeli beberapa novel dan kumpulan cerpen, Aksa bertemu dengan Sidik, rekan sesama konsultan skripsi -tepatnya mantan konsultan skripsi.

 

Sidik yang kini berjenggot dan selalu mengenakan gamis putih, tersenyum, menjabat tangan Aksa dan mengucapkan salam dengan fasih layaknya orang Arab. Penampilan Sidik yang kini itu terjadi setelah ia ikut sebuah perkumpulan pengajian.

 

“Apa kabar, saudaraku? Masih jadi konsultan skripsi?”

 

Itu pertemuan yang ke sekian dengan Sidik dan Aksa selalu mendapat pertanyaan yang sama. Pertemuan yang menyebalkan, tetapi Aksa mencoba untuk tersenyum dan menjawab, “Alhamdulillah, masih.”

“Sudah ada rencana untuk berhenti?” tanya Sidik. Pertanyaan itu selalu terulang tiap kali mereka bertemu. Aksa mengerti, sebagai anggota perkumpulan pengajian Sidik tentu punya tugas suci yang harus ia jalankan.

Aksa menggeleng. “Aku tidak seperti kamu. Imanku lemah.”

“Jangan menyerah, saudaraku. Setidaknya kamu harus punya niat. Sudahkah kamu punya niat untuk berhenti, saudaraku?”

 

Aksa gugup dan ingin segera berlalu, tetapi Sidik mencengkeram tangannya.

 

“Bertobatlah, saudaraku, sebelum terlambat. Dunia berputar, kamu akan larut dalam putaran itu, kecuali kamu memutuskan untuk keluar. Keluarlah dari putaran yang menyesatkan itu, saudaraku.”

 

Darah Aksa mendidih, ia menepiskan tangan Sidik dengan kasar. Bergegas menuju motornya.

 

“Bertobatlah, saudaraku, atau karma akan menimpamu,” teriak Sidik.

 

Aksa tak peduli. Ia melajukan motor meninggalkan pelataran parkir.

 

Di perjalanan Aksa melambatkan motor ketika melintas di depan sebuah kampus. Banyak kerumunan orang di tepi jalan itu. Aksa melihat seorang pemuda mengenakan toga sedang berfoto bersama kedua orang tuanya di depan plang nama sebuah universitas. Otak Aksa yang encer segera mengingat bahwa pemuda bertoga itu adalah mantan kliennya, tetapi Aksa lupa berapa juta pemuda itu membayar untuk skripsi pesanannya.

 

Aksa masih ingat dirinya pernah mendamprat pemuda itu sebagai mahasiswa tolol, bego, goblok. Pemuda itu tak pantas jadi sarjana, karena untuk menyusun sebuah kalimat saja tak becus. Tetapi, bukankah itu sebab Aksa jadi konsultan skripsi, karena negeri ini penuh dengan mahasiswa tolol?

 

Pukul lima sore lebih beberapa menit, Aksa sampai di tempat fotokopinya. Seorang karyawannya mengatakan seseorang telah menunggunya. Aksa melihat seorang pemuda duduk di sudut ruangan, tersenyum lebar padanya.

 

“Bagaimana ujian skripsimu?” tanya Aksa.

“Sukses, berkat bimbingan Pak Aksa.”

***

 

Seperti biasa, pukul 9 malam, Aksa bertandang ke kamar Pitaloka, anak tunggalnya, di lantai 2. Gadis itu sedang duduk menghadap laptop, tersenyum melihat Aksa berdiri di ambang pintu kamar.

 

“Bagaimana skripsimu?” tanya Aksa.

“Sudah selesai, Papa. Tinggal nunggu jadwal ujian.”

“Sukurlah,” Aksa tersenyum. “Papa bangga kamu mengerjakan sendiri skripsimu.”

“Siapa dulu dong papanya?” balas Pitaloka tersenyum.

“Sudah malam. Tidurlah.”

“Ya, Papa. Sebentar lagi.”

 

Aksa lalu turun ke lantai 1, memasuki ruang kerjanya yang berukuran 2 x 3 meter. Dulu, ruang itu adalah kamarnya ketika masih bekerja pada paman.

 

Aksa membuka laptop. Malam-malam sebelumnya ia mengerjakan skripsi pesanan, tetapi malam ini ia hanya duduk menatap laptop. Pikirannya tak menentu dan dadanya berdebar-debar. Pertemuannya dengan Sidik sore tadi telah membuat pikiran Aksa kacau. Berkali-kali Aksa mengela napas panjang dan memejamkan mata, dan setelah beberapa menit tak tahu apa yang harus ia lakukan, Aksa membuka File Explorer di laptop.

 

Aksa menggerakkan tetikus, mengarahkan pointer pada folder Skripsi Pesanan. Beberapa saat ia terdiam, lalu pada helaan napas panjang yang ke sekian, Aksa mengklik folder itu, lalu mengklik Delete. Aksa memejamkan mata. Takut, cemas, kawatir, dan lega bercampur di hatinya.

 

Di lantai 2, Pitaloka masih berkutat dengan laptop di kamarnya. Ikon Whatsapp di laptopnya muncul tanda bulatan merah. Sebuah pesan masuk dan gadis itu segera membukanya. Pesan dari teman kuliahnya.

 

Skripsiku sudah selesai belum?

 

Pitaloka tersenyum, lalu menulis jawaban.

 

Sudah. Tapi transfer dulu dong fee untukku.

Beres. Segera kutf. Tunggu, ya.

Oke, aku tunggu.

 

Pitaloka berdebar menunggu. Tiga menit kemudian ponselnya berdering lembut. Sebuah SMS banking masuk, mengabarkan telah masuk transfer sejumlah 5 juta rupiah.

 

Batang, 27 Maret 2020

 

Photo by Nikolai Ulltang from Pexel

Sulistiyo S.
Ditulis oleh Sulistiyo Suparno

    Lahir di Batang 9 Mei 1974. Gemar menulis cerpen sejak SMA. Cerpen-cerpennya tersiar di Sumut Pos, Radar Lampung, Analisa, Nova, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Radar Surabaya, Radar Bromo, Banjarmasin Pos, basabasi.co, apajake.id, malangvoice.com, floressastra.com, dan media lainnya. Pernah pula menerbitkan novel remaja Hah! Pacarku? (Elexmedia, 2006). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.