Topbar widget area empty.
Mata Kuliah Korupsi cover Kuliah Korupsi Tampilan penuh

Mata Kuliah Korupsi

Cerpen Norrahman Alif

 

 

Seusai menyimak lintas informasi –perihal kasus-kasus korupsi terkini di layar kaca TV One. Aku tiba-tiba melihat sekawanan orang berkepala tikus dalam mimpiku tadi malam. Sebelumnya, sungguh aku sama sekali tidak percaya. Bahkan, dari saking tak percanya dengan apa yang kulihat itu –coba kutampar-tampar pipiku kanan kiri, ternyata sakit. Namun ajaibnya, bila apa yang kulihat adalah kenyataan. Tetapi mengapa aku tak bisa menyentuh mereka. Bahkan menyapa pun, suaraku seakan tak terdengar.

 

Pada saat itu ketika berada dalam mimpi. Aku serupa arwah orang mati di tengah perkumpulan orang-orang berkepala tikus tersebut. Mereka tak bisa melihatku. Barangkali hanya aku yang mampu melihat mereka. Pernah kucoba telanjang di depan matanya. Pernah juga aku teriak-teriak di disamping telinganya –dan, pernah juga aku menampar-nampar pipi tirusnya. Namun nihil usahaku, mereka tetap duduk tegak di kursi-kursi yang berjejer itu.

 

“Sesungguhnya siapa yang hidup siapa yang mati: aku atau mereka?” Pikirku saat itu. Namun  mereka, seolah tidak ada apa apa di tengah kehadiranku yang serupa angin lalu ini. Semua mata tetap fokus menatap ke muka papan, memahami corat-corat tentang teori korupsi yang sudah dijelaskan sejak dari tadi –oleh seorang yang tidak asing aku lihat di layar televisi.

 

“Sepertinya aku pernah melihat orang ini, kalau tidak salah, dia sering muncul di layar kaca TV One –sewaktu menayangkan seputar berita-berita kenangan tentang penangkapan seorang koruptor senior. Dan, anehnya orang itu selalu jadi terdakwa dalam permainan suap-menyuap, atau pengelapan dana desa.

 

Tapi siapa ya namanya, ah pake acara lupa lagi, huh? Ou, iya aku baru ingat. Ia adalah pak Broto, kalau di lihat dari gayanya berbicara memang iya sih. Tapi kalau dari mukanya kok lain, kalau di tv mukanya berminyak, tapi kok di sini tulang pipinya tirus ke depan, hitam lagi kayak muka tikus. Eh, tapi kan semua orang disini berkepala tikus,” gerutuku berbicara dengan pikiran sendiri sejak tadi. Sambil ingatan mengingat-ingat, dan imajinasi memirip-miripkan Pak Broto dengan orang yang saat ini menjadi pemimpin orang-orang berkelapa tikus ini.

 

Lambat-laun aku pun berpindah tempat; yang mulanya berada di paling belakang memerhatikan gelagat tikus-tikus belajar. Kini pun aku berdiri di depan pintu masuk ruangan –entah ruang apa ini aku masih bingung– yang jelas di sana sini bangku-bangku berjajar rapi. Sementara di depan, papan kayu selebar dinding kamar tergantung dengan kokoh.

 

Setelah aku benar-benar menyisihkan badan ke pintu depan ruang masuk, kira-kira hanya berjarak 1 meter dari samping tubuh dosen yang sedang berdiri itu. Aku tak tahu siapa namanya, yang jelas seorang itu kepalanya lebih besar daripa kepala-kepala tikus lainnya. Kulihat kini ia sedang mengajari orang-orang berkepala tikus dengan serius.

 

Beberapa menit berlalu –setelah orang-orang berkepala tikus dapat kulihat semuanya  dari jarak jauh. Pada saat itulah aku terkejut bukan kepalang. Ternyata semua orang yang berkepala tikus itu –ada banyak kemiripan dengan orang-orang yang pernah kulihat di luar dunia mimpiku.

 

Seperti kulihat dari postur tubuhnya. Gayanya berbicara. Sampai gaya duduknya di atas kursi yang berjejer ke kebalakang. Tampaknya, persis dengan gaya orang-orang yang pernah kukenal dalam layar televisi.

 

Kalau yang sedang menulis sesuatu di barisan kursi paling depan. Gaya-gayanya sama dengan gaya kepala desaku, yang sering menjadi terdakwa dalam kasus-kasus penyalahgunaan dana desa. Namun bila dilihat dari penampilannya. Kepala desaku sangat dermawan dan lagi selalu menjaga sopan-santun di depan mata warganya. Mungkin orang-orang tak menyangka, dan akan terheran-heran, bila tahu kalau kepala desaku dalam setahun saja, sudah berkali-kali terjerat kasus korupsi.

 

Lalu kuperhatikan lagi kawan dibelakangnya. Jika dilihat dari penampilannya, mirip sekali dengan seorang habib milenial: bajunya putih dengan surban ia lilitkan ke kepala. Namun begitu sangat menjijikkan. Juga sangat membuatku tergelitik ingin tertawa bila kuperhatikan baik-baik. Ternyata mirip badut tikus naik haji.

 

Mungkin hanya dalam mimpi yang tak nyata benar-benar nyata. Aku tak bisa membayangkan, bila ada manusia berkepala tikus memakai surban di dunia nyataku. Mungkin akan menjadi olok-olokan warga –atau bahkan menjadi bahan caci-maki nitizen yang maha benar itu. Akan tetapi penampakkan ini sungguh ada dalam mimpiku. Sungguh.

 

“Wah, orang ini tidak jauh beda dengan apa yang kulihat di berita tempo hari. Ia adalah habib yang sering berfatwa di masjid-masjid. Namun sekarang sudah jadi tahanan polisi. Apa mungkin karena memakai tato perempuan seksi di lengannya, sehingga ditangkap polisi?” gumamku pada diri sendiri, ketika melihat salah satu orang dalam mimpiku, mirip sekali dengan habib yang terjerat kasus sabu-sabu dua hari yang lalu.

 

“Perhatikan baik-baik. Kali ini kita akan mempelajari sarat-sarat menjadi koruptor!” berselang beberapa menit aku berdiri melamun. Tiba-tiba orang berkepala tikus besar –atau bisa dipanggil Si Tikus Besar, nama panggilan akrabnya itu, berucap. Membuatku kaget di depan pintu dalam ruangan tersebut.

 

“Sebelum melangkah ke mata pelajaran yang lebih pelik, alangkah baiknya kita baca-baca dulu para tokoh filsuf korupsi terkemuka ini. Misalnya, seperti Bento, Hambalang, Anas, Malarangeng, Akil dan lain-lainnya. Mereka adalah orang-orang hebat di negeri ini, yang patut kalian ajungkan empat jempol sekalian. “

 

“Karena hanya dengan satu teori dusta manis saja, segala harta, tahta dan kuasa mereka duduki. Seperti merampas uang rakyat, menguras uang negara untuk berkapal-kapalan ke luar negeri. Betapa hebatnya bukan. Itu baru contoh dasar dari teori korupsi untuk menjadi koruptor, kawan-kawan.” Mendengar dosen Si Tikus Besar berbicara, menerangkan dasar-dasar menjadi koruptor. Lalu satu-persatu muridnya mulai setengah-setengah unjuk jari. Namun masih ragu-ragu.

 

Sementara aku berpusing-pusing tujuh keliling bergolak dengan pikiran sendiri; mendengar Si Tikus Besar mengoceh sejak tadi. Walau apa yang diterangkan Si Tikus Besar itu, sangat tepat dengan apa yang tergambar dalam dunia nyataku.

 

“Pak Tikus, bagaimana caranya. Pengen kaya tapi malas bekerja?” tanyanya lalu, salah satu orang berkepala tikus dari deretan bangku paling depan. Sementara aku menghampiri penanya tersebut, lalu dengan gemes kugeplak kepalanya sambil cekikikan. Namun tak dapat riaksi apa apa. Mungkin hanya sungutnya yang terus berkernyit-kernyit di moncong mulutnya.

 

“Solusinya iya jadi koruptor tolol! Ya kalau gak mau jadi koruptor berdoa saja semoga cepat mati, huh. Kalau ingin bertanya yang logis dong,” bentaknya dengan kesal Si Tikus Besar itu di depan murid-muridnya.

 

“Ayo siapa lagi yang ingin bertanya!” sahutnya sekali lagi, dengan gaya berkacak pinggang di depan orang-orang berkepala tikus tersebut. Sementara aku yang melihat gayanya ingin muntah. Kuludahi saja mukanya. Namun ludahku tidak tepat sasaran. Padahal kita sudah bertatap-tatapan mata. Entahlah, barangkali ini bukan duniaku. Maka aku hanya bisa menyaksikan mereka belajar menjadi koruptor yang baik dan lagi terhormat di negaranya.

 

“Pak, saya kan seorang habib yang pandai berceramah nih! Tapi akhir-akhir ini saya sudah jarang menerima undangan. Jadi saya ingin pindah profesi saja sebagai pedagang. Bagaimana pak Tikus Besar?” tanyanya kemudian lagi, salah satu seorang habib yang sangat mirip dengan habib televisi, yang kini terjerat kasus pelecehan seksual.

 

Cih, gayamu selangit. Ngaku-ngaku jadi habib segala lagi. Nyatanya masih suka belajar di sini, haha. habiibb bakhlull kamu emang! Baiklah aku beri solusinya. Bagaimana kalau kamu jadi pedagang agama saja?” Si habib mengangguk-ngangguk setengah kurang mengerti. Sementara Si Tikus Besar senyum-senyum padanya.

 

“Jadi, jika kamu sudah yakin ingin jadi pedagang agama. Maka belajarlah dulu ke Arab, nanti setelah pulang ke sini. Apa yang kamu pelajari jadikan bahan fatwa dalam ceramah-ceramahmu dengan tarif mahal. Misalnya sekali ada undangan kamu beri tarif 1 M, gampangkan. Hehe.” Sahutnya dosen itu dengan cerdiknya.

 

Tak lama kemudian, aku pun mulai bosan menyaksikan drama calon-calon koruptor belajar ilmu-ilmu korupsi. Sama bosannya dengan mataku –ketika setiap kali menonton televisi ataupun membaca koran-koran tiap pagi. Yang  selalu yang tampil pertama kali adalah wajah-wajah tikus yang selalu tersenyum –sewaktu-waktu diwawancarai tentang ilmu-ilmu mereka menjilat para orang-orang ber-uang.

***

 

Lalu setelah menginjak satu tahun guru besar korupsi mendidik murid-muridnya memahami teori-teori korupsi. Akhirnya, Si Tikus Besar mengintruksikan mereka turun ke lapangan untuk mempraktikkan segala apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah.

 

Dan, terlihatlah kini setelah tiga minggu mereka turun ke lapangan: ada yang pula jadi kepala desa. Lalu hampir setahun dalam masa jabatannya. Ia pun terjerat kasus korupsi berkali-kali. Ada pula yang jadi pejabat negera. Namun setelah masa akhir jabatannya, terbongkarlah juga akal bulusnya. Dan akhirnya tidur manis dalam penjara. Apa pula yang jadi habib, kiai dan penceramah. Setelah hampir setahun laris manis banyak diundang kemana-mana dengan tarif super-mahal. Juga terbongkar kebusukan hatinya –atau kepentingan mereka berdakwah.

 

Pada akhirnya, mereka pun semua pernah memakai baju rompi oranye pemberian KPK (Komisi Pembrantas Korupsi). Namun, itu tidak membuat hati orang-orang berkepala tikus berkecil hati terhadap apa mereka lakukan selama ini. Sebab seorang dosen Si Tikus Besar tidak tinggal diam. Karena setiap muridnya masuk bui akan selalu tumbuh seribu generasi koruptor lagi.

 

Kutub, 2019-2020

 

Norrahman Alif. Lahir di Jurang Ara -Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan. Email: ainurrahman684@mail.com Akun fb: Norrahman Alif.

 

Foto sampul dari Pixabay

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: