Topbar widget area empty.
Alif (Bukan) Kisah Cinta Anak Pesantren 20200331_060338 Tampilan penuh

Alif (Bukan) Kisah Cinta Anak Pesantren

Resensi Fajar Andika

 

 

 

Judul                     : ALIF

Penulis                  : Dhea Puspita, dkk

Penerbit                 : Pustaka Pemuda

Tahun Terbit          : Januari 2020

Tebal                     : vi+ 94 hlm

ISBN                     : 978-602-173-566-4

 

 

Alif merupakan antologi cerita pendek yang ditulis oleh sebelas penulis perempuan yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara. Tujuan diterbitkannya buku kumpulan cerpen ini adalah untuk menimbulkan atau untuk melahirkan penulis perempuan di Sumatra Utara, begitulah kiranya.

 

Awalnya saya tertarik ketika melihat dan membaca judul dari buku ini, Alif. Banyak terkaan dan asumsi yang berputar dalam kepala saya, tentu saja. Mungkin bukan saya saja, anda, atau bisa jadi kita semua. Sebab, Alif adalah salah satu huruf yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan sejak anak-anak kita sudah tahu dan paham dengan huruf ini. Awalnya saya mengira bahwa buku ini akan menyuguhkankan tentang kehidupan pesantren, atau kisah cinta disuatu pesantren, mungkin. Itulah asumsi yang mengusik kepala saya sejak pertama kali.

 

Namun setelah saya selesaikan membacanya tak lain dan tak bukan bahwa buku ini hanya menceritakan sebuah kisah cinta muda-mudi yang sejak kecil sudah berteman akrab. Alif sebagai tokoh utama, yang menyimpan rasa kepada seorang wanita yang bernama Kesuma. Sebenarnya, tidak ada masalah sampai pada titik ini, itulah gunanya buku itu diterbitkan. Salah satunya adalah untuk menarik simpati pembacanya.       Jujur saja saya sangat tertarik dengan buku ini, tapi saya sedikit kecewa, ingat garis bawahi hanya sedikit saya merasa kecewa. Dengan isi pada ceritanya. Karena saya mengira bahwa buku ini akan menguak kisah cinta seorang santri atau bahkan kehidupan pesantren dengan konflik-konflik yang dibangun, tetapi ternyata hanya permasalah percintaan seorang muda-mudi sebagaimana kaum milenial pada umumnya. Hanya sedikit yang menyenggol judul tersebut yaitu Alif, yang ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan ingin melanjutkan ke pesantren, tapi keinginannya yang ditepis oleh ibunya. Nah, sebenanrnya sampai di sini cerita ini sudah menarik, tetapi setelah saya terus menelusuri dan melanjutkan membaca ternyata malah tak seperti apa yang saya inginkan. Tetapi tetap saja saya tidak dapat mengatakan ini sebuah keberhasilan atau sebuah kegagalan si penulis. Tapi jelas bahwa ia sudah menarik simpati pembacanya setelah disantap, meskipun ada sedikit rasa kekecewaan yang dirasakan.

 

Sekarang semua itu kembali pada penulis itu sendiri untuk mengungkapkan ekspresinya dalam menuangkan idenya. Antologi cerpen ini terdapat sebelas penulis perempuan dan sebelas cerita yang dihidangkan yaitu, Terbesit Dendam Yang Tertinggal, Ujian Hati, Alif, Cintaku Hanya Sebatas Impian, Bubur Basi, Ambisi Sandra, Menanti Di Kotaku, Lestari, Sujud Cinta Di Atas Sajadah, Mimpi Indah, Dan Antara Aku, Kau, Dan Sibayak. Semua cerita itu mengangkat kehidupan perempuan, perasaan perempuan sebagai objek ataupun sebagai subjeknya, dan menggunakan sudut padang feminisme.

 

Di antara sebelas cerita tersebut beberapa cerita memiliki estetika yang sangat bagus, dari cara tutur, penggarapan ide sampai klimaks, semua tertata rapi dan apik, misalnya “LESTARI” cerita ini begitu kompleks dan runut, ia menceritakan seorang janda beranak dua lalu ada seorang laki-laki yang ingin menikahinya yaitu adi, seorang guru dengan pendapatan yang pas-pas-an. Awal pernikahan mereka semua baik-baik saja, dengan seluruh kekurangan suaminya dan lestari mampu menerimanya, dan begitpun sebaliknya. Tetapi setelah berjalan tiga tahun bahtera rumah tangga yang mereka arungi mulai goyang, salah satu di antara mereka mulai oleng dan terlepas kendali dan semua berjalan tidak seperti apa yang pertama mereka cita-citakan hingga akhirnya kandas begitu saja.

 

Lalu, ia bertemu dengan laki-laki lain dan ia takut untuk gagal ke dua kalinya, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya ia menepis kegelisahan itu dan mencoba kembali membangun bahtera kembali, hingga akhirnya berjalan dengan sempurna. Nah, bukankah cerita tersebut begitu komplek dan menarik dan estetik yang mengambarakan realistas pada kehidupan nyata.

 

Kemudian cerita lainnya dengan judul “SUJUD CINTA DI ATAS SAJADAH”, cerita ini tidak kalah menarik dengan lestarai tadi. Penulis telah berhasil mengangkat estetik dan kekompleks-an dalam cerita, membangun cerita, memahami tokoh, hingga konflik. Dari ketiga cerita itu antara Alif, Lestari dan Sujud Cinta Di Atas Sajadah sudah mampu kita mengambil kesimpulan.

 

Nah, begitulah keberhasilan seorang penulis untuk mengambil simpati pembacanya, ia otak-atik kepala pembacanya dengan menyihir dan memilih estetik dalam bukunya agar membuat penasaran para pembacanya. Banyak cerita-cerita yang menarik untuk diangkat menjadi judul, tetapi yang menarik dan estetiknya kuat di dalam buku itu hanyalah Alif  yang pantas untuk diangkat menjadi  cover pada buku ini, begitulah kiranya asumsi dalam kepala saya.



 

Fajar Andika adalah seorang pengajar di Yayasan Pusaka. Merupakan Alumni Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara. Bergiat di komunitas FOKUS UMSU.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*