Topbar widget area empty.
Menghidupkan Kembali Matematika Yang Telah Lama Mati Suri cover Sutarto Tampilan penuh

Menghidupkan Kembali Matematika Yang Telah Lama Mati Suri

Resensi Fahrus Refendi

 

 

Judul: Membingkai Bayang-Bayang

Penulis: Sutarto Hadi

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-04-9928-4

Tebal: 368 halaman

Edisi: Cetakan ke 1, 2019

 

 

Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia (Nelson Mandela). Tampaknya premis inilah yang pas untuk mewakili isi dari buku Membingkai Bayang-Bayang ini. Jelas, maju tidaknya suatu negara disebabkan karena pendidikan. Eksistensi pendidikan itu sendiri mampu menciptakan sumber daya manusia yang unggul, maju dan berdaya saing tinggi. Lihatlah negara Singapura, Japan, serta Inggris. tiga contoh negara tersebut sangatlah minim sumber daya alam, tapi negara mereka maju. Kenapa bisa maju? Jawabannya satu, yaitu dengan pendidikan.

 

Buku Membingkai Bayang-bayang setebal 368 halaman ini diisi dengan berbagai isu- isu yang diangkat dari perjalanan tokoh sentralnya yang dibalut dengan simbol perjuangan dan pengabdian. Teringat pada salah satu kata motivasi ”Jika Anda punya mimpi maka tekunlah, dan jika tidak mau tekun maka lupakan saja mimpi-mimpi Anda”. Dalam oposisi biner kita mengenal dualisme jika ada malam pasti ada siang, kanan pasangannya kiri, ada laki-laki ada perempuan, ada atas ada bawah, dan raganya pendidikan adalah perjuangan.

 

Pendidikan dan perjuangan bak dua sisi mata uang. Saling melengkapi dan sama-sama mempunyai arti masing-masing. Seribu langkah diawali dengan satu langkah pasti. Langkah nyata pertama Sutarto Hadi ketika mencalonkan diri sebagai rektor Universitas Lambung Mangkurat. Dan puji syukur impiannya tercapai. Seiring berjalannya waktu berkat sentuhan tangan dinginnya ULM mengalami kemajuan yang signifikan. Keinginan ULM menjadi universitas yang unggul serta agar semakin dikenal oleh khalayak umum dilakukan dengan cara yang antimeanstrem. Awal terpilihnya dia (Sutarto Hadi) sebagai rektor ULM dibayar dengan nazar berjalan kaki sejauh 41 KM dari Banjarmasin ke Banjarbaru. Dan menjadi kabar utama Koran Banjarmasin post. Sesuatu yang aneh namun berdampak baik. ULM menjadi lebih dikenal masyarakat.

 

Barangkali sejauh ini Anda masih bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya Sutarto Hadi tersebut? Baiklah saya akan ceritakan latar belakangnya. Dia lahir dari latar belakang keluarga pendidikan (guru). Tak heran darah pendidikan dari keluarganya turun ke dia. Merupakan alumnus Universitas Lambung Mangkurat FKIP dan melanjutkan study S2 nya di UGM mendapat beasiswa S3 nya di negeri kincir angin (Belanda). Bidang fokus keilmuannya yaitu Matematika.

 

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata Matematika? Barangkali ada yang yang beranggapan bahwa sebuah pelajaran yang sulit dipahami, dan sukar untuk dijawab. Mata pelajaran Matematika dianggap sulit dan menakutkan bagi sebagian orang karena harus menyelami rumus, simbol dan angka serta terkesan abstrak yang membuat seisi kepala mendidih. Sutarto Hadi hadir untuk merekonstruksi stigma yang melekat pada guru- guru yang ada di Indonesia dengan indoMath Study-nya yaitu rancangan program pelatihan bagi guru-guru matematika di Indonesia untuk memperkenalkan mereka dengan teori baru, yaitu Pendidikan Matematika Realistik (PMR). Inovasi dalam pembelajaran matematika di Indonesia ini dilakukan karena selama ini praktik pembelajaran matematika di Indonesia cenderung mekanistik. Artinya siswa tidak di berikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai persolan rill sebelum mereka melangkah ke tahap yang formal.

 

Contoh klasik yang sering digunakan adalah menyelesaikan sistem persamaan linier. Toyo membeli 2 buku dan 3 pensil seharga 16 ribu rupiah. Sementara Yoni membeli buku dan pensil di toko yang sama. Ia membeli 3 buku dan 4 pensil seharga 23 ribu rupiah. Berapakah harga satu buku dan 1 pensil? Sebagian besar guru akan menjawab soal itu dengan menggunakan persamaan linier. Jawabannya, harga buku 5 ribu rupiah, dan harga pensil 2 ribu rupiah. Menggunakan sistem persamaan linier membawa kita pada penyelesaian soal tersebut.

 

Namun, tujuan pembelajaran matematika tidak hanya sekadar melatih siswa secara mekanistik menggunakan rumus matematika, tapi bagaimana anak didik dengan senang hati melakukan eksplorasi dengan cara mereka sendiri, dengan simbol dan notasi yang mereka buat sendiri. Artinya, dengan cara merajut empati dan merebut hati siswa/i seperti ini, kita mendorong mereka untuk kian menemukan kembali (to reinvent) matematika yang telah lama mati suri.

 

Pembelajaran matematika yang ramah terhadap siswa karena dibangun dari dunia nyata yang kontekstual. Artinya, karena yang kita hadapi itu manusia yang punya rasa dan hati, maka cara penyampaiannya pun mesti dengan cara yang manusiawi, realistik dan simpatik. Sistem pendidikan di dalam kelas kurang simpatik dan terkadang sedikit tidak humanis. guru menyampaikan materi seringkali memakai cara yang dapat menjatuhkan mental anak: mencubit, menjewer, bahkan menghujat kata bodoh pada peserta didik jika tidak mampu menjawab soal yang diberikan. Ini yang selama ini terjadi. Guru sebagai panutan apa pantas seorang yang diguguh dan ditiru memakai cara yang tidak humanis terhadap siswa. Diperparah lagi jika para guru yang buta calistung (baca, tulis, hitung). Seorang guru dituntut melek iptek dan terus selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya. Sebelum murid cakap, guru harus piawai terlebih dahulu. Agar guru berdaya menularkan ilmunya.

 

Celakanya dunia pendidikan di Indonesia terutama Universitas terletak pada anti memakai tenaga pengajar asing. Di era globalisasi seperti sekarang ini menutup diri bukanlah jalan yang baik. Universitas di Indonesia sudah selayaknya menyediakan anggaran yang memadai untuk merekrut dosen asing yang andal dan sesuai dengan program unggulan masing-masing. Tujuannya agar tercipta lingkungan belajar yang efektif dan nantinya mampu menyerap ilmu dari apa yang diajarkan. Yang menjadi titik penting kehadiran dosen, bahkan rektor asing nantinya tidak seharusnya disikapi dengan emosional. Seolah-olah bangsa ini akan lenyap dari muka bumi dengan masuknya tenaga ahli dari luar.

 

Sesekali kita perlu berkaca pada sejarah Baghdad Irak yang pernah menjadi pusat peradaban dunia. Pada masa khalifah Al-Manshur memerintahkan penterjemahan buku-buku ilmiah dan karya-karya sastra dari berbagai negara besar pada masa itu. para peminat ilmu dan kesusastraan pun diundang ke Baghdad. Itulah sebabnya kota ini dikenal sebagai kota intelektual dan merupakan professor masyarakat islam serta menjadi pusat peradaban dan kebudayaan tertinggi di dunia.

 

Sutarto Hadi telah menarasikan Membingkai Bayang-Bayang dengan sistematis dan bahasa yang segar. Sikap kritis terhadap dunia pendidikan di Indonesia perlu ditiru oleh civitas akademika yang lain: semangat yang tidak pernah padam, kerja keras dan perjuangan demi terciptanya dunia pendidikan yang unggul yang nantinya akan mendongkrak sumber daya manusia yang semakin hebat dan bermartabat.

 

Fahrus Refendi. Penulis lahir di Pamekasan Madura dan saat ini merupakan mahasiswa Universitas Madura Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: