Topbar widget area empty.
Pohon Nyiur Yang Berpesta di Ambang Pintu cover Nyiur Tampilan penuh

Pohon Nyiur Yang Berpesta di Ambang Pintu

Puisi Maulana Hanif

 

 

Kepada Hibrizah Maulidiah

Oleh: Maulana Hanif

 

Dalam doa

Kau menjelma seperti Rumi

Yang menari dalam lingkaran tasbih

Dalam doa

Kau ibarat gumpalan asap

Yang mengantarkan dzikir hujan

Kepada tubuhku yang kerontang

 

Dalam doa

Musyafir menyusuri perjalanan

Menangis di ujung karang

Tubuhnya pucat

Darahnya berceceran hingga ke tepi danau

 

Dalam doa

Namamu kupahat dalam hati

Namamu adalah tanduk

Bagi kemarau dan perindu malam

 

 

 

 

Annuqayah

Oleh: Maulana Hanif

 

Kusandarkan kegetiran di atas jiwamu

Lalu kau bisikkan mantra-mantra di antara huruf athof dan huruf jir

Dentuman nadhom alfiah mengajakku berlabuh dalam gumpalan air matamu

Bersama pembisik musim dalam tubuhmu

 

Sungai-sungai mengalir deras dalam jantungku dan jantungmu

Sementara perahuku tenggelam pada sebuah perjalanan tengah malam

Membelah langit dan memecah Alif ma’rifatmu

Kekasih, laksana kobaran api yang membakar kerinduan sang penyair

Darahku menjadi kerikil  sebab puisiku tak sempat membuatmu menggigil

 

Sungai-sungai mengalir deras dalam jantungku dan jantungmu

Aku mabuk dengan anggur yang kau cipta dari lesung pipimu

Tubuhku kerontang juga mataku gersang dalam badai

Sungai-sungai mengalir deras dalam jantungku dan jantungmu

Adalah candu bagi dzikir penyair

 

 

 

 

Suatu Malam di Tengah Laut

Oleh: Maulana Hanif

 

Aku berlayar dalam kegelapan

Mengitari maut dalam kapal

Tak ada teman

Hanya kabut asap awan hitam mengerikan

Di setiap sudut pelabuhan

Dalam kapal tak ada yang menjual kebaikan

Orang-orang sibuk mengobral janji

Sampai ada yang menukar diri

 

 

 

 

Pohon Nyiur Yang Berpesta di Ambang Pintu

Oleh: Maulana Hanif

 

Saban malam ada yang menabuh lesung hikayat kematian

Tentang  penyihir di suatu tempat yang nyinyir

Semua tenggelam dalam puisi serta mantra mantra

Tentang pohon nyiur dan siwalan

 

Di sini tak ada ladi gelak tawa

Hanya gumpalan darah dan air mata yang bermakmum pada kesepian

Ke mana langkah kaki akan berpijak

Bukankah malam membawamu pada kepekatan

 

Dari ujung tanah garam

Tarian pohon nyiur berlenggok

Kembang babur mengharumi lautan

Anak-anak mengais luka disekujur tubuhmu yang hampa

 

Jangan pergi sebelum aku mencicipi

Air matamu yang sendu

 

Maulana Hanif. Lahir di Sumenep, Madura. Alummi Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Utara dan sekarang masih melanjukan studinya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengambil konsentrasi Aqidah dan Filsafat Islam. Beberapa karyanya terkempul dalam antologi seratus penyair islam nusantara (Yogyakarta 2018),  Bawaslu (Jawa Tengah 2018)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*