Topbar widget area empty.
Sepi Yang Terhidang sepi terhidang Tampilan penuh

Sepi Yang Terhidang

Puisi Wahyu Hidayat

 

 

Ada Perpisahan

Oleh: Wahyu Hidayat

 

lalu kesakitan ada, sewaktu

perpisahan kuning daun

ada misteri di balik itu gugur

perpisahan luruh

angin-angin seperti malaikat

memetik dedaunan

: pun luruh hilang ruh

 

aku hanya melihat

sepasang tangan melepas genggam

menghapus peluk-kecup

siang pada malam

setiap menyebut langkah, yang

ada hanya sejauh pergi

 

ada yang berlarian seperti

hutan dan hujan yang saling seteru

berkejaran di lautan pepohon

dan yang sampai

ialah cekam perpisahan

 

lintas waktu adalah menuju tua

beribu pagi dikabar bekisar

: menyiar tanda-tanda

kokok yang lain, seperti terompet

 

ke mana arah perpisahan?

tak mungkin kita mundur ke

wajah bujang atau

kisah yang amat gadis

 

barangkali nama-nama

lekas beringsut ke

segunduk tanah tubuhku-mu

 

“aku hanya melihat

sepasang bayang-bayang

memenggal rindu yang pecah

waktulah yang tahu

perihal catatan isya. –pun

bayang-bayang hitam itu

memberimu hening

: kau menyelam ke musim sepi

ke cuaca tangis!”

 

Januari—September, 2019

 

 

 

 

I s t i g f a r

Oleh: Wahyu Hidayat

 

1/

pun meludahi hutan-hutan

meniup gunung-gunung dan

menginjak-injak nalarnya sendiri

: a s t a g f i r u l l a h

 

petentengan di gang pasar

menenggak tuak neraka

bakar duit di pinggang malam

sampai pagi jadi Antartika

: a s t a g f i r u l l a h

 

lautan kucuri ikannya. kecap

jadi encer. pelangi kehilangan

warna dan bidadari di bawahnya

kausangka siapa lagi

yang mandi? –akukah itu?

: a s t a g f i r u l l a h

 

2/

aku main api, orang-orang yang

sulut; orang-orang main air,

malah mataku yang

kebanjiran. pun kita lebat khilaf

: a s t a g f i r u l l a h

 

meminta maaf saban hari

seperti mandi seratus kali–

aku meminta, engkau meminta

kalian meminta-minta

(kita cuma peminta-minta maaf

hanya pada-Nya!)

 

10.2019

 

 

 

 

 

Sepi yang Terhidang

Oleh: Wahyu Hidayat

 

 

pun sepi nganga pada ruangku

setengah hati menyakiti diri sendiri

tiada sapa yang bertutur lembut

 

ini ruang seperti mengajar kesendirian

semisal mati yang benar-benar sendiri

 

di lingkar meja yang juga sepi

terhidang puisi: semangkuk lengang

segelas cemas dan lauk hambar

 

pecahan kaca, pecahan rahasia serak

hilang kisah. remuk hilang kasih

 

bayangmu, bayang-bayang sepi di

muka dinding. –wajahmu makin

tirus ke ujung selat

 

ditelan hanyut. menanggalkan sesaji

bimbang: sehidang bayang-bayang

 

01—11.2019

 

 

 

 

Masuklah ke Dalam Rumah

Oleh: Wahyu Hidayat

 

lalu kita hikmati wangi pagi

di ini taman, berjatuhan butir-butir

kisah cinta dan rindu.

melulu engkau yang kusebut di

malam yang amat ranum

doa-doa kulayarkan serupa kapal

ke luas kabul dari-Nya

 

kita sama-sama pandangi hujan di

luaran. –pun pelangi hinggap

di perosot alismu itu.

matamu tumbuh keyakinan

kita bakal bergandengan tangan

menembus panjang jalan

 

”engkau bakal jadi rusuk setiaku,”

desisku. –kau hanya menutup muka

dengan bebunga hasil petikan kita

 

wajahmu merah mawar,

wangi pelangi, dan bening pagi

biar kita saling lirik di kejauhan

 

puisi kutitip di sayap merpati

“engkau mesti pahami kitab suci

dan pandai meminta-Nya

biar cinta jerih moga sebagaimana doa

 

baca puisiku yang menarasikan

pertemuan mahabunga

 

kita saling sanding (kelak). di sepasang

kursi itu kita saling cubit

saat gerimis turun tipis, berikut pelangi

kita kekalkan ini cinta meski ujian

menginjak-injak kisah

masuklah ke dalam aku (rumahmu)”

 

: wajahmu yang senja; engkau sebagai

degub di ini dada. aha!

 

September—November, 2019

 

Wahyu Hidayat, berasal dari Lampung. Buku terbarunya yang terbit di tahun 2019 adalah Ozlemli Olum. Sering memenangkan lomba cipta puisi umum dan nasional. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO), Lampung.  Tinggal di Dusun Purwosari, Desa Ratu Abung, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. IG: Awiyazayan, FB: Wahyu Hidayat.

 

Foto sampul oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*