Topbar widget area empty.
Serangkaian Kata yang Mungkin Tak Ingin Kamu Baca II Cover Emron Sianturi Tampilan penuh

Serangkaian Kata yang Mungkin Tak Ingin Kamu Baca II

Puisi Emroni Sianturi

 

 

 

06

 

Setelah melewati malam panjang, mengenaskan untuk dikenang. Gadis dengan dandanan kesepian: meminta angin berembus, kibarkan selendang hitamnya. Di bibirnya darah menempel, sepuluh jemari coba gapai rembulan, dua bintang hinggap di kelopak mata, berbinar-binar, seperti ingin jatuh pada aliran sungai buatan.

 

Ia gadis yang tabah, sebagaimana sabda agung menggariskan namanya. Diam dan merajut kesepian: suatu saat nanti cahaya putih menyinari sepenggal sisa jalannya.

 

Kalibuntu, 2019

 

 

 

07

 

Tiba-tiba terdengar seperti desis suara ular. Dari telinga kiri, telanga kanan, sama saja tiada bedanya. Perlahan, entah kesurupan, atau berwajah kesepian. Gadis pemilik sesal membongkar almari sunyi. Hening tercipta setelah detik berlalu, menit menuju, per-jam belum sampai.

 

Seonggok buku, kertas-kertas, pecahan waktu, gantungan rindu, juga debu-debu meluncur—menyapa jantung—melompati hidung. Dengan lima jari ditambah lima jari, menggarit cepat amukan sepi. Dirampasnya dua buah buku diary diempit ke lorong sepi. Di sanalah antara bola mata, degup jantung, hati yang kembali melambung. Sebuah judul terlampir di samping tergeletaknya kopi hampa.

 

Gadis pun melamun sepersekian waktu, bongkahan kata-kata melambung sampai ke angkasa. Dan katanya, “Kesepian akan kugadaikan di kedai kopi”.

 

Kalibuntu, 2019

 

 

 

08

 

Hari sabtu kelabu, atau hari yang merindu. Dibalik jendela waktu, gadis berselendang ungu menunggu kata temu. Tubuhnya mendadak beku, organ tubuh seperti tangan dan kaki: mati suri. Bola mata setia menanti: air mata hujan, bening, dan mencoba jatuh ditahannya sekuat kedipan mata.

 

Jari-jemari, garis-garis kotak di tubuhnya. Dihitungnya dari atas ke bawah, berganti ke samping dan kembali lagi dari atas ke bawah, seperti berzikir, mengulang kata mati, juga janji yang tercipta berasal dari perpaduan bibir kekasih. Percaya, atau memang jantung tak lagi berkongsi dengan dada. Kata-kata akhirnya menjadi belati di tangan kirinya dan bersiap menusuk mangsa, atau berhenti di jantung sendiri.

 

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di jantungnya. Gadis pun terperanjat, melompat hati-hati dari kesepian hari sabtu. Hujan mengguyur pelipisnya, semakin deras genangan waktu tertimbun di dua kaki. Reda, dan pelangi memantul dari biji matanya. Aroma hujan di tubuhnya adalah kenangan, sementara tawa kembali menghias, berakar dari jantung, bunga di wajahnya, dan menjalar ke seluruh tubuh lainnya: gadis pohon kembali bersemi.

 

Kalibuntu, 2019

 

 

 

09

 

Berangka-angka hari dihitungnya jari-jemari. Jemari ibu, awal tertimbunnya rindu. Jemari telunjuk, mata kata mulai kantuk. Jemari tengah, degup jantung terengah-engah. Jemari manis, perpaduan antara rasa kismis dan bau amis. Jemari kelingking, orang-orang seperti mata pancing, sedang gadis macam ikan terabai nafsu kucing.

 

Dan keesokan harinya, gadis pun menanggalkan jejak waktu. Sepasang sayap yang berasal dari panjatan doa ibu; menyepih terbawa angin lalu. Kebencian tentang gigil dan kata-kata yang berbelok makna, melompat-lompat menjangkau pantat, salah alamat! Kasih sayang menunggal, seperti dipenggal, sisa tulang, mainan anjing kesepian.

 

Gelisah, resah di dada, “Katanya, surga bermuara dari telapak kaki ibu?” Pertanyaan sepi memantul-mantul di dada ibu. “Tercium seperti anak hilang, kembali datang berwujud bangkai. Tiada gerimis dari mata ibu” protesnya. Namun, hujan kerap jatuh setelahnya.

 

Kalibuntu, 16/06/2019

 

 

 

10

 

Terasa lejar, jemari mengutakatik tombol waktu. Layar kehidupan terpampang depan mata. Garis lurus, garis simpang, garis bengkong, garis-garis, juga pengaturan jantung seperti berada pada sebuah mouse yang digenggam musuh. Sekehendaknya saja memainkan kata, meluncur dari ketikan di microsoft word, kemudian disimpan dalam dokumen acak-acakan.

 

Dugaan hidup bergantung pada microsoft yang lain. Kadang meraba; mencari hal genit terkemas di dokumen masa lalu. “Tombol mana lagi yang ingin kau pencet?” Goda gadis; menahan amarah berkelipat di dada. Jantung berdenyut bak nada lagu, kelihatan mendung di garis mata, gerimis jatuh di aliran pancuran mata. “Bu, bilangkan. Perawan sepertiku jelas laku!” Gadis pun melompat ke bilik kamarnya, mengunci pintu sampai dua kali bunyi kunci.

 

CPU miliknya ditendang, LDC satu-satunya dilempar. Gedor-gedor pintu diacuhkan. Sekali lagi, kelihatan mendung membias hujan berkelipat cepat. Tanpa sadar, HP di sampingnya bergetar. Pesan singkat dari degup jantung, “Aku… (cinta) padamu…” Gadis pun membanting tubuhnya. Kasur sekeras apa pun jadi lembut tiba-tiba, lalu sungai mengalir di bawah kelopak mata.

 



Kalibuntu, 24 Juni 2019

 

Emroni Sianturi. Lahir di Probolinggo, 06 Desember 1995. Tamatan MA Nurul Islam Kalibuntu dan bergiat komunitas Warna Sastra. Beberapa karyanya mulai tersiar di media masa, juga di buku antologi puisi bersama. Serangkaian Kata yang Mungkin Tak Ingin Kamu Baca, yang pertama, diabadikan di blog: catatan1anak2pantai.blogspot.com. Bekerja sebagai wiraswasta dan tinggal di Dusun Nambangan, Desa Kalibuntu, Kec. Kraksaan, Kab. Probolinggo. Email : Rsianturi0612@gmail.com

 

Foto sampul oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 6 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*