Topbar widget area empty.
Syair Kelabu cover syair kelabu 2 Tampilan penuh

Syair Kelabu

Puisi Ahmad Rizki

 

 

Biarlah aku menjadi diriku

Oleh: Ahmad Rizki

 

Sebelum semuanya hancur,

Kekasih, biarlah aku menjadi diriku

Yang menjadikan duka dan bahagia bersatu

Mendambakan hikmah pada semua yang dilebur.

 

Kemudian cinta kita pecah berkeping-keping,

Laksana kaki berjalan di atas bara api

Menahan dendam, menyimpan debu kenangan

Lalu; semua kembali, melanjutkan citra pada mimpi di siang hari

Mencari cahaya pada matahari

Memuja nelangsa

Atau berdiam bersama haluan, meluaskan asa pada langka

Merepresentasikan cita-cita saat kita bersama,

Dan aku menjadi diriku yang telah setia pada janji yang lama.

 

2020

 

 

 

Tiada

Oleh: Ahmad Rizki

 

/

Kian terasa aroma langkah kaki yang tiada,

Jejak waktu membekas dalam ketakutan nostalgia

Semerbak kata-kata yang lalu, seraya menambahkan angan

Berita duka malam ini, adalah nyata dan menyengsarakan.

\

Lalu, aku terjerembab rasa rindu

Mengkaji tiap detik masa lalu

Mengeja angin pada hati yang ingin

Menerjemahkan semua pandang, tetaplah engkau yang ku ingin.

/

Kian terasa setelah engkau tiada

Tiada lagi pijar matamu yang lugu,

Gincu merah yang membalut bibir indahnya

Dan kini hanya semua rasa yang memaksa bersatu.

\

Secerah impian yang usang,

Kita pun berjalan menyusuri gelapnya harapan

Menerka masa depan yang entah

Atau merelakan semua yang sudah tiada.

 

2020

 

 

 

Malam gelap

Oleh: Ahmad Rizki

 

Malam gelap gulita,

Senyumnya hilang begitu saja

Kabut malam menutupi wajahnya

Sedari rindu yang berbisik dalam jiwa.

Tiada ku temukan lagi kisah itu,

Tiada arah yang mengantisipasi kelu

Selembut rambut hitamnya

Mengukir sejarah dalam nirwana

Memadu cerita dalam malam yang berduka.

 

Kemudian cakrawala terbujuk,

Memuja dingin dalam riuh kehampaan

Setelah meluruskan arah yang lain

Aku kembali menepi dalam angan yang memuai kantuk.

 

2020

 

 

 

Syair kelabu

Oleh: Ahmad Rizki

 

Tiada ku lihat senyum mu hari ini,

Di atas meja makan aku bertanya lagi:

-Akan bagaimana aku mencari mu kekasih?

Karena gejolak rindu sudah tak terbendung lagi.

 

Kembali ku sanangsinawang wajahmu

Seraya merasa ada yang berbeda:

– Mengapa engkau terlalu tabu?

Padahal cinta sudah benar-benar ada.

 

Kepercayaan mulai hancur,

Kita telah sampai puncaknya

Aku menunggu jarak pada cinta

Engkau berdiam diri; memperlihatkan semua kisah yang di kubur.

 

 

2020

 

Ahmad Rizki. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang di Tangerang selatan. Penikmat sastra dan berhasil menerbitkan kumpulan Puisi (Sajak Asbak,2019). Instragram: ah_rzkiii Email: ahrizki048@gmail.com.

 

Foto cover oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: