Topbar widget area empty.
Fakta Dibalik Bullying pada Anak cover bullying Anak Tampilan penuh

Fakta Dibalik Bullying pada Anak

Opini Nur Alawiyah Khaerunnisa

 

 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sejumlah pelanggaran hak-hak anak di bidang pendidikan. Pelanggaran hak anak didominasi oleh kekerasan dilingkungan pendidikan itu sendiri yang terdiri dari kasus kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual dan bullying. Data KPAI tahun 2019 dicatat jumlah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying mencapai 67%.

 

Kejadian anak yang mengalami bullying di Indonesia meningkat belakang ini baik sebagai pelaku atau sebagai korban. Bullying digambarkan sebagai salah satu faktor risiko yang paling mudah diteliti untuk kesehatan mental dan menjadi tolak ukur kurangnya kualitas pendidikan saat ini karena banyak tindakan kekerasan yang terjadi di sekolah dan dibuktikan banyak berita di media cetak maupun media online tentang tindakan kekerasan yang banyak dilakukan oleh anak-anak baik sebagai pelaku atau sebagai korban. Bullying pada anak akan berdampak negatif terutama untuk status kesehatan emosional, fisik, sosial dan banyak hal lainnya.

 

Bullying terjadi karena beberapa faktor, di antaranya yakni faktor pribadi dan lingkungan. Perhatian dan kesadaran komunitas di sekolah dan profesional kesehatan di sekolah terhadap anak harus ditingkatkan agar lebih memperhatikan kesehatan mental bagi para korban sehingga dapat meminimalkan efek negatif pada anak. Pembuat kebijakan (pemerintah) juga perlu mempertimbangkan adanya kegiatan khusus dan penangan lebih lanjut di lingkungan sosial untuk mengatasi perilaku bullying.

 

Sejalan dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan pada anak di Cina menunjukkan bahwa status Body Mass Indeks (BMI) tidak berhubungan langsung dengan proses terjadinya bullying, akan tetap terlihat gemuk atau kurusnya seseorang lebih berisiko menjadi korban bullying di sekolah.

 

Anak yang menganggap diri mereka sedikit gemuk dan terlalu gemuk lebih mungkin menjadi korban bullying secara verbal. Penelitian dari Gong pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa anak yang kelebihan berat badan dan obesitas lebih cenderung menggertak orang lain secara fisik karena merasa lebih kuat. Selain itu, BMI memiliki hubungan yang signifikan pada perilaku bullying di sekolah untuk anak laki-laki, sedangkan status berat badan yang dirasakan memiliki peran dalam perilaku bullying di sekolah pada anak perempuan. Hasil ini menunjukkan bahwa pencegahan dan intervensi serta intimidasi sekolah harus mempertimbangkan status berat badan, serta perbedaan jenis kelamin.

 

Krisnana dalam penelitian yang berjudul “Adolescent Characteristics and Parenting Style as The Determinant Factors of Bullying in Indonesia” pada tahun 2019 menyatakan bahwa pola asuh orang tua yang mengekang anaknya menjadi salah satu dampak risiko terjadinya bullying. Jadi pola asuh orang tua sangat erat kaitannya untuk menjadi pemicu atau menjadi pencegah adanya tindakan bullying pada anaknya baik di sekolah atau di lingkungan sosial yang lain.

 

Dampak yang lebih berbahaya menurut berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli yakni adanya kemungkinan misi balas dendam yang dilakukan oleh anak yang menjadi korban bullying suatu saat dapat menjadi pelaku untuk membalas rasa sakit yang telah dialaminya di masa lalu. Hal tersebut pastinya menjadi mata rantai yang tidak ada putus- putusnya sehingga peran orang tua dalam memberikan pola asuh di lingkungan keluarga sangat berpengaruh bagi kesehatan mental sang anak itu sendiri dan pastinya memutuskan mata rantai yang dipaparkan para ahli tersebut.

 

Banyak hal yang membuat bullying menjadi tindakan bebas, perlunya pengawasan baik dari pihak sekolah, masyarakat dan keluarga sama-sama berkolaborasi untuk memperbaiki kesehatan mental anak agar tidak mengalami stress dan depresi yang membuat anak rusak secara mental. Bagaimana jadinya jika anak yang menjadi citra masa depan bangsa Indonesia sudah tidak sehat secara mental sejak dini? Bagaimana bumi pertiwi di tangan mereka kelak? Maka dari itu perlu ada kesadaran yang mendalam sebagai orang tua terutama. Banyak orang tua yang tidak terlalu peduli terhadap sang anak karena berdalih sibuk dan mencari uang di luar rumah, jadi anak tidak bisa berbagi cerita dan mencari kesenangan bersama keluarga. Anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang juga “masa bodoh” dan egois. Perlu dicatat bahwa masa pertumbuhan anak sangat menentukan karakter apa yang dihasilkan dari pribadi anak itu sendiri.

 

Peran orang tua sebagai pendidik utama bagi kesehatan mental dan penciptaan karakter anak perlu disoroti pada masa sekarang, tontonan yang baik perlu pendampingan yang khusus dari orang tua. Misi mencari nafkah harus seimbang dengan misi mencerdaskan anak baik cerdas secara intelektual, emosional maupun spiritual. Anak seperti tumbuhan yang ditanam, dan tanah itu bagaikan peran orang tua. Subur atau matinya tumbuhan itu bergantung tanah yang digunakan menanam. Jangan abai terhadap pertumbuhan anak, karakter saat dewasa sudah sulit diubah seperti akar yang mengakar sangat dalam di dalam tanah. Sejak dini, sejak saat ini prioritaskan pendidikan terhadap anak terutama di lingkungan keluarga. Pribadi anak di masa depan bergantung pada apa yang dia dengar, dia lihat, dia alami di masa kini.

 

 

Penulis wanita ini bernama Nur Alawiyah Khaerunnisa, nama pena Luqyannisa. Lahir di Bulukumba, 15 Februari 1996. Alumni Kampus Merah Universitas Hasanuddin Makassar jurusan Ilmu Keperawatan (Ners) dan juga aktif di organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Makassar. Senang menulis opini, puisi dan cerpen, aktif bergerak dan berkarya. Penulis tinggal di alamat BTN Dwi Ratu Pesona Mas, Sudiang, alamat email Nhysamk@gmail.com.

 

Photo by Kat Jayne from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: