Topbar widget area empty.
Literasi Ranjang cover literasi ranjang Tampilan penuh

Literasi Ranjang

Opini Fahrus Refendi

 

 

Dewasa ini peristiwa mendongeng bisa dikatakan senasib denganĀ  tumbuhan dan hewan-hewan yang diambang kepunahan. Ya, kata punah saya pilih lantaran para orang tua sudah mengesampingkan literasi ranjang (dongeng sebelum tidur) dengan banyak dalih: tidak punya waktu, cucian banyak, nonton dangdut lah dan yang lebih ironis lagi adalah asyik dengan dunianya sendiri dengan gadget yang selalu menempel di tangan. Payah sekali bukan? Sementara di pihak lain si buah hati yang miskin pengalaman terus saja mengalami krisis bacaan dan cerita. Lalu, seberapa pentingkah literasi ranjang bagi tumbuh kembangnya si buah hati?

 

Di Eropa sana, iklim literasi tak ubahnya sebuah virus yang menjangkit setiap individu, literatur yang pernah saya baca mengutarakan bahwa, literasi di sana berjalan, hidup dan berkembang melalui kafe-kafe. Artinya, sebuah kafe bukan hanya pasif akan tetapi sangat masif adanya. Kafe bukan hanya dijadikan arena gastronomi akut, melainkan juga berfungsi sebagai epidemi keilmuan yang terus menjalar.

 

Hipotesis saya begini: jika iklim literasi sudah berada di taraf sosial (kafe) maka hal itu merupakan rujukan dari cakapnya literasi rumahan (baca buku). Sedangkan unsur primer dari hal itu semua saya kira bersumber pada literasi ranjang yang acapkali sering ditunaikan dari para orang tua ke anaknya semasa kecil. Ada hukum kausalitas yang bermain di sana.

 

Seorang anak tak ubahnya seperti padang tandus yang kering-kerontang. Sebagaimana padang tandus yang kering, yang mereka butuhkan hanyalah seberkas tirta yang dapat mengobati dahaganya. Kekurangan si anak yang minim segala hal itu justru yang jadi problematika. Di lain hal, anak juga kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada orang tuanya meski yang mereka tanyakan kebanyakan nyeleneh dan tak masuk akal. Namun pada taraf inilah kecakapan para orang tua diuji. Terkadang banyak orang tua tidak menggubris pertanyaan si anak, malah ada sebagian yang memarahi si anak lantaran pertanyaannya itu. Saya kira diskursus ini yang perlu dikaji ulang oleh para orang tua.

 

Membangun iklim literasi ranjang saya kira menjadi hal primordial dengan catatan: proses pembelajarannya harus menyenangkan. Situasi belajar yang kaku barangkali sangat menghambat mobilisasi belajar. Dengan kata lain, kita sadar penuh bahwasanya dunia anak penuh dengan imajinasi, dan bermain. Nah, berangkat dari hal itu, bagaimana menciptakan situasi belajar sambil bermain yang disukai oleh anak-anak.

 

Saya kira dunia sastra bisa menjadi alternatif pembelajaran yang menyenangkan, karena di sana para orang tua bisa menyelipkan pesan-pesan moral dari cerita yang disampaikan. Cerita-cerita bisa berupa dongeng, fabel, dan cerita-cerita anak lainnya. Bisa juga para orang tua merancang sendiri cerita yang akan disampaikan kepada buah hatinya.

 

Narasi besar yang kebanyakan dianggap tidak penting adalah: pentingnya mencuci tangan. Kecakapan orang tua dalam menyampaikan ceritanya haruslah semenarik mungkin agar si anak tertarik pada apa yang dibicarakan, jangan lupakan juga sediakan media pembelajarannya berupa gambar-gambar dampak dari menyepelekan mencuci tangan. Contoh gamblang yang bisa diambil semisal yang terjadi pada dunia sekarang ini, yaitu tentang menyebarnya virus corona atau bisa disebut COVID 19. Jelaskan dengan runtut hal itu, terkait dengan apa itu virus, cara menularnya ke orang lain serta cara pencegahannya yang diantaranya rajin-rajin mencuci tangan. Tentunya penyampaiannya disesuaikan dengan bahasa anak-anak dan semenarik mungkin ya…..

 

Ranah sastra tidak berhenti disitu saja. Sastra yang dinamis dan statis akan terus hidup sesuai dengan keadaan zaman. Bercerita sebelum tidur (literasi ranjang) saya kira penting adanya, disamping menumbuhkan sikap kritis pada si anak, dunia sastra juga bisa menumbuhkan semangat kemanusiaan.

 

Melalui dunia sastra imajinasi seorang anak sedikit banyak akan terpenuhi, dan tidak hanya itu, melalui cerita-cerita yang disajikan, anak akan lebih peka terhadap sifat simpati dan empati, contohnya semisal si tokoh utama mengalami siksaan (batin maupun lahir) terkadang si anak juga merasakan kesakitan yang dialami si tokoh tersebut. Hal itulah yang saya kira akan menjadi tembok kokoh pembentuk psikis dan mental anak suatu saat nanti.

 

Akhirnya, Jika kita mau menarik ke belakang bahwa esensi sifat sastra itu sendiri seperti yang dikemukakan oleh Heratius terdiri dari dua hal yaitu: dulce dan utile (menyenangkan dan mendidik). Dua hal tersebut saya kira penting adanya bagi keberlangsungan hidup pada anak sebagai bekal hidup hari ini, esok dan nanti.

 

 

Fahrus Refendi Penulis lahir pada 07 Juni 1998 dan merupakan mahasiswa Universitas Madura Prodi Bahasa & Sastra Indonesia. Beberapa karyanya telah dimuat di media online maupun cetak. Kini menetap di Pamekasan Madura. Facebook: Fahrus Refendi Ig:fahrusrefendi.

 

Photo by Lina Kivaka from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: