Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Pemberdayaan Perempuan Tenun Singengu di Kota Padang Sidimpuan
Pengembangan Ekonomi Kreatif  Berbasis  Pemberdayaan  Perempuan Tenun Singengu di Kota Padang Sidimpuan cover esai Edrida Tampilan penuh

Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Pemberdayaan Perempuan Tenun Singengu di Kota Padang Sidimpuan

Opini Edrida Pulungan

 

 

 

Indonesia memiliki keanekaragaman warisan budaya yang sangat memesona. Hal ini tercermin dalam berbagai karya yang sangat kaya dengan nilai estetika, filosofi, dan ekonomi. Salah satu di antaranya yakni kerajinan tenun, yang masuk ke dalam kelompok industri kreatif.

 

Dalam bukunya Future Shock, Alvin Tofler (1970) membagi gelombang peradaban manusia dalam tiga gelombang, yakni gelombang ekonomi pertanian, gelombang ekonomi industri, dan gelombang ekonomi informasi. Setelah tiga gelombang ini, lantas muncul gelombang ekonomi keempat, yakni gelombang ekonomi kreatif. Kemudian John Howkins (2001) mengemukakan perihal kehadiran gelombang ekonomi kreatif tersebut. Kesadaran ini pertama kali terjadi pada tahun 1996 ketika ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan mencapai US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui ekspor dari sektor lainnya, seperti otomotif, pertanian, dan pesawat terbang. Gelombang ekonomi kreatif  mulai tumbuh dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.

 

Melihat perkembangan ekonomi kreatif yang semakin pesat dan kesadaran tentang ekonomi kreatif yang terus tumbuh maka banyak negara yang mengembangkan ekonomi kreatif, salah satu di antaranya Indonesia. Bahkan, perkembangan industri kreatif ini menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi Indonesia yang diperlukan untuk mencapai target pembangunan jangka panjang.

 

Ketersediaan sumber daya manusia dalam jumlah besar dapat ditransformasikan menjadi orang-orang kreatif yang akan menciptakan nilai tambah yang besar terhadap sumber daya alam dan budaya yang melimpah ketersediaannya. Penduduk yang besar, dalam hal ini masyarakat kelas menengah yang jumlahnya terus meningkat merupakan pasar karya kreatif yang besar di dalam negeri. (Pangestu, 2008).

 

Kerajinan tenun yang masuk dalam salah satu dari 14 subsektor industri kreatif di Indonesia merupakan daya, cipta, dan karsa masyarakat Indonesia yang mendapatkan apresiasi baik di Indonesia maupun dunia internasional. Warisan budaya yang sudah turun-temurun, hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya yakni dari kota Padang Sidimpuan, kota dagang dan jasa yang sedang berkembang di Provinsi Sumatera Utara. Disinilah cerita itu akan kita mulai

 

Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2019, jumlah penduduk  kota Padang Sidimpuan adalah berkisar 198.809.000 dengan tingkat kemiskinan 315.647.000 dan tingkat literasinya masih kurang. Sehingga perlu pemberdayaan ekonomi dan upaya entrepreneurship dalam meningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Padang Sidimpuan melalui program pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan produk ekonomi kreatif. Salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat (Community Development).

 

Seperti perlunya pemberdayaan perempuan komunitas pengrajin tenun Desa Aek Bayur, Batunadua, Kota Padang Sidimpuan, Provinsi Sumatera Utara yang didirikan oleh Bapak Kasim Nasution yang menyelesaikan perkuliahan pada salah satu universitas di Sumatera Barat pada tahun 1950. Awalnya usaha ini didirikan di Desa Singengu Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal dan mengandalkan satu motif kain songket yaitu motif lurik. Setelah Bapak Kasim Nasution wafat pada tahun 1980. Singengu Textile dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Bapak Parlaungan Nasution Singengu Textile telah berpindah-pindah lokasi sebanyak 3 (tiga) kali, hingga saat ini lokasi Singengu Textile telah menetap di Desa Aek Bayur Kota Padangsidimpuan. Seringnya lokasi Singengu Textile berpindah-pindah diakibatkan berbagai macam faktor diantaranya adalah faktor lokasi yang sempit untuk berproduksi.

 

Singengu Textile berkembang pesat serta banyak mengeluarkan berbagai motif yang baru. Motif yang pertama kali dikaluarkan adalah motif Sibaganding. Kemudian disusul oleh motif baru lainnya seperti motif bintang, motif pucuk rebung, motif motipaya dan motif spasi iyo-iyo. Diantara motif yang dikeluarkan, motif Sibaganding merupakan motif yang menjadi andalan usaha ini. Dalam berproduksi Singengu Textile memiliki 9 (sembilan) buah alat tenun bukan mesin dan 4 (empat) orang karyawan.

 

Untuk mendapatkan selembar tenun bukanlah hal yang mudah namun mengerjakannya dengan hati dan tangan karena butuh esabaran, ketekunan dan kehati-hatian, karena menggunakan alat tenun bukan mesin  (ATBM). Setiap kain tenun songket memiliki waktu pengerjaan yang berbeda. Hal ini tergantung pada ukuran yang akan diproduksi si pengrajin.

 

Dalam hal ini komunitas pengrajin tenun sebagai aset potensial yang merupakan aset dan potensi kreatif yang bisa terserap dalam lapangan kerja.  Program ini memberikan peluang dan menjadi sumber pendapatan daerah  dan negara dan apabila pasar tenun dimanfaatkan dan dikelola secara terarah dan terencana.

 

Pengrajin tenun Singengu merupakan kelompok pengrajin tenun yang ada di desa Aek Bayur Padang Sidimpuan. Kelompok pengrajin tenun berjumlah 10 orang Produk unggulan tenun Singengu adalah tenun yang menggunakan warna alam yang tidak luntur dan tebal. Produksi tenunnya dalam sebulan bisa dikerjakan sebanyak 25 lembar. Untuk menghasilkan 1  (satu) lembar kain tenun diperlukan waktu 2 bulan. Padahal pasar lokal masih terbatas sehingga perlu  pengembanan agar dapat berkontribusi meningkatkan pasar nasional secara keseluruhan.

 

Kaum perempuan kebanyakan menjadi penopang ekonomi keluarga untuk menambah penghasilan. Banyak pengrajin perempuan rentan terhadap kemiskinan. Mereka mengalami hambatan dalam memasarkan dan mengakses sumber daya ekonomi. Untuk menghilangkan hambatan tersebut perempuan harus memiliki keterampilan dalam menghasilkan tenun yang berkualitas.

 

Mencermati hal tersebut, maka perlu upaya yang dilakukan dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis pemberdayaan masyarakat. Hal ini dilakukan melalui penguatan kapasitas kelompok perempuan dan pembangunan rumah tenun sebagai pusat pelatihan untuk menenun. Kekuatan pemberdayaan  komunitas sangat penting sebagai dasar pengorganisasian dan pengembangan struktur-struktur sosial dan ekonomi alternatif yang dilandasi kesadaran masyarakat.

 

Pemberdayaan komunitas juga dapat diukur dengan menggunakan lima parameter Womens Empowerment dari Sarah Longwe, yakni: (a) Kuasa/kekuasaan, (b) Partisipasi, (c) Kesadaran kritis, (d) Akses atas sumber daya, dan (e) Kesejahteraan. Pemberdayaan ini pada gilirannya adalah upaya untuk mengubah atau meningkatakan kondisi dan kesejahteraan hidup yang lebih baik.

 

Pengembangan ekonomi kreatif di kota Padang Sidimpuan tidak lepas dari lima elemen penting yakni pelaku utama, kebutuhan, upaya faktor penentu, dan faktor pendukung. Pelaku dalam utama model pengembangan ekonomi kreatif adalah 4 unsur yakni pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas yang saling bersinergi (quadruple helix).

           

            Untuk itu  perlu  mengapliikasikan model alternatif pengembangan ekonomi kreatif yang melibatkan empat stakeholders, yakni Pemerintah kota Padang Sidimpuan yang membuat kebijakan mendukung ekonomi kreatif  yang bertujuan membantu dan memberdayakan masyarakat, dan HIPMI sebagai lembaga swasta yang menangani promosi dan pemasaran tenun Singengu  begitu juga dengan Dewan Kerajinan  Nasional  Daerah  untuk membantu mempromosikan pasar tenun baik lokal, nasional, maupun internasional. Sedangkan Akademisi melakukan penelitian, riset, pengembangan, dan implementasi tentang model pengembangan ekonomi kreatif berbasis pemberdayaan masyarakat. Sementara komunitas pengrajin mempertahankan kualitas tenunnya dan mempertahankan kesolidan komunitasnya di tengah kompetisi.

 

 

Edrida Pulungan Lahir di Padang Sidimpuan 25 April 1982, Alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) dan S1 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan, S2 Hubungan Internasional Universitas Paramadina  dan  S2 Sosiologi FISIP UI, Serta S3 Ilmu Pemerintahan Universitas Satyagama. Pendiri Lentera Pustaka Indonesia, Trainer public speaking Group Training Northern Territory (GTNT), Australia, 2006, Jakarta. Email : edridapulungan1@gmail.comPenulis Annual Book Darwin High School, Australia 2006,  Delegasi Asian Renaissance 2011, Pemenang 10 Tahun Puisi Edisi Jerman Goethe Institute Judul “Diatas Langit Eropa, Melamarmu”. Aktif menulis opini seputar pendidikan, ekonomi, kepemudaan, hubungan internasional, lingkungan dan perempuan di media massa. Mendapatkan anugerah “Perempuan Berpresasti dan Berkarya sebagai ”Penulis Puisi Melayu dan Aktivis Perdamaian Dunia oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) pada tanggal 30 desember 2019. Sekarang bekerja sebagai Humas Sekretariat Jenderal (Setjen DPD RI), Senayan, Jakarta dan  Dosen Hubungan Internasional di Universitas Satyagama.

 

Foto oleh TH. Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*