Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Perempuan, UMKM, dan Literasi Digital
Perempuan, UMKM, dan Literasi Digital cover literasi digital 2 Tampilan penuh

Perempuan, UMKM, dan Literasi Digital

Oleh Gunoto Saparie

 

 

Tahun lalu, tepatnya 30 September-5 Oktober 2019, berlangsung  pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Women and the Economy Forum (WEF) 2019 di La Serena, Chile. Pertemuan tersebut sangat penting dan strategis bagi perempuan Indonesia karena membahas berbagai upaya untuk mendorong penguatan kemajuan perempuan dalam ekonomi.  Bukankah perempuan sebagai pelaku ekonomi memiliki potensi besar dalam berkontribusi membangun ketahanan ekonomi Indonesia?

 

Kita tahu, banyak perempuan berkiprah dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Padahal UMKM boleh dikatakan merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, yakni menyumbang PDB hingga 60,34 persen. Sektor UMKM dan koperasi mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional dalam menghadapi resesi ekonomi global, seperti yang terjadi pada 1998 lalu.

 

Data dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan bahwa UMKM memiliki pangsa sekitar 99,99% (62.9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. UMKM yang dikelola perempuan sebanyak 64,5% dari total UMKM Indonesia atau mencapai 37 juta UMKM, dan kontribusi pendapatan perempuan telah mencapai 36,7%. Sedangkan kontribusi UMKM yang dikelola perempuan terhadap PDB mencapai 9,1 persen. Sementara kontribusinya terhadap ekspor lebih dari 5 persen.

 

Peran perempuan di sektor UMKM pada umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan, seperti warung makan, toko kelontong, pengolahan makanan, industri kerajinan, dan lain-lain. Bidang ini digeluti karena keleluasaannya untuk dilakukan di rumah, sehingga tidak melupakan perannya sebagai ibu rumah tangga. Akan tetapi, pengembangan UMKM dalam konteks ini harus diletakkan sebagai usaha peningkatan produktivitas sektor publik.

 

Akan tetapi, ironisnya mayoritas perempuan pelaku UMKM memiliki keterbatasan modal, selain adanya tanggung jawab ganda. Mereka menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses pengembangan keterampilan, pengembangan produk, manajemen keuangan, tata kelola perusahaan, dan pemasaran.

 

Sesungguhnya perempuan pengusaha relatif lebih tangguh dalam menghadapi dinamika bisnis. Akan tetapi, sejumlah kendala melingkupi sehingga usahanya tidak berkembang signifikan. Para perempuan pengusaha pada umumnya minim akses terhadap informasi atau keterampilan. Mereka juga minim akses penguatan keuangan. Repotnya, para perempuan sendiri sering kurang percaya diri. Ini berarti, para perempuan pengusaha kita masih mengalami tantangan, baik dalam upaya mengakses modal maupun kesempatan untuk mendapatkan pembinaan keterampilan, seperti pengembangan produk, manajemen keuangan, tata kelola perusahaan, dan pemasaran.

***

 

Realitas yang ada menunjukkan bahwa perempuan memiliki peranan besar dalam pengembangan UMKM di Indonesia, khususnya dalam konteks pengentasan kemiskinan. Meskipun demikian, dominasi laki-laki terhadap perempuan juga masih ada. Beberapa kasus menunjukkan bahwa usaha yang semula dirintis oleh perempuan, namun setelah usaha tersebut berkembang, pengelolaan dan kepemilikan formalnya bergeser pada laki-laki. Alasannya, karena membutuhkan mobilitas yang tinggi.

 

Dalam kaitan inilah, maka peningkatan kinerja UMKM berbasis perempuan menjadi urgen untuk dilakukan. Peningkatan kapasitas manajerial berbasis gender sangat perlu, apalagi sebenarnya UMKM di Indonesia banyak yang justru digerakkan oleh perempuan. Meskipun awalnya UMKM yang dilakukan perempuan lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan untuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan rumah tangga, namun dalam perkembangannya justru menjadi sumber pendapatan rumah tangga utama kalau dilakukan secara serius.

 

Peningkatan kapasitas perempuan pelaku UMKB berbasis teknologi komunikasi dan informasi tentu saja merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Usaha literasi digital penting dilakukan untuk mengembangkan kualitas tata kelola UMKM berbasis kesadaran gender.  Oleh karena itu, pengintegrasian tata kelola UMKM dengan teknologi komunikasi dan informasi sangat relevan untuk dilakukan.

 

Dalam konteks pemberdayaan perempuan, usaha tersebut harus dibarengi dengan penyertaan kesadaran isu gender di dalamnya. Upaya ini dilakukan untuk membangun kapasitas guna memahami keberadaan media digital, pemanfaatannya,  sampai pada implikasi yang ditimbulkan. Aksi yang bisa dilakukan dalam tataran keterampilan berupa kemahiran dalam menggunakan media komputer berbasis jaringan kabel yang sangat familiar dikenal dengan internet.

 

Kita berharap, pengembangan UMKM yang didasarkan pada penerapan teknologi digital akan disertai dengan kemampuan menggunakan teknologi tersebut untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, serta membuat dan berkomunikasi dengan orang lain. Akibatnya, akan terjadi optimalisasi kinerja UMKM berbasis digital, dan memiliki perspektif gender.

 

Integrasi manajemen yang berkualitas, pengembangan sumberdaya manusia, adaptasi teknologi, kemitraan strategis dan ukuran kinerja organisasi, akan menghasilkan peningkatan produktivitas sektor publik apabila disinergikan dengan modal, tenaga kerja dan energi. Mengingat saat ini kita berada dalam era informasi berbasis teknologi, maka titik tekan peningkatan kualitas atau pengembangan UMKM diletakkan pada adaptasi teknologi.

 

Akan tetapi digitalisasi organisasi, dalam hal ini UMKM, hanya mungkin dilakukan ketika anggota organisasi tersebut sudah melek digital, yakni suatu kondisi ketika teknologi informasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini berarti, kalau kondisi ini belum tercapai, maka untuk mengembangkan UMKM berbasis digital perlu dilakukan literasi digital. Literasi digital merupakan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Upaya untuk meliterasi masyarakat berbasis digital berarti tidak sekadar mengenalkan media digital, tetapi juga menyinergikan dengan kegiatan sehari-hari yang berujung pada peningkatan produktivitas.

***

 

Memang, kemampuan individu untuk bias mengakses informasi di era digital merupakan hal penting, termasuk bagi perempuan. Perempuan yang menggerakkan UMKM hendaknya memiliki tingkat literasi digital yang baik. Sehingga, dengan demikian, pengembangan UMKM bisa dilakukan dengan optimal.

 

Penggunaan media digital potensial untuk memperkaya dan menawarkan kesempatan untuk belajar dan melakukan literasi dengan mudah. Hal itu karena menggunakan media digital memungkinkan sasaran untuk menggunakan, aktif, membangun kedekatan dan mendorong kemampuan untuk belajar.

 

Penekanan manajemen berbasis digital dilakukan pada konteks bagaimana teknologi, lebih khusus lagi teknologi informasi, memengaruhi kerja komunikasi anggota organisasi. Teknologi informasi akan meningkatkan kemampuan manajer memantau kinerja tim, memperluasakses untuk mendapatkan informasi, dan memperbanyak peluang kerja sama. Di samping itu, teknologi informasi memungkinkan anggota organisasi saling terhubung satu sama lain dengan lebih intensif, sehingga proses kerja bisa dilakukan dengan lebih efisien.

 

UMKM bisa melakukan digital marketing, misalnya. Hal ini merupakan usaha promosi UMKM dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, pribadi, dan relevan. Media digital yang dimaksud berfokus pada media-media elektronik baru yang terhubung dengan internet. Sedangkan aplikasinya bisa menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, youtube, dan sebagainya.

 

Ini berarti, perempuan diharapkan tidak hanya sebagai pemilik unit usaha, namun mereka mampu mengelola usaha mereka dengan manajemen yang sesuai dengan idealnya.  Mereka diharapkan mampu melakukan perencanaan, pengorganisasian, implementasi program, hingga melakukan monitoring dan evaluasi. Literasi digital dilakukan sebagai upaya membangun pemahaman dalam tataran pengembangan sumber daya manusia terkait dengan pemahaman akan keberadaan media digital.

 

Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah ini bisa dihubungi melalui posel gunotosaparie@ymail.com. Tinggal di Jalan Taman Karonsih, Semarang.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*