Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Perspektif Baru Kesusastraan Indonesia
Perspektif Baru Kesusastraan Indonesia cover perspektif baru sastra Tampilan penuh

Perspektif Baru Kesusastraan Indonesia

Opini Irawaty Nusa

 

 

Tanpa kemampuan melihat perspektif dengan baik, masyarakat kita akan sulit menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan dan kejutan. Bagaimana mungkin generasi muda sanggup memimpin pembaharuan, jika mereka tak punya keberanian untuk belajar melihat perspektif? Bahkan, ketika penulis senior terperangkap dalam zona nyaman, suatu saat ia akan sampai pada pernyataan “lelah” (stuck in the middle).

 

Orang-orang tua yang memenuhi kebutuhan anak, serta membekali pendidikan sastra, baik di kampus maupun lembaga-lembaga sastra, bukan berarti mereka akan menjadi penulis handal yang tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan. Tak ada artinya menyandang gelar kesarjanaan berderet-deret, kalau seorang penulis penakut, cepat menyerah, angkuh, pendengki, bahkan reaktif menghadapi suatu problema hidup.

 

Saat ini, kita semua harus menyadari, ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah dengan sendirinya. Pengetahuan dan cara pandang kita tentang sastra, dikira sudah final dan mentok. Ternyata, generasi baru banyak menawarkan paradigma tentang religiositas baru. Mereka lebih mahir melihat perspektif berkat kecakapan dan keterampilan yang dimiliki, dan generasi tua (senior) terpaksa harus ikhlas dan legowo menyarungkan karya-karyanya sebagai karya usang dan kuno.

 

Perlu diketahui, para penulis muda itu, jika terjebak kemacetan, mereka akan pintar memutar haluan untuk mencari alternatif jalan baru. Mereka tak mau menyibukkan diri untuk mengutuk jalan buntu (dead end). Tetapi, para status quo yang terperangkap dalam kenyamanan biasanya takut mencari jalan-jalan baru, takut kesasar dan tersesat di jalan buntu. Dari sejak zaman Orde Baru, mereka senangnya mengutuk jalan buntu karena mereka seringkali kadung tersesat di sana. Tak terkecuali para akademisi dan pakar bahasa, bila kurang up to date sering melakukan hal-hal yang begitu-begitu juga.

 

Kita sering mendengar istilah yang berkaitan dengan itu: anti X anti = pro. Ketika seorang sastrawan mengkritik mitologi lama yang sudah usang, mereka seringkali terjebak pada mitologi baru, yang ujung-ujungnya berhadapan pula dengan jalan buntu. Mereka enggan mencari alternatif baru untuk menemukan jalan keluar. Mereka tak mau melihat wajah Indonesia dari beragam perspektif. Inginnya terpaku pada satu titik dan satu warna saja.

 

Kiranya perlu dicamkan bagi penulis senior yang pernah menjadi anak-anak emas dewa kemenangan (Orde Baru), bahwa dalam ilmu neurologi telah ditemukan penemuan terbaru mengenai ilmu otak. Ternyata, dalam pikiran manusia terdapat sirkuit yang membentuk jalur tetap, sehingga program diri seringkali dikuasai oleh “sang master” (autopilot). Akibatnya, tanpa kemampuan berpikir pun manusia bisa sampai ke tempat tujuan yang sama dengan yang kemarin ditempuh. Dan ketika orang Indonesia ingin keluar dari jalan buntu, ada semacam inersia yang menarik kembali pada jalur yang sudah ditetapkan oleh kekuatan “sang master” tadi.

 

Nah, di sinilah perspektif baru tentang Indonesia dimunculkan, agar nasib manusia tidak seperti binatang yang terbiasa “dirantai” selama bertahun-tahun. Kemudian ketika rantai itu sudah dilepas, lagi-lagi ia meringkik ketakutan dalam menempuh hidup baru di alam merdeka, lantas minta dirantai kembali.

 

Tanpa kemampuan berpikir cerdas, bahkan tanpa adanya apresiasi sastra sekalipun, kesusastraan Indonesia tetap akan sampai di depan pintu gerbang perubahan dan peradaban baru. “Hanya masalahnya, Anda mau jadi drivers atau sekadar passangers? Kita mau jadi pelaku sejarah (kreator perubahan) ataukah hanya obyek saja dari perjalanan sejarah bangsa-bangsa?” demikian tandas penulis novel Pikiran Orang Indonesia.

 

John Steinbeck, sastrawan Amerika Latin pernah menyatakan bahwa keajaiban jarang terjadi pada mereka yang jiwanya terbelenggu dan terjajah (the caged life). Keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (danger zone). Dalam zona berbahaya itu, tentu saja ditemukan adanya zona ketakutan (panic zone) seperti dalam kasus wabah Corona akhir-akhir ini. Tetapi, untuk menghindari ketakutan dan kepanikan itu, para eksplorator telah menunjukkan adanya “zona antara”, yakni zona mempelajari, memahami, mendalami (challenge zone), sampai pada akhirnya ditemukan jalan keluar yang menentramkan, serta kaya akan ilmu dan wawasan.

 

Pada prinsipnya, perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa sekolah pada lembaga formal (baik sastra maupun jurnalistik) akan menyesatkan apabila beranggapan, setelah memperoleh ijasah dan gelar, lalu pelajaran sudah tamat dan finish. Anggapan semacam ini akan memunculkan arogansi dan keangkuhan intelektual, bahwa “aku sudah bergelar”. Bahkan, lebih parahnya ketika orang itu menyatakan, “aku sudah membaca banyak karya sastra, karena itu aku sudah tahu segalanya!”

 

Pernahkah Anda membaca artikel atau esai sastra dari kalangan akademisi dan intelektual yang lebih menonjolkan gelarnya yang berderet-deret, khususnya ketika dia menampik atau menyangkal pendapat orang? Tentang hal semacam ini, saya tak perlu banyak komentar. Kiranya pantas kata-kata yang ditujukan kepadanya agar dia membuka mata hatinya. Walaupun mata hati memang sulit terbuka bila seseorang tidak mau belajar melihat perspektif. Manusia yang terbelenggu dalam mental keterjajahan (inlander) akan sulit menggeser pandangan-pandangan lamanya. Ia menjadi amat resisten, egois, angkuh, yang seringkali generasi milenial menjulukinya sebagai “sastra pendendam”.

 

Sedangkan sastrawan yang bijak, ia tak ragu mengakui dirinya sebagai manusia pembelajar atau penuntut ilmu tiada batas. Dia semakin terlatih menghadapi sang waktu, melewati ujian demi ujian. Kadang dia mendapatkan guru sastra (mursyid) yang baik dan pandai, tetapi tidak menutup kemungkinan dia akan menemukan guru sastra yang menjengkelkan dan menyesatkan.

 

Tetapi, sebagai seorang pencari ilmu, kedua jenis manusia itu dianggap sebagai “ladang ilmu” yang semakin memperkaya wawasan demi melangkah ke masadepan. Pada gilirannya, ia akan melahirkan karya sastra yang baik dan cemerlang, bukan sastra pendengki yang hanya ditujukan pada satu-dua orang, tetapi bagi kemajuan peradaban dan kemaslahatan umat manusia.

 

 

Irawaty Nusa. Peneliti pada program Historical Memories Indonesia

 

Photo by Engin Akyurt from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*